Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts

Monday, August 8, 2011

Al-Qarawiyyin Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Universitas-Universitas di awal Peradaban Islam
  • 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
  • 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
  • 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
  • 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
  • 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
  • 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
  • 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
  • 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris.(rpb)

sumber: suara media

Sunday, June 6, 2010

Tidak Ada yang Dapat Menghentikan Israel Kecuali Perang!!!

Black Monday. Setelah terjadinya serangan Israel pada kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang bertolak dari Turki dan mengangkut bantuan sebanyak 10.000 ton serta relawan yang berasal dari 50 negara, hampir semua negara dari berbagai belahan dunia mengecam dan mengutuk keras aksi yang dilakukan tentara Israel yang terjadi pada Senin, 31 Mei 2010. Rakyat Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar pun tidak ketinggalan melakukan aksi pengecaman dengan turun ke jalan dan mendesak pemerintah untuk berperan aktif menyelesaikan permasalahan ini. Banyak orang yang bersimpati dan merasa bahwa aksi brutal Israel tidak bisa lagi dibiarkan dan ditoleransi. Seperti yang dikatakan banyak pihak, misi ini tidak berhubungan dengan masalah pertikaian antar agama. Dr. Huwaida Arraf, yang merupakan Ketua Free Gaza Movement dan koordinator misi kemanusiaan Freedom Flotilla ke Gaza, menegaskan berulang kali bahwa isu Palestina-Israel bukan isu agama, walaupun terdapat keterkaitan agama dengan wilayah itu. Dalam pernyataannya, dia menyatakan bahwa isu ini menyangkut kebijakan yang mendiskriminasi, yang memaksa rakyat Palestina mengakui negara yahudi di wilayah yang semula adalah wilayah Palestina. (Kompas, Rabu, 2 Juni 2010)

Kebiadaban Israel, bahkan terhadap misi kemanusiaan telah membuka mata dan menyita perhatian banyak pihak di seluruh dunia untuk segera menghentikan blokade terhadap Gaza dan aksi brutal terhadap rakyat Palestina. Amerika Serikat sebagai sekutu terdekat Israel pun didesak untuk tidak terus memberikan perlindungannya bagi Israel. Kenyataannya, Amerika tidak mengambil dan mungkin tidak akan pernah mengambil banyak tindakan efektif atas apa yang terjadi. Seperti yang telah dinyatakan oleh Hillary Clinton, menteri luar negeri AS pemerintahan Barack Obama, bahwa Amerika akan selalu melindungi keamanan Israel, dan hal ini tidak tergoyahkan lagi. Seorang pejabat senior Pentagon juga mengkonfirmasikan bahwa komitmen Amerika Serikat selama bertahun-tahun untuk menjaga keamanan Israel tidak akan pernah berubah. Dalam sebuah pidato konferensi tahunan keempat tentang keamanan AS, Michele Flournoy yang merupakan orang nomor tiga yang bertanggung jawab di Pentagon menyatakan, "adalah kepentingan kami untuk berinvestasi terkait keamanan Israel, dan juga merupakan kepentingan kami untuk membantu memecahkan masalah di Timur Tengah." Mengenai tragedi yang terjadi diatas kapal Mavi Marmara, Michele menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan insiden yang tragis dan ia mengatakan bahwa perlu adanya usaha mencari cara untuk memberikan bantuan kepada penduduk Gaza yang terblokade. Pemerintah Amerika selama ini hanya berupaya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Timur Tengah melalui jalur diplomasi. Melalui jalur ini, akan lebih banyak kompromi dan negosiasi yang dilakukan sehingga masalah yang sangat urgen hanya akan diselesaikan dengan solusi-solusi yang tidak memberikan penyelesaian secara keseluruhan.

Banyak orang bersuara untuk menekan negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI agar bersatu menyelamatkan Palestina dan menekan PBB, yang pada prinsipnya, sebagai lembaga perdamaian dunia untuk ikut menangani masalah ini. Sekali lagi, OKI dan Liga Arab pun tidak banyak bertindak. Tekanan-tekanan yang dilakukan oleh negara Islam pun tidak banyak berpengaruh untuk mengadili Israel di Mahkamah Internasional. Negara Arab-Muslim ini pun hanya sibuk mengutuk keras dan mengecam.


Belajar dari Sejarah

Sejarah memberikan pelajaran berharga kepada kita. Keluarnya resolusi PBB ditentukan oleh sikap negara pemilik hak Veto terutama AS. Selama ini banyak resolusi terhadap Israel yang kandas karena diveto AS termasuk resolusi terhadap Israel atas invasi ke Gaza yang menewaskan lebih dari 1300 orang termasuk banyak diantaranya wanita, anak-anak dan orang tua. Sementara dalam kontek kejahatan yang sekarang, AS yang merupakan konco akrab Israel itu hanya mengeluarkan pernyataan basa-basi mengutuknya dan mengecam Israel dengan nada halus. Tercatat sejak tahun 1972 sampai tahun 2009, sudah lebih dari 68 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi israel di palestina diveto amerika. Ini belum termasuk resolusi setelah tahun tersebut plus resolusi terakhir saat israel melancarkan agresinya di gaza. Jadi kembali menyerahkan dan mengharap PBB mengeluarkan resolusi atas kejahatan Israel termasuk di dalamnya tindakan tegas, maka itu adalah sia-sia dan seakan main-main saja, selama AS masih terus mengangkangi keputusan PBB dengan hak vetonya.

Bahkan jika pun resolusi itu berhasil dikeluarkan oleh PBB, apakah akan efektif menindak Israel atas kejahatannya itu? Lagi-lagi sejarah menunjukkan bahwa resolusi PBB itu seakan hanya efektif diberlakukan terhadap negeri-negeri islam namun melempem dan tumpul terhadap Israel. Sejak berdirinya Israel sudah melanggar lebih dari 85 resolusi PBB, namun tidak ada satupun tindakan tegas dijatuhkan terhadap Israel. Maka lagi-lagi sejarah dengan gamblang mengatakan resolusi PBB tidak akan berarti apa-apa. Karena itu menggantungkan tindakan tegas dan hukuman terhadap Israel kepada PBB dengan resolusinya adalah sia-sia. Kenyataan itu sudah diketahui oleh semua orang. Para penguasa dan politisi pasti sangat mengetahui kenyataan itu. Lalu kenapa sesuatu yang sudah jelas tidak efektif itu masih saja diupayakan dan dijadikan sandaran harapan?

Hal yang sama ketika mengharapkan dilakukannya investigasi independen dan kredibel terhadap serbuan Israel atas kapal kemanusiaan itu. Pertanyaannya, akankah itu bisa melahirkan tindakan tegas terhadap Israel? Perlu diingat tahun 2009 lalu terjadi invasi Gaza oleh Israel, invasi yang lebih brutal menewaskan lebih dari 1400 orang dan banyak diantaranya wanita, anak-anak dan orang tua, dan melukai lebih dari 5000 orang. Setelah itu dilakukan investigasi oleh sebuah komite yang diketuai oleh Goldstones dan menghasilkan laporan dan rekomendasi yang dikenal Goldstone Report. Goldstone Report benar-benar membuktikan Israel melakukan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap korban-korban yang tak bersalah. Namun toh laporan itu ditolak oleh pemerintah Amerika dan dicegah untuk diajukan ke Dewan Keamanan PBB dan Pengadilan Internasional. Akhirnya investigasi dan laporan itupun menjadi lembaran kertas tidak berguna. Maka sejarah kembali mengatakan dengan keras dan tegas bahwa investigasi meski dilakukan atas perintah DK PBB sekalipun tidak akan melahirkan tindakan tegas terhadap Israel. Hasilnya pun sering kali kandas dan jika pun keluar maka tidak akan digubris oleh Israel. Pasalnya puluhan resolusi PBB yang sifatnya lebih mengikat dan lebih kuat saja dilanggar dan tak digubris oleh Israel apalagi semua rekomendasi dan keputusan yang lebih rendah dan lebih lemah. Lagi-lagi jalan ini hanyalah sia-sia.

Sama sia-sianya menyeru negara-negara OKI untuk berkumpul dan mengambil tindakan terhadap Israel. Pada juli 2006 resolusi 57 negara anggota OKI kepada PBB tentang kecaman terhadap yahudi israel yang disetujui oleh DK PBB, diveto oleh AS. Artinya 57 negara menghadapi satu negara AS pun tidak mampu. Negara-negara OKI bukannya tidak memiliki kekuatan riil atau kekuatan militer yang cukup untuk menindak Israel. Namun yang ada adalah tidak adanya kemauan untuk menggunakan kekuatan itu dalam menindak Israel. Paling banter yang bisa dihasilkan oleh OKI hanyalah kecaman dan kutukan, tidak lebih. Tentu saja semuanya akan tak digubris oleh Israel. Begitu pula segala upaya diplomasi melalui lembaga-lembaga lainnya.

Sejarah puluhan tahun telah membuktikan, segala upaya diplomasi selalu gagal dalam menindak dan menghukum Israel. Serangan Israel terhadap kapal kemanusiaan dan aktivis di atasnya membuktikan bahwa Israel sama sekali tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Juga menunjukkan bahwa satu-satunya bahasa yang dipahami oleh Israel adalah bahasa perang. Karenanya hanya bahasa perang sajalah yang akan bisa diperhatikan oleh Israel.

Kesatuan Kaum Muslim adalah Solusi!

Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku
Khalifah Abdul Hamid II, 1897)

Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya.
Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina),
karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam.
Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini
dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.
Yahudi silakan menyimpan harta mereka.
Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari,
maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya.
Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku
daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah.
Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi.
Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup

Khalifah Abdul Hamid II, 1902)

Inilah pernyataan Khalifah kaum muslimin sebelum Khilafah Islam dihapuskan oleh laknatullah Musthafa Kamal di Turki tahun 1924. Isi pernyataan ini menggambarkan ketegasan kaum muslimin yang diwakili oleh Khalifahnya dalam memandang wilayah kesatuan kaum muslim.

Sebuah pertanyaan sederhana, jika kita mengamati peta Israel-Palestina, terlihat Gaza terisolasi oleh Israel, Mesir, dan Laut Mediterania. Begitupun Israel, Israel terisolasi oleh Laut Mediterania, Libanon, Yordania, Mesir, Gaza, dan Tepi Barat. Israel tidak mungkin dapat mengisolasi Gaza jika Mesir mau membuka pintu perbatasannya! Lalu sekarang apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan Mesir?
Bukankah Israel pun dikelilingi oleh negeri-negeri dengan mayoritas penduduk Muslim? Lalu kenapa, tidak dilakukan blokade terbalik??! Selamatkan kaum Muslimin di Gaza dan hancurkan Israel yang terus saja melakukan genosida terhadap kaum muslim Palestina!

Inilah yang terjadi ketika kaum muslim terjebak dengan batasan nasionalisme!! Ikatan akidah Islam yang mempersatukan mereka terbatas hanya dengan sekedar garis perbatasan! Jika bukan Khilafah Islam yang akan mempersatukan seluruh kaum Muslimin, menyatukan seluruh kekuatan militer mereka untuk menghancurkan Israel, maka tolong tunjukkan kepada kami solusi lain yang lebih realistis dari ini!!!

Friday, February 19, 2010

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Iran, Tercepat di Dunia

Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Perusahaan itu mengamati adanya "pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya" yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan bahwa standar pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.

"Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan," kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.

Ia mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel. "Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian," tukas Archambault.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang oleh dunia diakui cemerlang dalam bidang sains .

Meski lebih dari 30 tahun diembargo Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklir, kedokteran, penelitian tentang sel dan kloning. Tanggal 2 Februari kemarin, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.

Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit.

Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran. (ln/prtv)

sumber:
www.eramuslim.com

Thursday, July 2, 2009

Kesedihan di HUT Kemerdekaan Somalia 1 Juli

Rabu 1 Juli kemarin merupakan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Somalia yang ke-49 dari penjajahan Italia (1884-1960). Perayaan HUT ini dilakukan di beberapa kota seperti Mogadishu, Galgudud, hingga di Khourtum, Sudan. Bila perayaan HUT kemerdekaan biasanya dipenuhi gegap gempita keceriaan, namun HUT kemerdekaan di Somalia diwarnai darah dan tangisan.

Situs Somaliatoday.net memberitakan, dalam pidato HUT kemerdekaan Presiden Somalia Syekh Syarif Ahmed mengatakan, "Sejarah mencatat, kemerdekaan Somalia dari penjajah Italia bukan karena senjata dan kekayaan Somalia, akan tetapi kemerdekaan itu tercapai karena keiklasan para pejuang dan pahlawan dalam membela agama, negara, dan rakyat Somalia."

Dalam pidatonya Syekh Syarif menjelaskan, 1 Juli merupakan hari kemerdekaan wilayah selatan Somalia dari Italia dan menyatukannya dengan wilayah utara Somalia. Hal ini karena Italia hanya menjajah wilayah Selatan Somalia. Sedangkan wilayah tengah dan utara dijajah oleh Inggris dan Perancis.

HUT Kemerdekaan Diwarnai Darah dan Tangisan
Situs berita Mufakkirah Al-Islami (islammemo.cc) melansir, bahwa hari perayaan HUT kemerdekaan Somalia diwarnai kontak senjata antara partai oposisi bersenjata Al-Hizbu Al-Islami dengan militer pemerintah Somalia.

Terkait bentrokan berdarah ini Televisi Aljazeera memberitakan, bahwa Al-Hizbu Al-Islami melakukan rentetan serangan terhadap militer pemerintah di Mogadishu, sehingga menyebabkan 15 orang tewas dan 40 korban lainnya luka-luka.

Di pihak lain, rakyat Somalia menyambut HUT kemerdekaan kali ini dengan kesedihan. Situs Islamonline.net melansir, seorang perempuan Somalia bernama Aminah Daud (40 tahun) mengatakan, "Perayaan HUT kemerdekaan ini tidak begitu berarti bagi rakyat Somalia, karena hampir setiap hari kami menyaksikan pembunuhan, tembakan roket tanpa arah, dan kontak senjata berkepanjangan antara oposisi dan pihak pemerintah Somalia."

Bila Aminah Daud menyambut HUT kemerdekaan hanya dengan kesediahan, seorang mantan kolonel militer Somalia bahkan menyambutnya dengan tangisan.

Mantan kolonel tersebut bernama Shalad Abdullah. Ia menceritakan segala yang dirasakan rakyat Somalia pada salah seorang wartawan dari media Islamonline. Sambil menangis ia mengatakan, "Lihatlah panggung perayaan HUT kemerdekaan Somalia, telah berubah menjadi hutan rimba yang kejam. Rakyat terlantar dan lari mengungsi. Hanya tinggal orang-orang tua yang menjaga rumah-rumah mereka dari pencuri."

Fenomena ini tidaklah mengherankan, karena data PBB dan Badan Perwakilan Perancis melaporkan, selama 6 minggu terakhir sekitar 300 rakyat Somalia tewas, baik dari pihak militer maupun sipil. Di samping itu, sekitar 125 ribu warga telah meninggalkan Somalia; terlantar di negerinya atau mengungsi ke negara lain. (sn/st/iol/im)

sumber: Eramuslim

Di Afghanistan, Pasukan Asing Akan Kalah


Seorang diplomat top Inggris mengeluarkan pernyataan yang menohok negaranya sendiri dan juga AS. Paddy Ashdown mengatakan bahwa semua pasukan asing yang sekarang tengah menduduki Afghanistan akan kalah.

Menurut Ashdwon, kekalahan itu sudah semakin jelas karena para pemimpin perang Inggris (sekutu) dan AS tidak tahu bagaimana caranya menangani perang Afghan.

“Kami akan kalah,” ujarnya Selasa kemarin (01/07). “Kami sedang bergerak menuju kekalahan dan tentara-tentara kami yang masih muda sekarat (di Afghanistan) karena para politisi tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Paddy Ashdwon pernah menjadi perwakilan Inggris di Bosnia, maka dari itu ia mengetahui pasti karakteristik perang yang sekarang terjadi di Afghanistan.

Menurut Ashdown, kekalahan itu tampak jelas bisa dilihat salah satunya dari tidak adanya kesamaan koordinasi. Saat ini memang konsentrasi pasukan setiap negara berbeda di Afghanistan. Misalnya saja, pasukan tentara Inggris di provinsi Helmand, tentara Belanda di provinsi Oruzgan, tentara Kanadi di Kandahar, Jerman di bagian utara dan pasukan tentara AS di beberapa tempat lainnya.

“Semuanya berada dalam arah yang berbeda, dan itu bahaya atau ancaman terbesar di Afghanistan.” Ujar Ashdown yang pernah menjadi anggota Angkatan Laut Elit Inggris ini.

Sekarang ini, tidak kurang dari 90.000 pasukan asing sudah menduduki Afghanistan. 57.000 di antaranya merupakan pasukan tentara AS, dan Barack Obama, presiden AS akan segera mengirimkan 20.000 tentara tambahan. (sa/agb/hgl)

sumber: Eramuslim

Tuesday, June 30, 2009

Palang Merah Internasional: Jalur Gaza Kritis

Selasa, 30/06/2009 17:32 WIB
Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan, enam bulan setelah agresi Israel, kehidupan satu setengah juta warga Gaza masih sangat memprihatinkan. Mereka masih hidup dibawah blokade dan pembatasan yang diberlakukan rezim Zionis.

Blokade yang dilakukan Israel, juga menyulitkan ICRC untuk melaksanakan program rekonstruksi Gaza meski sudah tersedia dana sebesar 4,5 juta dollar AS. Menurut ICRC, rakyat Gaza masih kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, kekurangan persediaan air bersih tidak tersedianya sistem sanitasi dan rumah yang layak untuk tempat tinggal. Ratusan pasien meninggal dan ratusan pasien lainnya dalam kondisi kritis karena ketiadaan obat dan terbatasnya peralatan rumah sakit di Gaza, sementara Israel tidak mengizinkan para pasien itu keluar Gaza untuk berobat.

ICRC mendesak rezim Zionis agar memberi iji masuk bagi truk-truk yang mengangkut berbagai peralatan, pipa-pipa air, bahan bangunan dan kebutuhan dasar lainnya yang diperlukan untuk proses rekonstruksi. Tapi desakan itu tidak digubris Israel.

Dalam laporannya, ICRC menyatakan tingkat kemiskinan warga Gaza sudah mencapai level yang membahayakan, yang berdampak pada makin bertambahnya jumlah anak-anak Gaza yang menderita gizi buruk. Sampai saat ini, ribuan orang di Gaza tidak punya rumah karena rumah mereka hancur akibat agresi brutal Israel bulan Januari lalu. Lebih dari 70 persen dari 1,5 juta warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Satu dari sembilan keluarga di Gaza pendapatannya kurang dari 250 dollar per bulan.

ICRC mengingatkan dunia internasional untuk lebih memperkuat tekanannya pada Israel agar segera mengakhiri blokade di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama dua tahun dan membuat warga Gaza menderita. Organisasi Palang Merah Internasional itu menegaskan, bantuan kemanusiaan saja tidak cukup untuk meringankan penderitaan warga Gaza karena yang terpenting adalah penyelesaian politik yang tegas dari pihak-pihak yang terkait terhadap kebijakan kejam Israel untuk memulihkan kembali kehidupan warga Gaza. (ln/IMEMC/iol)

sumber: Eramuslim

Wednesday, February 25, 2009

Menlu Inggris Terlibat Pengiriman Senjata ke Israel

Menteri Luar Negeri Inggris, David Miliband dituding terlibat dalam kasus pengiriman senjata Israel

Hidayatullah.com--Sebagaimana dilansir situs Koran The Guardian, Inggris, sejumlah pengacara yang mewakili setidaknya tiga puluh keluarga Palestina menyampaikan gugatan kepada mahkamah agung Inggris.

Dalam gugatannya tersebut para pengacara menuding Miliband dan dua pejabat tinggi departemen luar negeri Inggris melanggar ketentuan internasional karena terlibat pengiriman senjata ke Israel.

Selain itu, para penggugat mengklaim pemerintah London terus melanjutkan pengiriman bantuan kepada Tel Aviv meski rezim ini digugat melanggar HAM dalam serangannya ke Gaza.

Phil Shiner, salah seorang pengacara pembela keluarga Palestina mengatakan, Inggris dalam hal ini terikat peraturan internasional oleh karena itu London harus secepatnya menjalankan ketentuan tersebut.

Sebagaimana diketahui, pembataian warga Gaza oleh Zionis-Israel ditengarai atas bantuan senjata-senjata canggih Negara Barat.

Fakta menunjukkan, Israel menerima bantuan persenjataan dari sekutu-sekutunya termasuk Perancis, Inggris dan terutama Amerika Serikat (AS).

Data pemerintah Inggris menunjukkan, angka penjualan senjata negara kerajaan itu ke Israel meningkat setiap tahunnya.

Sebelum ini, Nick Clegg-anggota parlemen dan pimpinan kelompok Liberal Demokrat di Inggris-pada tahun 2007, menyetujui ekspor senjata senilai 6 juta poundsterling ke Israel. Dan pada tahun 2008, nilai penjualan senjata Inggris ke Israel meningkat hampir 12 kali lipat. Dalam tiga bulan pertama tahun 2008, Inggris telah mengekspor senjata senilai 20 juta poudsterling ke Israel.

Clegg mengatakan, dalam konflik Gaza, ekspor senjata ke Israel bisa dikatakan sudah melanggar syarat-syarat yang diberlakukan Uni Eropa dalam hal ekspor senjata ke negara lain. Karena Israel telah menggunakan senjata-senjata itu untuk melakukan agresi ke wilayah negara lain.

Ia mengingatkan agar pemerintah Inggris menghentikan ekspor senjatanya ke Israel, apalagi Israel juga menggunakan senjata-senjata yang sudah dinyatakan terlarang oleh dunia internasional seperti bom kluster dan bom yang mengandung zat kimia fosfor putih. [cha, berbagai sumber)

sumber: Hidayatullah

Monday, February 2, 2009

Solusi Krisis Palestina: Masihkah Berharap Pada Obama?

Setelah melakukan agresi militer selama 22 hari, pada 18 Januari 2009 lalu, Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak. Sebelumnya, Menlu Israel, Tzipi Livni membuat kesepakatan dengan Menlu AS, Condolezza Rice yang menyatakan dukungan AS terhadap Israel. Pertemuan tersebut menegaskan genjatan senjata pihak Israel dan komitmen AS untuk memastikan penghentian pasokan senjata bagi HAMAS.

Obama, Harapan Baru bagi Penyelesaian Konflik Israel-Palestina?
Gencatan senjata dilakukan Israel sebelum pelantikan Obama sebagai Presiden resmi AS. Masyarakat Negeri-Negeri Muslim memberikan harapan yang cukup besar pada Presiden baru AS ini dalam mewujudkan perdamaian di Palestina. Akan tetapi, mereka mungkin cukup kecewa karena dalam pidato pembukanya, Obama tidak menyinggung masalah Israel-Palestina.
Bukankah hal itu wajar saja? Sebagai kepala Negara adidaya tentu saja Obama akan lebih mementingkan kepentingan dalam negerinya. Ditambah lagi, ia harus menyelesaikan permasalahan besar di bidang ekonomi Negaranya. Akan tetapi, jika kita termasuk orang yang berharap pada Obama untuk menyelesaikan konflik ini, kita perlu mengamati kebijakan luar negeri yang dibuat Obama seperti yang diberitakan dalam situs www.barackobama.com:

BARACK OBAMA AND JOE BIDEN’S PLAN TO STRENGTHEN THE U.S.-ISRAEL RELATIONSHIP
• Ensure a Strong U.S.-Israel Partnership
• Support Israel’s Right to Self Defense
• Work towards Ending Hamas Rocket Attacks
• Work towards Two States Living Side by Side in Peace and Security:
He will encourage the strengthening of the Palestinian moderates who seek peace and work to isolate Hamas and other extremists who are committed to Israel’s destruction.
Support Foreign Assistance to Israel
• Work towards Two States Living Side by Side in Peace and Security:
… He will encourage the strengthening of the Palestinian moderates who seek peace and work to isolate Hamas and other extremists who are committed to Israel’s destruction.

Sudah sangat jelas keberpihakan pemerintahan Obama terhadap kepentingan Israel. Jalan damai yang direncanakan oleh Obama tentu tidak terlepas dari tiga hal.
Pertama, pengakuan terhadap eksistensi Israel sebagai negara.
Kedua, pelucutan senjata pejuang Palestina, dan
Ketiga, penghentian perlawanan dari pihak Palestina.

Obama pun mengamini bahwa apa yang dilakukan oleh Israel adalah bentuk pertahanan diri. Padahal, permasalahan utama konflik di Palestina adalah keberadaan Israel itu sendiri yang dengan cara yang tidak berprikemanusiaan merampas tanah Palestina dan mengusir penduduknya. Apa yang dilakukan para pejuang di Palestina—yang Obama sebut sebagai ekstrimis—adalah bentuk jihad defensif atas penyerangan yang dilakukan oleh aggressor Israel.

Yang dilakukan Obama justru bukan mendorong dunia untuk menghentikan peperangan, tetapi justru untuk melucuti persenjataan Hamas.

Gencatan senjata yang dilakukan Israel sejatinya bukan merupakan penghentian peperangan di bumi Palestina, akan tetapi justru meredam isu kejahatan yang dilakukan Israel dan mencegah penyatuan kekuatan militer di Timur Tengah untuk membantu Palestina menyerang Israel.

Walaupun genjatan senjata dilakukan Israel, tetapi Israel masih melakukan penutupan jalur masuk ke Gaza yang dapat memancing pihak Hamas melakukan serangan roket kepada Israel, sehingga dapat menjadi legitimasi Israel untuk menyerang balik Hamas. Gencatan senjata yang kini dilakukannya pun tidak diikuti dengan penarikan seluruh pasukan militer Israel.

Jika yang dilakukan Israel adalah untuk menghancurkan kekuatan militer Hamas, lantas mengapa Israel pun memblokade bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, menghancurkan pusat bantuan makanan PBB, menghancurkan sumur minyak Palestina, bahkan melarang untuk menguburkan jenazah.

Masihkah kita berharap pada Obama ? Apakah kita akan berharap penyelesaian konflik ini melalui perjanjian damai yang notabene terus menguntungkan pihak Israel (misalnya Perjanjian Anapolis 2006,dll)?

Monday, January 12, 2009

Kilas Balik Perang Salib

Oleh: Fahmi Amhar

Islam adalah lawan dari kekufuran. Yang dipandang sebagai musuh adalah kekufuran, dan berarti kekuatan yang mendukung implementasi, mempertahankan atau mempromosikan sistem kufur. Kalau kekufuran diibaratkan kemiskinan, maka Islam tidak memerangi orang-orang miskin an sich, namun memerangi kemiskinan, dan berarti orang-orang yang membuat kemiskinan terus terjadi, yaitu para tiran, orang-orang yang terus berbuat kerusakan (fasiq) dan orang-orang yang berlaku tidak adil (dhalim).

Perlawanan Islam terhadap kekufuran dan permusuhan kekufuran atas Islam akan terus terjadi. Rasulullah Saw mendapat informasi dari Allah SWT serta beberapa perintah sebagai berikut:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Qs. al-Baqarah [2]: 190)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Qs. al-Baqarah [2]: 193).

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau”. (Qs. an-Nisaa’ [4]: 75).

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Qs. al-Anfaal [8]: 60).

Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa peperangan dalam kerangka jihad bisa terjadi karena (1) kaum muslimin diserang; (2) untuk melenyapkan fitnah (kekufuran) dan permusuhan; (3) demi membela yang tertindas –tanpa melihat agama mereka.

Untuk antisipasi peperangan melawan kekufuran yang selalu mungkin terjadi itu, kaum muslimin diwajibkan menyiapkan segala kekuatan yang dapat menggentarkan musuh, baik itu kekuatan iman, ilmu pengetahuan dan teknologi, malliyah, jasmaniyah, organisasi militer dan juga kekuatan dakwah. Seluruh potensi ummat diarahkan kepada peperangan tiada akhir melawan kekufuran, melawan sesuatu yang menghalangi missi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan missi muslim sebagai khalifatul fil ardh.

Dalam hubungannya dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, meski terdapat ayat:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti millah mereka… (Qs. al-Baqarah [2]: 120).

Namun ayat ini tak pernah dipakai kaum muslimin sebagai legitimasi memerangi Yahudi dan Nasrani, hanya karena agama mereka. Justru sebaliknya, kaum Yahudi dan Nasrani di dalam Darul Islam menikmati perlindungan yang tidak mereka temukan di negara lain. Namun perang salib, yang lama maupun yang baru, justru makin menunjukkan bahwa kekufuran adalah musuh kita, sampai kiamat tiba.


Fakta-fakta Perang Salib

Tidak terlalu mudah mendapatkan gambaran yang akurat tentang peristiwa Perang salib yang sesungguhnya. Beberapa penulis sejarah menggambarkannya berbeda-beda, dan sebagian tampak berlebih-lebihan. *1)

Kesulitan lainnya adalah mengenai nama-nama tempat atau kerajaan dalam buku-buku sejarah lama yang tidak dilengkapi peta, sehingga sulit dipastikan nama dan lokasinya di zaman modern ini, apalagi bila buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa yang berbeda-beda, misalnya dari sumber berbahasa Arab atau Latin.

Pada tulisan ini sengaja dicari fakta-fakta dari sumber-sumber Islam dan non Islam, agar didapatkan keseimbangan informasi, terutama mengenai kondisi front masing-masing.
Secara keseluruhan perang salib berlangsung selama hampir dua abad, dengan momen-momen penting sebagai berikut:

Pada sinode di Clermont Perancis, Paus Urbanus II (1088-1099) memulai inisiatif mempersatukan dunia Kristen (yang saat itu terbelah antara Romawi Barat di Roma dan Romawi Timur atau Byzantium di Konstantinopel). Kebetulan saat itu raja Byzantium sedang merasa terancam oleh ekspansi kekuasaan Saljuk, yakni orang-orang Turki yang sudah memeluk Islam.

Ketika terasa cukup sulit untuk mempersatukan para pemimpin dunia Kristen dengan ego dan ambisinya masing-masing, maka dicarilah suatu musuh bersama. Dan musuh itu ditemukan: ummat Islam. Sasaran jangka pendeknyapun didefinisikan: pembebasan tempat-tempat suci Kristen di bumi Islam, termasuk Baitul Maqdis. Adapun sasaran jangka panjangnya adalah melumat ummat Islam. Pasukan salib tidak berencana membunuh Khalifah. Yang mereka rencanakan adalah membunuh Islam, menghapus khilafah dan menghancurkan ummat yang melindunginya dan hidup untuknya. Apa artinya seorang Khalifah jika lembaga Khilafah tak ada lagi? Apa yang bisa dikerjakan Khalifah jika ummat yang dipimpinnya tewas semua? (Qs. Ali-Imran [3]: 169).

1096 – serangan salib pertama diberangkatkan untuk merebut Yerusalem. Pada 1099 pasukan di bawah Gottfried von Bouillon merebut Yerusalem. Mereka mendirikan negara-negara salib, yakni negara-negara boneka di wilayah-wilayah yang diduduki tentara salib.

Namun karena kelemahan Byzantium dan perpecahan di kalangan muslim sendiri, negara-negara boneka ini berkembang sebagai negara-negara latin yang feodalistis dan tirani, di mana seluruh penduduk yahudi dan muslim dihabisi.

Pada serangan salib kedua (1147-1149) pasukan salib berusaha merebut wilayah-wilayah di sepanjang pantai laut tengah, baik yang dikuasai muslim maupun bukan, seperti misalnya wilayah Athena, Korinthia dan beberapa pulau-pulau Yunani. Ini menunjukkan bahwa serangan salib sebenarnya tidak spesifik ditujukan hanya kepada ummat Islam, karena memang kekufuran sebenarnya musuh seluruh manusia –hanya saja ummat Islam adalah penghalang terbesar bagi kekufuran itu.

Serangan salib ketiga (1189-1192) terjadi setelah Sholahuddin al Ayubi berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syria. Pada 1171 Sholahuddin berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang merupakan separatisme dari Khilafah di Bagdad, dan mendirikan pemerintahan Ayubiah yang loyal kepada Khalifah. Pada 1187 al-Ayubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Serangan salib ketiga ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Eropa yang paling terkenal: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I Lionheart dari Inggris dan Phillip II dari Perancis. Namun di antara mereka ini sendiri terjadi perselisihan dan persaingan yang tidak sehat, sehingga Friedrich mati tenggelam, Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Phillip bergegas kembali ke Perancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan.

Serangan salib keempat (1202-1204) terjadi ketika pasukan salib dari Eropa Barat ingin mendirikan kerajaan Norman (Eropa Barat) di atas puing-puing Yunani. Paus Innocentius III menyatakan pasukan salib telah murtad (excommuned). Di Konstantinopel permintaan-permintaan tentara salib menimbulkan perlawanan rakyat, yang dibalas tentara salib dengan membakar kota itu serta mendudukkan kaisar latin serta padri latin. Sebelumnya, kaisar dan padri Konstantinopel selalu yunani. Tahun 1212, ribuan pemuda Perancis diberangkatkan dengan kapal untuk bergabung dengan pasukan salib, namun oleh kapten kapal mereka justru dijual sebagai budak ke Afrika Utara! Reputasi pasukan salib dan respek atasnya sudah semakin pudar.

Serangan salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inquisisi dan berbagai aturan anti yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan “raja Yerusalem” ini hanyalah “formalitas idealis”, tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de facto Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayubi.

Serangan salib keenam (1228-1229) dipimpin oleh kaisar Jerman Freidrich II. Sebagai “orang yang dimurtadkan” (excommuned) dia berhasil merebut kembali Jerusalem. Paus terpaksa mengakui dia sebagai raja Yerusalem. Sepuluh tahun kemudian Yerusalem berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin.

Serangan salib ketujuh (1248-1254) dipimpin oleh IX dari Perancis yang telah dinobatkan sebagai “orang suci” oleh Paus Bonifatius VIII. Meski di negerinya Ludwig dikenal sebagai penegak hukum yang baik, namun ia memimpin sebuah organisasi yang amburadul sehingga justru tertangkap di Mesir.

Di bawah Paus Gregorius X (1274) dan juga setelah jatuhnya Konstantinopel (1453), perang salib pernah diserukan kembali, namun tak pernah dimulai. Sejak perang salib keempat, perang ini sudah jatuh popularitasnya.

Sementara itu, tanpa di bawah lambang pasukan salib, pada 1236 Cordoba pusat Daulah Islam di Andalusia direbut kembali oleh pasukan Katolik Kastilia. Pada 1258 Bagdad –pusat Khilafah– dihancurkan oleh Mongol-Tartar. Kedua serangan ini juga punya akibat yang sangat fatal pada sejarah ummat Islam selanjutnya.

Bagi Eropa, hasil positif perang salib yang utama adalah motivasi yang dalam banyak hal ikut memajukan Eropa. Ini karena perang salib mempertemukan bangsa Eropa dengan peradaban yang lebih tinggi (Qs. al-An’aam [6]: 39).

Efek negatifnya adalah secara teologis Eropa makin terpolarisasi. Dunia Kristen Barat makin membentengi diri dan bersikap memusuhi terhadap segala yang berasal dari luar. Dan ini berjalan hingga abad 20. Mentalitas perang salib ini juga pernah digunakan beberapa penguasa Barat untuk menekan kaum protestan. Dan pada Perang Dunia II, Hitler memotivasi pasukannya dalam melawan Rusia sebagai “Perang salib melawan Atheisme”.

Oleh karena itu, bila George W. Bush “kelepasan” menyebut-nyebut perang salib demi minyak, senjata dan ideologi kapitalisme, hal itu tak perlu mengherankan lagi.


Analisis Perang Salib

Al-Wakil menuliskan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang-orang Kristen terjun ke medan perang bertahun-tahun adalah (Qs. Ali-Imran [3]: 165):

1. Penyebab utama perang salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umatnya. Ummat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya mereka kuasai (terutama di Timur Tengah). Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap ummat yang mengalahkannya. Kesempatan itu datang ketika ummat Islam lemah dan kehilangan jati dirinya yang kuat yang sebelumnya meredam perpecahan dan menyatukan langkah. Para tokoh agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan Eropa di dunia Timur. Perang mereka dinamakan perang salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak masing-masing.


2. Perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau setinggi langit.


3. Perlakuan in-toleran orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen dan para peziarah Kristen yang menuju Yerusalem. Orang-orang Saljuk adalah penguasa wilayah Turki yang relatif belum lama memeluk Islam dan belum begitu memahami syariat Islam dalam memperlakukan agama lain.


4. Ambisi Sri Paus yang ingin menggabungkan gereja Timur (ortodoks) dengan gereja Katolik Roma. Paus ingin menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara agama yang dipimpin langsung Sri Paus.


5. Kegemaran tokoh-tokoh dan tentara Kristen untuk berpetualang ke negara lain dan mendirikan pemerintahan boneka di sana.



Bagi para pemimpin Kristen, kondisi waktu itu sangat tepat untuk memulai serangan ke dunia Islam, karena:

1. Ada kelemahan dinasti Saljuk, sehingga “front” terdepan dunia Islam terpecah belah.

2. Tidak adanya orang kuat yang menyatukan perpecahan ummat Islam. Khilafah de facto terbagi sedikitnya menjadi tiga negara: Abbasiyah di Bagdad, Umayah di Cordoba dan Fathimiyah di Kairo.

3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen seperti Genoa dan Venezia, dan ini memuluskan jalan antara Eropa dan negara-negara Timur.

4. Kemenangan Sri Paus atas raja sehingga Sri Paus memiliki kekuatan mengendalikan para raja dan gubernur di Eropa.



Dampak Perang Salib

Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: “Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.”

Lalu apa yang didapat oleh kaum muslimin? Tidak ada. Ummat Islam tak bisa mengambil apa-apa dari satu pasukan yang bermoral bejat*2), yang sebagian besar berasal dari para penganggur dan penjahat. Perang salib menghabiskan assset ummat baik harta benda maupun putra-putra terbaik. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena ummat menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.

Perang salib merupakan salah satu titik balik dari sejarah keemasan ummat Islam. Perang salib yang melelahkan telah ikut berkontribusi atas proses hancurnya Khilafah Abbasiyah, sehingga serangan Tartar atas Bagdad pada 1258 hanya sekedar finalisasi dari proses tersebut.

Menghadapi Perang Salib Baru

Dengan melihat fakta-fakta serta analisis di atas, tampak bahwa dari sisi kaum muslimin perang salib –apapun motif sesungguhnya– selalu hanya berdampak negatif. Namun demikian, jangankan bila diserang, ummat Islam memang harus memikul amanah al-Qur’an untuk melawan fitnah (kekufuran) dan kezaliman. Dan kapitalisme pimpinan Amerika Serikat adalah bentuk termodern dari kekufuran dan kezaliman itu. Sedang Israel di Palestina adalah front terdepan perang tersebut.

Dari sisi orang-orang Barat, istilah perang salib dihadapi dengan beragam. Pada masyarakat Barat yang sekuler, motivasi religius seperti pada abad 11-13 sudah tak ada lagi. Istilah itu hanya dilontarkan sebagai “penyatu opini” bahwa mereka sama-sama terancam oleh Islam (maka dibuat skenario serangan teror 911 atas WTC), seakan-akan perang salib dimulai oleh kaum muslimin, dan secara militer ummat Islam memang masih memiliki kekuatan yang mampu menggoyang kedigdayaan Barat.

Faktanya, dari sisi manapun, ekonomi, teknologi, militer, ummat Islam sekarang ini berbeda dengan ummat Islam abad 11-13, yang masih memiliki khilafah yang berfungsi baik, serta ekonomi dan teknologi yang lebih maju dari Barat.

Faktanya, sekarang dunia Islam terpecah dalam puluhan negara, yang kesemuanya dipimpin oleh para diktator yang membebek pada Barat. Mereka tergantung pada ekonomi dan teknologi Barat. Sedang rakyatnya hidup dengan berorientasi pada budaya Barat dan gandrung mengkonsumsi produk industri Barat.

Kalau demikian apa yang dicemaskan Barat?

Kebobrokan sistem kapitalisme telah nyata, baik berupa kerusakan lingkungan, pemiskinan di dunia ketiga maupun disorientasi kehidupan pada masyarakat Barat sendiri, yang di antaranya tercermin dari peningkatan penggunaan narkoba dan angka bunuh diri. Orang jelata di Barat akhirnya merasakan sesuatu yang tidak benar dan tidak adil pada sistem yang diterapkan atas mereka. Mereka menyadari bahwa sistem itu hanya menguntungkan segelintir kecil elit mereka, yakni para kapitalis serta politisi yang merealisasi tujuan para kapitalis itu secara sah.

Dan tidak ada lagi di dunia ini yang bisa membendung laju kapitalisme seperti itu di Barat. Sampai akhirnya, di dunia Islam muncul gerakan-gerakan Islam yang melawan kekufuran kapitalisme itu, baik karena dorongan aqidah, maupun karena kesumpekan hidup akibat praktek kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Karena itu, yang dicemaskan Barat, atau secara spesifik: yang dicemaskan para kapitalis Barat, tak lain adalah geliat gerakan-gerakan Islam.

Rupanya, meski puluhan tahun sudah khilafah dibubarkan dan sistem kapitalisme diterapkan di dunia Islam, namun selama ummat Islam ini masih ada, dan selama akses kepada sumber-sumber Islam masih dibuka, selama itu pula masih akan bermunculan orang-orang dari ummat Islam ini yang menggeliat untuk bangkit melawan kekufuran, karena kekufuran adalah musuh abadi Islam sejak para nabi.

Sejarah menunjukkan, perang salib-pun akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin, setelah tentara salib berkuasa hampir dua abad. Bagdad-pun demikian, setelah dihancurkan Tartar, akhirnya bangkit kembali. Ini karena ummat Islam masih ada dan dakwah masih berjalan. Berbeda dengan Andalusia, yang ketika inquisisi seluruh muslim dihabisi, sehingga sampai sekarang praktis wilayah itu tidak pernah menjadi muslim kembali.

Karena itu, seandainya perang salib terjadi lagi, maka model yang paling masuk akal adalah model inquisisi. Ummat Islam akan dihabisi, sebab tidak cukup menjadikan mereka sekuler, yang masih berpotensi untuk bangkit kembali.

Untuk itu ditempuh strategi penghancuran dakwah dan penghancuran ummat. Dakwah digilas dengan isu terorisme. Harakah-harakah dakwah yang paling ideologis diserang lebih dulu, walaupun pada akhirnya, yang paling moderatpun akan digilas juga, sebagaimana pengalaman di Bosnia. Sedang penghancuran ummat dilakukan dengan penguasaan total sumber-sumber ekonomi. Maka penguasa manapun yang sulit diajak “kerjasama” akan dihabisi untuk digantikan dengan agen-agen mereka. Beserta tentara dan rakyat yang mendukungnya.

Di sisi lain, kekuatan kapitalisme dioptimalkan untuk membiayai penyesatan opini via media massa, mengorbitkan intelektual yang mendukung mereka (seperti JIL), membiayai partai politik yang sejalan dengannya, melobby penguasa atau tokoh masyarakat agar lunak terhadap mereka, membayar demonstrasi yang mengusung agenda-agenda mereka -sadar ataupun tidak, dan bila perlu membiayai aksi-aksi teroris yang dipandang bermanfaat untuk kepentingannya –baik sadar ataupun tidak bahwa mereka dimanfaatkan.

Menjawab konspirasi ini, tak ada jalan lain bagi harakah-harakah Islam selain lebih merapatkan barisan agar mendapatkan energi yang cukup untuk secepatnya menegakkan kembali Khilafah Islamiyah, karena hanya institusi ini yang akan sanggup menahan “perang salib” tersebut bahkan membalikkannya menjadi jihad fii sabilillah, untuk membuka Roma, sebagaimana nubuwaah Rasul. ( hayatulislam.net )

Catatan Kaki:

1. Ibnu Katsir (dalam [3]: 167) berkata bahwa pasukan Armanus Raja Romawi terdiri dari 35.000 Batrix, dan tiap Batrix mengepalai 200.000 personil kavaleri. Artinya, tujuh milyar personil! Tampak angka ini terlalu dilebih-lebihkan oleh sumber Ibnu Katsir.

2. Pada tentara salib bahkan terdapat suatu “corps pelacur” dari Perancis khusus untuk menghibur pasukan salib yang berbulan-bulan jauh dari keluarga.

Referensi:

1. Imam AS-SUYUTHI (1498): Tarikh Khulafa’. (penerjemah: Samson Rahman). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.


2. IBNU KHALDUN (1332–1406): Muqaddimah. (penerjemah: Ahmadie Thoha). Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000.

Muhammad Sayyid AL-WAKIL (1989): Wajah Dunia Islam dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern. (penerjemah: Fadhli Bahri). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998.

3. Cyril GLASSE: Enskilopedi Islam Ringkas. Jakarta, RajaGrafindo Persada, 1999.


4. Gerhard KONZELMANN (1988): Die Islamische Herausforderung. 5. Aufl. dtv, 1991.


5. Franklin H. LITTELL (1976): Atlas zur Geschichte des Christentums (The Macmillan Atlas History of Christianity). New York: Macmillan Publishing Co.; Deutsche Ausgabe - Brockhaus Verlag, 1989.


6. Werner STEIN (1979): Der grosse Kulturfahr-plan. Berlin: Herbig, 1979.

http://swaramuslim.com/more.php?id=A408_0_1_0_M

Sejarah Konflik Palestina Israel

Tinjauan Kritis Sejarah Komprehensif Palestina
Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Palestina Tanah Yang (Pernah) Dijanjikan
2000 SM - 1500 SM: Ibrahim as. melahirkan Ismail as. (Bapak bangsa Arab) dan Ishak as. Ishak melahirkan Ya’kub as. alias Israel. Ya’kub punya anak Yusuf as, yang ketika kecil dibuang oleh saudaranya, namun belakangan menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika dilanda paceklik, Ya’kub as. sekeluarga atas undangan Yusuf berimigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (bani Israel atau bangsa Israel) membesar.

1550 SM - 1200 SM: Politik di Mesir berubah. Bani Israel dianggap problem, dan akhirnya oleh Fir’aun statusnya diubah menjadi budak.
1200 SM - 1100 SM: Musa as. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di padang Sinai menuju tanah yang dijanjikan, bila mereka taat kepada Allah. Namun saat mereka diperintah memasuki Filistin (Palestina), mereka membandel dan mengatakan:

“Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang-orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. 5:24)

Akibatnya mereka dikutuk dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama Musa as disebut “Yahudi” - menurut nama salah satu marga Israel yang paling banyak berketurunan, yakni Yehuda, dan bani Israel -tanpa memandang warga negara atau tanah air- disebut juga orang-orang Yahudi.

1000 SM - 922 SM: Daud as. mengalahkan Goliath dari Filistin. Palestina berhasil direbut. Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi Nil hingga Efrat di Iraq. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel raya Raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (Nil dan Efrat) dan bintang Daud. Daud diteruskan Sulaiman as. Masjidil Aqsha dibangun.

922 SM - 800 SM: Sepeninggal Sulaiman Israel dilanda perang saudara yang berlarut, hingga kerajaan tersebut terbelah dua: utara bernama Israel beribukota Samaria dan selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.
800 SM - 600 SM: Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah swt. maka kerajaan itu dihancurkan lewat tangan kerajaan Asyiria.

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh. (QS. 5:70)

Hal ini juga bisa dibaca di Bible: Kitab Raja-raja ke-I 14:15, dan Kitab Raja-raja ke-II 17:18.

600 SM - 500 SM: Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Bible Kitab Raja-raja ke-II 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.
500 SM - 400 SM: Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bani Israel kembali ke Yerusalem.

330 SM - 322 SM: Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan Hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa Yunani, dan bukan dalam bahasa Ibrani.

300 SM - 190 SM: Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.
1 - 100: Nabi Isa as. (Yesus) lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yaitu disalib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para rabi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi.

Palestina area bebas Yahudi
100 - 300: Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam serta dipakainya bahasa Arab di kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.
313: Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.

500 - 600: Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang antara Romawi dan Persia.
619: Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan ruhani: Isra’ dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha dan Mi’raj ke langit. Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci-3 ummat Islam, sholat di masjidil Aqsha dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid yang lain selain masjidil Haram dan masjid Nabawi. Masjidil Aqsha juga menjadi kiblat ummat Islam sebelum dipindah ke ka’bah.

622: Hijrah nabi ke Madinah dan pendirian negara Islam (yang seterusnya disebut khilafah). Nabi mengadakan perjanjian dengan penduduk Yahudi di Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.
626: Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (atau perang parit) dan berarti melanggar Piagam Madinah. Sesuai dengan aturan di Kitab Taurat mereka sendiri, mereka dibunuh atau diusir.

Palestina di bawah Daulah Islam
638: Di bawah Umar bin Khattab, seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, muslim maupun non muslim, hidup aman di bawah khilafah. Kebebasan beragama dijamin.
700 - 1000: Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan yang terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.

1076: Yerusalem dikepung tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tapi ajarannya sesat), pada 1099 tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187, sampai Salahuddin al Ayubi membebaskannya, setelah ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …(QS. 13:11)

1453: Setelah melalui proses reunifikasi dan revivitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Bagdad oleh tentara Mongol (1258), khilafah Utsmaniyah di bawah Muhammad Fatih menaklukkan Kontantinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah. 700 tahun lebih kaum muslimin berlomba untuk menjadi mereka yang diramalkan Rasul dalam hadits berikut:

Hari kiamat tak akan tiba sebelum tanah Romawi di dekat al-A’maq atau Dabiq ditaklukkan. Sepasukan tentara terbaik di dunia akan datang … Maka mereka bertempur. Sepertiga dari mereka akan lari, dan Allah tak akan memaafkannya. Sepertiga lagi ditakdirkan gugur sebagai syuhada. Dan sepertiga lagi akan menang dan menjadi penakluk Konstantinopel. (HR Muslim, no. 6924)

1492: Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat ummat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tak cuma diarahkan pada muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, di antaranya ke Bosnia. Pada 1992 raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust 500 tahun sebelumnya.

1500-1700: Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan gereja - negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi modern di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi berikutnya mereka didorong semangat kolonialisme / imperialisme.

1529: Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme / imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 kepungan ini diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.

… yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. (QS. 9:25)

Barat memperalat Yahudi
1798: Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah khilafah.
1831: Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir, dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh nasionalisme.
1835: Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuner Yahudi Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah khilafah.
1838: Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.

1849: Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12000. Pada tahun 1948 jumlahnya sudah 716700, dan pada 1964 sudah hampir 3 juta. 1882: Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

1891: Para penduduk Palestina mengirim petisi kepada khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus”), dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina !! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipengaruhi Inggris. PD-I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.

Zionisme
1896: Theodore Herzl merampungkan sebuah doktrin baru Zionisme sebagai gerakan politik untuk mendirikan negara Yahudi Israel. Mereka mendapat inspirasi untuk “bekerjasama” dengan negara-negara besar (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia) dalam realisasinya. Sebaliknya negara-negara besar itu berkepentingan dengan sumber alam di wilayah itu, dan memerlukan “agen” untuk melemahkan ummat Islam di sana.

1897: Theodore Herzl menggelar kongres Zionis dunia pertama di Basel, Swiss. Peserta Kongress-I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa ummat Yahudi tidaklah sekedar ummat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi ummat Yahudi -walaupun secara rahasia- pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin! Di kongres itu, Herzl menyebut, zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas ummat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenal kembali, bahwa nasib ummat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan ummat Yahudi sendiri. Di depan Kongres Herzl berkata: “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !!!” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada 1948.

1916: Perjanjian rahasia Sykes-Picot oleh sekutu - (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya PD-I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dari khilafah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD-I berakhir dengan kemenangan sekutu. Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD-I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

1917: Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour, memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat ke Inggris untuk menguasai Palestina.

Setelah Hancurnya Khilafah Islam
1924: Mustafa Kemal Ataturk - seorang Turki yang terdidik oleh Free Masonry, menganggap kemunduran khilafah itu karena Islam. Ia merasa jalan keluarnya adalah nasionalisme dan sekularisme seperti yang telah berhasil di Barat. Bersama tentara yang seide, ia merebut kekuasaan dan mengumumkan bahwa khilafah bubar. Dengan itu maka tidak ada lagi ikatan antar ummat Islam sedunia yang akan “take care” bila ada satu bumi Islam jatuh dalam penderitaan. Nasionalisme menggantikan solidaritas Islam (ukhuwah Islamiyah).

1938: Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD-I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (Endlösung). Ratusan ribu dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke USA). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD-II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor berita di dunia.

1944: Partei buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “Membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana”. Kondisi Palestina memanas.
1947: PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.

1948 14 Mei: sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel, melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dll. Palestinian Refugees menjadi tema dunia. Namun Israel menolak existensi rakyat Palestina ini, dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dengan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris, maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

Setelah Negara Israel Berdiri
1948 2 Desember: Protes keras Liga Arab atas tindakan USA dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Bana mengirim 10000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri, IM bisa kudeta. Akibatnya, tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
1952: Para perwira Mesir di bawah Jamal Abdul Nasser melakukan kudeta terhadap Raja Farouk.

1953: Harakah Islam Hizbut Tahrir berdiri di Yerusalem dengan tujuan mengembalikan kehidupan Islam ketengah masyarakat dan membentuk khilafah Islam yang menerapkan sistem Islam dan membebaskan seluruh dunia dari penghambaan kepada selain Allah. Metode yang ditempuh dalam membentuk khilafah adalah dakwah untuk merubah opini masyarakat.
1956: Nasser menasionalisasikan terusan Suez. Hal ini membangkitkan harga diri pada bangsa Arab, sehingga tak sedikit yang kemudian “memuja” Nasser.
1956 29 Oktober: Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez.

1964: Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestina Liberation Organitation). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan ummat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional.

1967: Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syiria selama 6 hari dengan dalih pencegahan. Israel berhasil merebut Sinai dan jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena informasi dari CIA. Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menhan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia di udara.

1967 Nopember: Dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang enam hari, pengakuan semua negara di kawasan itu dan penyelesaikan secara adil masalah pengungsi Palestina.
1969: Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua komite eksekutif PLO dengan markas di Yordania.

1970: Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari USA, maka akhirnya Raja Hussein mengusir markas PLO dari Yordania. PLO pindah ke Libanon.

1973 6 Oktober: Mesir dan Syiria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasa Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu USA. Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma “siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan USA”. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
1973 22 Oktober: Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.

Ditipu sejak Camp David
1977: Pertimbangan ekonomi (perang memboroskan kas negara) membuat Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa berkonsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena politiknya ini, belakangan Sadat dibunuh (1982).

1978 September: Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai USA. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. Namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan USA sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tak menguntungkan Israel.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti keinginan mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

1979: Ayatullah Khumaini memaklumkan Revolusi Islam di Iran yang menumbangkan rezim korup pro Barat Syah Reza Pahlevi. Referendum menghasilkan pembentukan Republik Islam, yang salah satu cita-citanya adalah mengembalikan bumi Palestina ke ummat islam dengan menghancurkan Israel. Iran mensponsori gerakan anti Israel “Hizbullah” yang bermarkas di Libanon.
1980: Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerusalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.

1980: Pecah perang Iraq-Iran selama 8 tahun. Perang ini direkayasa oleh Barat untuk melemahkan gelombang revolusi Islam dari Iran. Negara-negara Arab dipancing fanatisme sunni terhadap Iran yang syiah. Iraq mendapat bantuan senjata yang luar biasa dari Barat.

1982: Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran atas batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena veto USA. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.

Intifadhah
1987: Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.
1988 Desember: USA membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui existensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB no. 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

1990 Agustus: Invasi Iraq ke Kuwait. Arafat menyatakan mendukung Iraq. Terjadi lagi perpecahan antar Arab. Perang ini juga direkayasa Barat untuk melemahkan Iraq, yang setelah perang dengan Iran arsenalnya dinilai terlalu besar dan bisa membahayakan Israel. Dan Barat sekaligus bisa lebih kuat menancapkan pengaruhnya di negera-negara Arab. Pemerintah diktatur di negara-negara Arab ditakut-takuti dengan “Islam fundamentalis”.

1991 Maret: Presiden USA George Bush menyatakan berakhirnya perang teluk-II dan membuka kesempatan “tata dunia baru” bagi penyelesaian konflik Arab-Israel.Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.

1993 September: PLO-Israel saling mengakui existensi masing-masing dan Israel berjanji memberi hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (=tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras dari pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian. Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

1995: Rabin dibunuh oleh Yigal Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan muslim yang sedang sholat shubuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Dengan ini diharapkan usaha perdamaian yang tidak adil itu gagal. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai)”.

1996: Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina. Palestina agar tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu / menciptakan konstelasi baru (pemukiman di daerah pendudukan, bila perlu perluasan ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru. USA tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di USA terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” jadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela bahwa USA “jalan sendiri” tanpa “bicara dengan Eropa”.

Khatimah
Negara Israel adalah kombinasi dari sedang lemahnya ummat Islam, oportunisme Zionis Yahudi serta rencana Barat untuk mengontrol bumi dan ummat Islam.

Di Palestina berhasil didirikan negara Yahudi setelah sebelumnya ummat Islam berhasil diinflitrasi dengan pikiran-pikiran yang tidak islami, sehingga dapat dipecah belah bahkan sampai dilenyapkan khilafahnya.

Nabi berkata: Kunci Timur dan Barat telah ditunjukkan Allah untukku dan kekuasaan ummatku akan mencapai kedua ujungnya. Telah kumohon kepada Rabbku agar ummatku tidak dihancurkan oleh kelaparan maupun oleh musuh-musuhnya. Rabbku berkata: Apa yang telah Ku-putuskan tak ada yang bisa merubahnya. Aku menjamin bahwa ummatmu tak akan hancur oleh kelaparan atau oleh musuh-musuhnya, bahkan jika seluruh manusia dari segala penjuru dunia bekerja bersama-sama untuk itu. Namun di antara ummatmu akan ada yang saling membunuh atau memenjarakan. (HR Muslim no. 6904)

Karena itu baik strategi Zionis maupun Barat adalah menimbulkan permusuhan di kalangan ummat Islam sendiri. Namun sementara itu sesungguhnya Zionis atau Barat sendiri juga saling bersaing demi kepentingannya. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat.

Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (QS. 59:14)

Yang jelas, sang perampok Israel tidak bisa diusir dalam kondisi ummat Islam dewasa ini. Terlebih dahulu mereka harus menata aqidah dan menegakkan khilafah. Bukan PLO dan bukan negara-negara Arablah yang akan membebaskan kembali Palestina dan Yerusalem, namun ummat Islam bersama khilafahnya yang berhak melakukan tugas mulia itu, serta (insya Allah) memenuhi salah satu nubuwwat Rasulullah berikut ini:

Tidak datang hari Kiamat, sebelum kamu memerangi kaum Yahudi, hingga mereka lari ke belakang sebuah batu, dan batu itu berkata: “ada orang Yahudi di belakangku, datanglah, dan bunuhlah” (HR Bukhari Vol. 4 Kutub 52 no. 176 dan HR Muslim no. 6985)

Nubuwwah ini sepertinya baru akan terjadi di zaman “total digital”, yang baru akan tiba, di mana rumah kita, sejak dari pintu hingga tong sampah, semua “ber-chip”, dan bisa berkomunikasi dengan manusia.