Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?
Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"
Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?
Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"
UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?
Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.
KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI
Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.
Thursday, August 15, 2013
Thursday, July 18, 2013
Tuesday, April 2, 2013
Tuesday, May 1, 2012
Thursday, November 17, 2011
Diary HATI ed. November : Satu Upaya Nyata Memantik Perubahan
Seorang tokoh reformasi ditawarkan revolusi, ia menjawab: “Rakyat Indonesia sudah terlalu banyak menderita. Revolusi akan memperparah keadaan mereka”. Ketika seorang tokoh radikal ditawarkan reformasi: “Masyarakat kita sudah sangat korup. Hanya revolusi yang bisa menyembuhkannya.”
Terlepas reformasi atau revolusi yang ditawarkan, yang perlu dijawab dulu adalah pertanyaan menggelitik ini: ngapain cape-cape melakukan perubahan? Mungkin ini pertanyaan dari para orang yang terlanjur berada di comfort zone, mereka yang sudah terlalu nyaman dengan kehidupan pribadi masing-masing dan tidak merasa ada something wrong around them. So, berubah untuk apa?
Berharap hal ini tidak melanda kebanyakan mahasiswa ITB yang terlalu asyik dengan dunia akademiknya, UTS, UAS, praktikum, buat laporan, tugas, dll, sehingga amat melenakan yang membuat dirinya autis dengan dunianya sendiri. Mengingat obrolan dengan teman dari Tiben, salah satu unit kajian di ITB juga, tantangan yang sama-sama dihadapi sesama unit kajian adalah, menghadapi mahasiswa-mahasiswa ITB yang sulit diajak berpikir. Tepatnya diajak berpikir di luar dunia akademik. Ironis jika itu menimpa kita semua. Katanya kita adalah putra putri terbaik bangsa. Sangat ironis, karena kita diharapkan menjadi calon-calon pemimpin bangsa. Semoga ini tidak hanya jadi mitos dan kebanggaan yang berlebih saja. Bagaimana kita akan memimpin bangsa menjadi orang-orang garda terdepan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, tapi saat menjadi mahasiswa saja, kita enggan untuk terlibat lebih jauh berpikir apa masalah bangsa ini dan mengkaji solusi apa yang bisa ditawarkan atas permasalahan bangsanya. Mungkinkah harapan institute terbaik bangsa ini untuk melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa ini masih bisa diwujudkan atau cukup institute ini memproduksi robot-robot pekerja yang mudah disetir oleh pemimpin-pemimpinnya yang banyak main mata dengan pihak asing dan berkhianat pada rakyatnya?
Ketika kembali ke pertanyaan, untuk apa melakukan perubahan? Dengan penuh kesadaran, mudah menjawabnya, kita butuh perubahan, teman! Karena saat ini (cobalah tengok sedikit saja ke luar kampus ganesha, atau nyalakan tv mu untuk sekejap saja melihat berita, intiplah koran, atau jika Koran sangat tak mungkin bertatapan dengannya, masih ada waktu buka internet kan walau hanya untuk update status?) kita akan menemui negeri ini tengah berkubang dalam lumpur masalah. Jadi melakukan perubahan bertolak dari menyadari ada masalah menuju solusi. Berawal dari realita fakta yang terpuruk beralih ke realita yang diinginkan. Inilah filosofi dari masalah itu sendiri, ketika das sein (yang terjadi) tidak sesuai dengan das sollen (yang seharusnya).
Selanjutnya untuk menawarkan solusi macam apa yang hendak ditawarkan atas permasalahan bangsa yang dihadapi, hal ini amat terkait dengan diagnosis terhadap penyakit yang tengah diidap, baru selanjutnya menawarkan solusi obatnya. Jadi jangan langsung loncat dari memandang satu masalah langsung mencari solusinya tanpa dipahami betul apa akar masalahnya. Perlu pengkajian dan melihat pola masalah untuk menemukan solusinya.
Agar ini tidak hanya teoritis belaka, kita ambil contoh untuk me-refresh ingatan kita terkait permasalahan bangsa ini. Oleh karena salah satu yang menjadi perhatian ITB adalah energi atau SDA, ambillah kasus keberadaan PT. Freeport Indonesia di pulau emas Papua. Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700 km). Dan untuk memastikan proses penghisapan emas ini dari bumi Papua ke AS ini berjalan lancar dan tidak ada yang menganggu, Koran The New York Times telah melakukan investigasi berbulan-bulan dan berhasil mendapatkan laporan perusahaan Freeport yang menunjukkan bahwa pada 1998-2004 perusahaan tambang emas dan tembaga menghabiskan dana US$ 20 juta atau sekitar Rp 200 miliar untuk personel TNI dan Kepolisian RI.
Belum lagi tentang Exxonmobile. Menurut Marwan Batubara, tokoh muslim yang getol membuka aib sumberdaya Indonesia yang dikeruk AS, porsi bagi hasil Exxon dan pemerintah ditetapkan sebesar 100 : 0. Artinya, pemerintah sama sekali tidak memperoleh bagi hasil, karena seluruh keuntungan produksi gas yang dihasilkan Natuna merupakan hak milik Exxon selaku kontraktor. Alasannya, eksploitasi D-Alpha Natuna membutuhkan investasi biaya yang besar dan biaya pemisahan CO2 sangat tinggi. Sedangkan potensi penjualan gas saat itu masih rendah. Karena itu, bagian 100% keuntungan bagi kontraktor dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Lalu bagaimana dengan California Texas (Caltex) yang di Riau, entahlah betapa sumberdaya bangsa ini sudah dipreteli satu persatu.
In baru membicarakan secuil yang dihadapi permasalahan bangsa! Terlihat ada masalah besar dalam politik pengelolaan sumber daya alam dimana SDA dengan mudahnya digadaikan atau bahasa kerennya diprivatisasi ke pihak asing. Akibatnya pemerintah tertatih-tatih mengais-ngais untuk mengumpulkan sumber dana APBN untuk membiayai sistem pendidikan misalnya, atau kesehatan, kebutuhan pokok masyarakatnya. Ujung-ujungnya rakyatnya sendiri yang dipalaki untuk membiayai hidupnya sendiri dengan membayar pajak atau atas nama gotong royong. Lantas apa gunanya negara? Hanya sebagai penjual aset-aset bangsa ini kepada pihak asing? Inilah ciri khas bahwa yang tengah diterapkan di negeri ini sistem Kapitalisme dimana semuanya diukur dengan uang. Hanya yang memiliki uang / modal (capital) lah yang berkuasa dan dapat memenuhi kebutuhannya. Inilah adegan tragis di negeri Kapitalis.
Inilah nasib malang negeri ini. Seluruh permasalahan saling terkait antar bidang seperti lingkaran setan dan sangat kompleks mencakup berpuluh-puluh juta orang yang bermasalah. Ini artinya negeri ini tengah menderita permasalahan sistemik. Jelas bahwa yang menjadi akar dari permasalahan bangsa ini adalah diterapkannya sistem Kapitalisme dalam kehidupan bermasyarakat. Maka perubahan yang diinginkan dan solusi yang ditawarkan pun harus dalam tataran sistemik, inilah yang kami tawarkan, sistem Islam. Sistem yang menerapkan seluruh aturan Sang Pencipta bumi dan langit beserta seluruh isi di antara keduanya termasuk manusia. Dengan penuh kesadaran kami memahami Islam diturunkan ke bumi tidak hanya mengatur masalah ibadah dan akhlak, tetapi juga mengatur seluruh sistem kehidupan manusia. Ini lah maksud Islam sebagai agama sekaligus memenuhi syarat menjadi sebuah ideologi yang khas. Terbukti pernah membangkitkan negara Islam-Daulah Khilafah Islamiyah yang kekuasaannya meliputi 2/3 dunia dan mampu tegap berdiri slama ± 1300 tahun.
Lantas upaya nyata apa untuk memantik perubahan?
Dalam filosofi perubahan, untuk mengubah tingkah laku seseorang, tak ayal yang pertama harus dilakukan adalah mengubah pemikirannya dahulu. Seseorang baik disadari atau tidak, setiap melakukan sesuatu atas dasar pilihan yang dihasilkan dari proses berpikir. Kamu mau membaca sampai akhir buletin ini atau tidak tergantung perepsi kamu ketika membaca buletin ini menarik atau tidak. Seseorang akan menunjukkan sikap yang jauh berbeda terhadap orang, tergantung persepsi kita terhadap orang tersebut. Orang akan senang dan cenderung terhadap orang yang disukai. Namun suatu saat ketika orang yang awalnya disukai itu karena sesuatu hal jadi dibencinya, otomatis sikap yang ditunjukkan akan berputar 1800 menjadi menghindari dan membencinya.
Tetapi tidak serta merta hanya dengan mengubah pemikirannya seseorang bisa langsung berubah tingkah lakunya. Bisa jadi masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa memberi bekas. Karena untuk benar-benar bisa mengubah tingkah laku seseorang, ada faktor penerimaan atas pemikiran yang diberikan dan memuaskan akal, baru ia menjadi pemahaman yang akhirnya akan mendorong perubahan tingkah laku.
Oleh karena itu, diperlukan gerakan pemikiran yang senatiasa menyampaikan pemikiran-pemikiran Islam karena berawal dari pemikiran yang selanjutnya menjadi pemahaman lah seseorang bisa berubah. Perlu dilakukan penyadaran atas realita buruk yang kini tengah dialami, lakukan dekontruksi dan kemudian merekontruksi sistem yang ditawarkan. Inilah yang dimaksud upaya nyata untuk memantik perubahan. Ya, perlu ada gerakan pemikiran untuk menyadarkan masyarakat akan kebobrokan kapitalisme dan menyadarkan masyarakat akan kepentingan penerapan sistem Islam. Menginteraksikan pemikiran hanya ada dengan dua cara yaitu lisan dan tulisan. Jadi jangan remehkan orang yang selalu berbicara perubahan. Atau dengan slogan-slogan no action talk only. Karena mereka melakukan sesuatu yang nyata. Berbicara adalah sesuatu yang nyata yang menjadi jalan seseorang bisa berubah tingkah lakunya. Perlahan memang, namun pasti. Berbicara adalah sesuatu tindakan yang real. Karena kebalikan dari real adalah imajiner. Dan imajiner menurut KBBI adalah hanya terdapat dalam angan-angan (bukan yg sebenarnya); khayal. Jadi selama tidak berkhayal, maka berbicara merupakan aktivitas yang real. Karena kita tidak hanya ngomong saja. Karena kita melakukan apa yang senantiasa kita omongkan.
Gerakan pemikiran ini harus dilakukan oleh setiap lapis masyarakat, baik mahasiswa, pegawai, petani, intelektual, maupun yang lainnya. Semua harus berada dalam gerakan yang terkoordinasi dengan baik. Apakah ini gerakan politik? Tentu saja, karena politik pada realitasnya adalah pengaturan masyarakat. Namun, bukan politik kekuasaan seperti yang sekarang berlaku yang harus kita gulirkan, namun politik dimana masyarakat akhirnya bisa diatur oleh sebuah sistem Islam, sebuah gerakan politik tanpa kekerasan. Ini yang juga HATI lakukan dan yang juga harus kamu lakukan. Sebuah gerakan yang diinspirasi oleh dan merujuk pada gerakan politik Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabat yang mengubah Jazirah Arab yang diliputi kebodohan dan penghambaan kepada makhluk menjadi Arab bahkan dunia yang diliputi cahaya Ilahiah, cahaya Islam.
Bagaimanapun juga, gelombang perubahan sudah dimulai. Dan terus akan diperkuat oleh orang-orang yang menginginkan perubahan hakiki, perubahan Ilahiah. Perubahan sistem Kapitalisme buatan manusia menjadi sistem yang tunduk pada seruan sang Pencipta dan sistem yang memuliakan Allah dan rasul-Nya. Bukan sistem yang menyuruh kita menghormati dan mendewakan manusia, bahkan menuhankan manusia dan uang dengan cara menolak sistem Allah lalu menggunakan aturan manusia. Gelombang ini akan menjawab setiap keraguan akan perubahan itu sendiri.
Wednesday, November 9, 2011
DIKTIF #3 Edisi November

Mengusung revolusi, perlukah?
Dulu, para pahlawan bangsa berjuang hingga meneteskan darah untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Mereka mengharap kehidupan bangsa yang mandiri, bebas dari penjajahan Eropa. Namun, apa yang kini terjadi? Mungkin mereka akan menangis perih melihat nasib bangsa yang dulu mereka perjuangakan. Penjajahan fisik (perang) memang tak lagi bangsa ini hadapi, namun sadarkah bahwa bangsa ini saat ini berada dalam penjajahan dalam berbagai bidang : teknologi, budaya, ekonomi, bahkan penjajahan politik!
Bagi seorang yang berpikir, kemelut yang menimpa bangsa Indonesia akan menghasilkan sebuah kesimpulan, “ Indonesia butuh perubahan!”. Ya, Indonesia butuh perubahan, butuh ada suatu rekayasa sosial di tengah masyarakat hingga akhirnya terwujud perubahan. Butuh suatu perjuangan menuju perubahan itu. Perubahan seperti apa yang dikehendaki? Proses perubahan macam apa juga yang harus digulirkan? Reformasi ataukah revolusi?
Seorang tokoh reformasi ditawarkan revolusi, ia menjawab: “Rakyat Indonesia sudah terlalu banyak menderita. Revolusi akan memperparah keadaan mereka”. Ketika seorang tokoh radikal ditawarkan reformasi: “Masyarakat kita sudah sangat korup. Hanya revolusi yang bisa menyembuhkannya.”
Ada kerinduan untuk menyongsong revolusi. Ada kebanggaan dalam gerakan revolusioner. Ada banyak contoh bangsa-bangsa besar lahir dari puing-puing revolusi. Tetapi, pada saat yg sama, ada ketakutan akan kedahsyatan revolusi. Namun, untuk menjawab kemelut bangsa yang diakibatkan oleh kerusakan sistemik, maka perubahan sistemik adalah jawabnnya. Perubahan sistemik itulah yang dinamakan REVOLUSI.
Lantas, revolusi macam apakah yang ingin kami usung??
Revolusi memang pernah terjadi di berbagai negeri: perancis, rusia, cina, dll atau yang terkini, konon terjadi juga revolusi di Timur Tengah yang dimulai dari Tunisia, Mesir, menjalar ke Libya, Yaman. Namun benarkah mereka tengah dan telah sukses melakukan revolusi??
Jika kita mau jujur, benar memang faktanya tak semua revolusi memberi kehidupan pascarevolusi lebih baik dan sejahtera. Bukan semata-mata proses revolusinya yang salah, namun arah revolusi (visi yg dibawanya yang bertanggung jawab atas kehidupan pascarevolusi yang harus dievaluasi.
Lantas revolusi macam apa yg seharusnya terjadi? The big mega project jenis apa yg dibawa dari misi revolusi tersebut? Adakah dia yang menjadi the true revolutioner?? Siapa dia??
Mari berdiskusi dan temukan jawabannya soon @ Diktif (Diskusi Interaktif) edisi November, tgl 11-11-11 pukul 15.00-17.00@ Selasar labtek 6 lantai 2.
Sunday, October 30, 2011
Mahasiswa dan Transformasi Masyarakat
Mahasiswa dan perubahan nampaknya kedua kata ini merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan kita. Kata mahasiswa selalu disandingkan dengan perubahan atau transformasi. Hal ini menjadi wajar karena mahasiswa memiliki potensi khususyang sulit didapati di elemen lain dari masyarakat. Mahasiswa merupakan perwujudan dari manusia muda, bersemangat, memiliki akses terhadap perkembangan ilmu dan informasi, memiliki idealitas serta pemegang estafet kepemimpinan masa depan. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh apabila mahasiswa menjadi harapan rakyat untuk mengusung perubahan dalam kehidupan mereka. Mahasiswa pun dicap sebagai insan yang peduli dan peka terhadap kondisi masyarakat yang akhirnya bergerak memperjuangkan hak-hak rakyat dan selalu berkobar jiwa pengabdian dalam dirinya. Dalam bahasa sederhana, mahasiswa mendapat sebutan sebagai pihak yang senantiasa ingin berkontribusi. Masihkan label itu ada pada mahasiswa? Semoga.
Pergerakan mahasiswa dalam mengusung perubahan haruslah diawali dengan penginderaan terhadap realita kehidupan di sekitar mahasiswa, Ini adalah langkah awal sebelum kita, mahasiswa mengambil kseimpulan untuk mengambil langkah perubaha Beranjak dari realitas kehidupan kita, tentu saat ini kita akan sepakat bahwa kondisi bangsa kita masih dalam keterpurukan. Bagaimana tidak, di Negara inimarak terjadi korupsi, kolusi, dan mafia peradila. Itu belum termasuk masalah kemiskinan yang menimpa rakyatnya, jumlah orang miskin menurut data BPS masih 30,02 juta jiwa. Di sisi lain, pemerintah juga terus menambah utang. Padahal sekadar untuk membayar bunga utang saja, pada tahun 2011 menguras lebih dari Rp 100 triliun dana APBN. Makin menyedihkan karena sumber daya alam (SDA) Indonesia yang seharusnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia, sekitar 90% kekayaan migas dan 75 % kekayaan tambangnya dikuasai asing. Di bidang pendidikan, jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta. Dari jumlah itu, ada sekitar 2,7 juta siswa SD dan 2 juta siswa SMP terancam putus sekolah. Dengan demikian, jelas bahwa ada realitas buruk yang harus diubah, termasuk oleh kita mahasiswa.
Sebagai agen dan pelaku perubahan, tentulah kita harus memahami akar dari permasalahan yang kita hadapi saat ini, mulai dari masalah perut yang belum semua rakyat Indonesia terpenuhi kebutuhannya, masalah pengelolaan SDA yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, masalah ekonomi yang sampai saat ini banyak rakyat yang tidak sejahtera hidupnya, masalah korupsi yang melembaga di berbagai lapisan birokrat. Lantas apakah akar masalah yang mendera negeri ini???
Bila ditelaah secara jernih, dari masalah impor misalnya, Indonesia mengimpor garam, padahal garis pantai yang dimiliki negri ini merupakan garis pantai yang terpanjang di dunia, apakah ada yang kurang dari sumber daya alam kita? Ataukah pengaturannya yang bermasalah? Ditengah krisis yang melanda rakyatnya, SDA yang seharusnya bisa memakmurkan kehidupan rakyat malah dikuasai oleh perusahaan asing. Beban yang seharusnya ditanggung oleh Negara seperti pendidikan, penyediaan kebutuhan pokok, penyediaan energi, dan kesehatan kini menjadi tanggungan masyarakat yang mungkin dilakukan dengan dalih gotong royong dengan rakyat. Subsidi dicabut dengan alasan memberatkan APBN. Semua ini mengindikasikan bahwa proyek kapitalisasi dan liberalisasi telah sukses di negeri ini. Inilah ciri-ciri dari Negara kapitalis liberal, sebuah negara yang memberikan kedaulatan pada modal. Siapa yang memiliki modal yang kuat, dialah yang bisa berkuasa. Siapa yang memiliki modal, dialah yang sejahtera. Sebuah negara yang tidak mengindahkan bagaimana Tuhan melakukan pengaturan kehidupan bermasyarakat, sebuah negara sekuler. Islam yang notabene adalah agama mayoritas bangsa ini tidak lagi dipahami sebagai way of life, tidak diadopsi oleh negara dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Begitulah, sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Negara kita dibawah sistem kapitalisme-liberal yang nyata.
Jika kita telah memahami akar masalah yang dihadapi adalah masalah yang sistemik menyangkut sistem pengaturan kehidupan secara keseluruhan, maka perubahan yang selayaknya mahasiswa usung adalah perubahan sistemik. Betul, problem yang kita hadapi adalah problem sistemik, yaitu problem sosial yang meluas dan kompleks bukan problem individu yang dapat diselesaikan hanya dengan memperbaiki diri setiap individu-individunya. Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya pada QS Thaha : 124 “Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Kehimpitan yang menimpa kita saat ini, merupakan buah dari berpalingnya kita dari peringatan dan seruan-seruan Allah yang telah memberikan seperangkat sistem kehidupan yang sempurna dalam mengatur seluruh kehidupan manusia. Tidak diterapkannya sistem kehidupan yang didasarkan pada aturan Allah dan Rasul-Nya telah nyata membawa negara ini dalam keterpurukan. Rakyat Indonesia terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan.
Oleh karena itu, pergerakan yang selayaknya diusung oleh mahasiswa adalah pergerakan massif menuju penerapan sistem kehidupan Islam yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Sistem kehidupan yang terjamin tidak akan salah dalam mengatur hidup manusia, sebab sistem ini bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengetahui baik dan buruk. Sistem inilah yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Bukti layaknya sistem ini mengatur kehidupan masyarakat telah terbentang dalam sejarah umat manusia selama berabad-abad ketika Islam diadopsi oleh negara. Ya, bukti ini terbentang dalam realitas kekhilafahan Islam. Indonesia adalah salah satu wilayah yang pernah merasakan keberkahan hidup dalam sistem Islam..
Dalam memperjuangkan kehidupan Islam ini, tentunya kita harus mencotoh kepada perjuangan Rasulullah saw sebagai suri tauladan kita. Rasulullah saw mengubah masyarakat jahiliyah dimana sistem kehidupan Islam tidak diterapkan disana menjadi masyarakat Islam yang menerapkan Islam seluruhnya. Rasulullah bersama para sahabatnya secara terkoorinir mengubah pemikiran masyarakat yang dulu diliputi kebodohan dengan menyeru mereka pada Islam dan melakukan pembenturan pemikiran, mencela sistem kehidupan yang rusak dan sesat saat itu. mengubah suka dan bencinya masyarakat berlandaskan kecintaan kepada Allah semata, hingga akhirnya pertolongan Allah datang dengan siapnya masyarakat Madinah untuk menerapkan aturan Islam diseluruh aspek kehidupan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat ini adalah perubahan pemikiran di tengah masyarakat, perubahan tanpa sedikitpun tindak kekerasan.
Bagaimana dengan kita? Tidakkah kondisi yang ada pada bangsa kita ini adalah kesempatan emas yang disediakan oleh Allah SWT bagi kita mahasiswa, untuk mengambil bagian dalam perjuangan yang mulia yang pantas kita teteskan darah untuknya? Kawan, ini saatnya kita ikut berkontribusi mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan akibat sistem kapitalis-sekuler menuju sistem kehidupan Islam sebagai konsekuensi dari Aqidah yang telah kita yakini yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamiin)
Wallahu’alam bisshawab.
Nia Kurniati Fi '10
Sunday, March 29, 2009
Mempertanyakan Kembali Demokrasi
Sebuah Pengantar Kajian Demokrasi Female HATI
“In a democracy, it is NOT truth that matters; it IS public relations”
“But my dear Crito, why should we pay so much attention to what
‘most people’ think?”
—Socrates, in Plato’s CRITO (ca. 390 B.C.)
Aku dan demokrasi.
Bandung, Maret 2009.
Dalam keresahan dan himpitan berbagai pertanyaan,izinkan aku berbagi. Aku ingin mengisi “celah” di kepalamu. Bukan apa-apa, tuk sekedar informasi … menambah dialektika...walau kuharap ia kan menjadi awal sebuah revolusi. Yah, paling tidak menjadi motivasi padaku sendiri, untuk terus bertanya dan mencari.. lebih dalam tentang demokrasi.
***
Pentas demokrasi Indonesia kini kembali semarak. Jalanan kian penuh dengan spanduk-spanduk yang berisikan kampanye para caleg dengan segala gaya dan bahasa visualnya. Tak hanya itu, janji-janji lisan hingga kontrak politik pun dibuat. Masyarakat kembali bisa berharap akan adanya perbaikan sistem yang ada saat ini. Melalui sebuah sistem, yang dengannya negeri ini dihargai oleh Sang Negeri Adidaya sebagai negara pengimplementasi demokrasi. terbaik ketiga di dunia.
Di balik hingar bingar 2009 ini, sebuah pertanyaan muncul: Apakah sebenarnya demokrasi itu? Seberapa berpengaruh dan seberapa pentingnya ia, hingga saat ini demokrasi benar-benar dianggap laksana virtue, suatu nilai agung yang sudah “dianggap” benar dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Seperti itukah demokrasi?
Bahasa adalah rasa, begitu pula nilai yang dirasakan ketika mendengar kata ‘demokratis, pas’, Di benak kebanyakan dari kita, kata demokratis, yang identik dengan demokrasi, berhasil memiliki konotasi dan rasa positif… bukan begitu? Mari bandingkan, jika kita mendengar “suatu keluarga yang otoriter”, “pemerintahan yang diktator”, “pribadi yang sewenang-wenang”, tak perlu ditanya lagi, hati kita akan ‘menolak’ dan memberikan konotasinya negatif bagi kata-kata tadi. Dalam alam bawah sadar, kita dengan mudah membangun dikotomi: demokrasi vs kesewenang-wenangan atau demokrasi sebagai solusi atau otoriterisme.
Merujuk pada aspek epistemologi, kombinasi kata demos (rakyat) dan kratos (aturan) sepertinya bisa menjadi awal pengenalan kita dengannya. Di awal kita telah tahu, secara harfiah arti demokrasi adalah the rule of common people. Sederhananya atau dengan bahasa yang lebih akrab, demokrasi menawarkan suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Konsep demokrasi lahir sebagai antitesis dari kepemimpinan tunggal dan kediktatoran seorang manusia atas manusia lainnya. Untuk itu, aturan tidak boleh lahir dari kekuasaan seorang manusia saja. Darinya, lahir sebuah pemikiran, bahwa pemerintahan yang terbaik adalah pemerintahan yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat. Implikasinya, aturan-aturan yang dibuat pun harus merepresentasikan keinginan masyarakat. Sedangkan tidak mungkin mendengarkan seluruh pendapat masyarakat terlebih dahulu untuk menghasilkan suatu peraturan. Dari sini, muncullah istilah keterwakilan. Hukum dan aturan dibuat oleh wakil-wakil yang mereka pilih sendiri. Dengan harapan, aturan dan hukum yang dibuat akan mengakomodasi kepentingan bersama dan menghindarkan dari tirani tunggal dari penguasa tertentu.
Harga yang mahal untuk satu kata: demokrasi!
Tidak hanya itu, mari bayangkan, begitu banyak caleg yang terdaftar, Masing-masing tentunya menginginkan kemenangan .. Artinya mereka harus bersedia untuk melakukan kampanye ‘gila-gilaan’. Bahkan ada seseorang yang begitu nekadnya ingin menjadi caleg, hingga bersedia berutang ratusan juta rupiah ke bank. Apa yang akan mereka lakukan begitu dikukuhkan menjadi wakil rakyat? Mungkinkah pengembalian investasi?
Inikah keterwakilan yang kita harapkan? Inikah wajah demokrasi yang diusung semua orang? Inikah sistem yang kita harapkan mendatangkan solusi?
Apa yang sebenarnya kita harapkan dari demokrasi? Penjaminan atas kebebasan (kebebasan berpendapat, berperilaku, kepemilikan, ataupun beragama)? Terkadang aku berpikir, apakah sebegitu pentingkah kebebasan berpendapat? Pada kenyataannya pun kita tidak pernah mendapatkan kebebasan itu! Karena pada faktanya kita tidak diperkenankan bebas ketika sudah mengganggu kepentingan orang lain. Selain itu, kebebasan berpendapat ini pun seringkali menunjukkan muka dua nya.
Dulu, ketika rasulullah dihina lewat karikatur yang diterbitkan oleh salah satu koran di Belanda, kaum muslimin di seluruh dunia melakukan unjuk rasa, tetapi seingatku tidak ada ungkapan maaf yang terluncur dari pihak pembuat karikatur ataupun penanggung jawab media tersebut. Akan tetapi, hal yang berbeda terjadi ketika New York Post memuat karikatur yang menghina presiden AS terpilih, Barack Obama. Ketika peringatan melayang ke pihak New York Post mereka langsung mengklarifikasi dan menyampaikan maaf mereka. Ataupun ketika kaum muslim mengingikan penerapan syariat Islam, maka isu yang berkembang adalah adanya tirani mayoritas terhadap minoritas, tetapi tidakkah kita berpikir telah terjadi tirani minoritas atas mayoritas?
Begitu pun dengan kebebasan berperilaku, bukankah kita pun masih ingat kasus pelarangan jilbab di Prancis? Ketika seseorang (Seorang wanita terutama) diperbolehkan untuk menggunakan pakaian semini mungkin, tetapi ketika menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, larangan pun kembali melayang.
Begitu pun dengan kebebasan kepemilikan. Benarkah kita memilikinya? Berapa banyak perumahan liar yang digusur atas nama penghijauan kota? Tetapi bagaimana dengan perumahan mewah ataupun mall-mall yang dibangun di daerah resapan air? Apakah kebebasan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki banyak harta dan kuasa?
Para pengusung ide ini mengatakan kecacatan-kecacatan yang terjadi dalam demokrasi terjadi karena kesalahan pelaksanaan saja, tetapi apakah benar demikian? Ataukah demokrasi sudah cacat sedari awal? Terlepas dari hal yang lain, dapatkah demokrasi mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh manusia?
Apakah kita menerima demokrasi ini karena memang keberadaan kita sekarang, di masa demokrasi adalah sebuah nilai yang disetujui sebagai suatu kebenaran dan jalan untuk mencapai win win solution untuk kebaikan seluruh umat manusia? Pernahkah kita berpikir bahwa sejarah masih berputar dan perubahan adalah sebuah keniscayaan? Dulu ketika firaun masih ada, mungkin kebanyakan orang tidak akan bermimpi bahwa manusia akan terbebas dari perbudakan firau. Ketika Arab masih dalam keadaan jahiliyah, kebanyakan orang mungkin tidak berpikir dari negeri ini akan muncul peradaban baru. Ketika tahun 70-80an siapa yang akan berpikir rezim Soeharto akan berakhir dengan keadaan yang sangat gelap. Ataupun kini, disaat demokrasi dianggap sebagai sebuah solusi akankah ia akan abadi? Seperti pendapat Fukuyama bahwa inilah the end of history…
Masih banyak pertanyaanku. Tentu, juga di kepalamu. Namun, justru itulah yang kuharapkan. Agar aku bisa datang kembali. Berbagi pertanyaan dan juga jawaban. Ya, selama demokrasi menyisakan tanya. Hingga ada jawabnya.
He (Socrates) complained that democracy elevates men to positions of authority not as a result of their wisdom or their fitness to govern, but as a result of their ability to sway the masses with empty rhetoric. In a democracy, it is not truth that matters; it is public relations.
[to be continued]
Monday, January 12, 2009
Gaza Bersimbah Darah : Luka Kaum Muslim, Duka Dunia
Gaza Bersimbah Darah : Luka Kaum Muslim, Duka Dunia
Serangan militer Israel terhadap Gaza yang dimulai sejak 27 Desember 2008 lalu kini telah mengakibatkan korban tewas sekitar 900-an orang dan ribuan orang luka-luka. Sudah dua pekan Israel melakukan penyerangan, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda berhenti. Bahkan Israel menyebarkan selebaran di tengah-tengah penduduk Gaza yang mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan serangan yang lebih besar. Gambar mayat warga sipil bergelimpangan, wajah korban anak-anak yang tak berdosa, dan tangisan warga palestina menjadi santapan kita setiap harinya. Kecaman disampaikan oleh berbagai kalangan di seluruh belahan dunia terhadap aksi Israel ini. Pemimpin-pemimpin dunia pun tak lupa menyampaikan kecaman. Hanya kecaman. But… does it work?
Kembali Melihat Sejarah Konflik Israel Palestina
Palestina, sebelum ditaklukan oleh khalifah Umar Ibnu Khaththab pada tahun 637 M berada di bawah kekuasaan imperium Romawi (Byzantium) yang menjadikan Yerusalem sebagai kota Nasrani. Pada akhir abad kesebelas, kekuatan penakluk lain dari Eropa memasuki daerah ini dan merampas tanah beradab Yerusalem dengan tindakan tak berperikemanusiaan dan kekejaman yang belum pernah terlihat sebelumnya. Para penyerang ini adalah Tentara Perang Salib. Akan tetapi, dalam perang Hattin, Salahuddin kembali membebaskan Yerusalem dari tentara Perang Salib.
Pada akhir abad ke-19, Theodore Hertzl membawa zionisme sebagai agenda dunia. Gerakan zionis ini menekankan pentingnya bagi ras Yahudi untuk membangun tanah air mereka sendiri. Pada tahun 1917, akibat kampanye persuasifnya, Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour bahwa "Pemerintahan Yang Mulia memandang pentingnya pendirian di Palestina sebuah tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi… di Palestina."
Salah satu, propaganda yang dilakukan oleh Zionis adalah semboyan "sebuah tanah tanpa manusia untuk seorang manusia tanpa tanah." Dengan kata lain, Palestina, "tanah tanpa manusia" harus diberikan kepada orang-orang Yahudi, "manusia tanpa tanah." Padahal, ketika gerakan Zionis dimulai, orang-orang Yahudi tidaklah "tanpa tanah" dan Palestina pun bukannya tanpa manusia. Rabbi Hirsch, salah satu pemimpin keagamaan terkemuka saat itu berkata, "Zionisme ingin menamai orang-orang Yahudi sebagai sebuah lembaga nasional…. yang merupakan sebuah penyimpangan."
Pada tahun 1897, Theodore Hertzl dalam kongres Zionis dunia pertamanya mengatakan, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi!” Apa yang mereka lakukan untuk merealisasikan mimpinya? Maka Illan Pape, sejarawan Israel, memaparkan bagaimana cara yang dilakukan teroris Zionis-Yahudi untuk mengusir bangsa Palestina dari rumah dan kampung mereka di tahun 1948. “Salah satu cara orang-orang Yahudi untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah dan kampungnya adalah dengan mengepung desa mereka dari tiga arah. Satu arah dibiarkan terbuka. Setelah dari tiga sisi dikepung, orang-orang Yahudi yang bersenjata itu menembaki orang-orang Palestina, siapa saja. Tujuannya adalah untuk menimbulkan ketakutan sehingga mereka, orang-orang Palestina itu, keluar dari rumah-rumah mereka dan meninggalkan kampung mereka. Cara-cara ini biasa dilakukan pada malam hari tatkala orang-orang Palestina tengah terlelap sehingga ketika mereka berlari meninggalkan rumahnya, mereka tidak membawa bekal apa pun. Setelah desa berhasil dikosongkan, maka orang-orang Yahudi itu saat itu juga menduduki wilayah tersebut dan mengklaim tanah itu sebagai tanah milik orang Yahudi. The Homeland.”
Sampai Kapan Palestina Bersimbah Darah?
Jumat pagi, 9 Januari 2009 DK PBB akhirnya mengeluarkan resolusi gencatan senjata. Akan tetapi, Israel tetap melakukan agresinya. Sebelumnya, Pemerintahan Dunia menekan Israel untuk menghentikan serangannya selama tiga jam agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Gaza. Lagi-lagi kesepakatan yang dibuatnya kembali dilanggar. Wilayah pengungsian di bawah naungan PBB pun tak lepas dari serangannya. Dan seperti biasanya, Israel kembali mengambinghitamkan HAMAS. Israel mengatakan HAMAS menggunakan warga sipil sebagai tameng. Akan tetapi, ini sama sekali tidak benar! Berkali-kali Israel mengatakan penyerangan dilakukan terhadap HAMAS, tapi berkali-kali pula serangan mereka diarahkan ke tempat-tempat hunian warga sipil. Melihat banyaknya korban di pihak warga sipil, sampai-sampai seorang paramedis di Gaza mengatakan, “target Israel bukanlah HAMAS, tetapi GAZA!”
Coba kita renungkan sejenak, jika Anda memiliki Rp 10 juta di dalam dompet Anda kemudian seseorang datang mengambilnya. Terjadilah keributan, pencuri itu keras kepala mengakui dompet itu miliknya, sedangkan Anda juga bersikukuh mempertahankan hak Anda Tiba-tiba datang seorang tentara yang hendak melerai perselisihan, akhirnya menyarankan agar membagi dua isi dompet kita. Apakah Anda mau membaginya?
Itulah yang terjadi di Palestina! Dan PBB hadir untuk membagi wilayah itu menjadi dua, wilayah Palestina dan Israel. Sudah sangat nyata, permasalahan di Palestina selama bertahun-tahun disebabkan keberadaan Israel di Negeri itu. Yahudi-Zionis memang menginginkan terwujudnya Israel Raya, serangan-serangan yang dilancarkannya memang ditujukan untuk menghapuskan wilayah Palestina dari muka bumi.
Selama Palestina berada di bawah naungan kekhilafahan Utsmani dulu, negeri ini merupakan negeri dimana tiga agama (Islam, Nasrani, dan Yahudi) bisa hidup dengan damai. Lalu kedamaian ini berubah menjadi tragedi, ketika gerakan Zionis mulai melakukan aksinya. Di bawah kekhalifahan Utsmani, Zionis mendapat kesulitan besar untuk menduduki Palestina. Berbagai cara mereka lakukan. Salah satu tokoh Zionis saat itu, Theodore Herzl membujuk khalifah Abdul Hamid agar mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina dengan harta bermilyaran (diantaranya 150 juta poundsterling untuk khalifah pribadi juga pelunasan hutang kekhilafahan sebesar 33 juta poundsterling). Akan tetapi, simaklah apa yang disampaikan oleh khalifah
“Sesungguhnya, saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah Palestina. Sebab ini bukan milik pribadiku, tetapi milik rakyat. Rakyatku telah berjuang untuk memperolehnya sehingga mereka siram dengah darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan kekayaan mereka yang milyaran itu. Bila pemerintahanku ini tercabik-cabik, saat itu baru mereka dapat menduduki Palestina dengan gratis. Adapun jika saya masih hidup, (meskipun) tubuhku terpotong-potong adalah lebih ringan ketimbang Palestina terlepas dari Pemerintahanku.” Kata Sultan Abdul Hamid II yang ditujukan kepada Theodore Herzl.
Kini perkataan sultan Abdul Hamid menjadi kenyataan. Semenjak hancurnya Daulah Khilafah Islamiyah, Yahudi Zionis berhasil menguasai Palestina lewat bantuan Inggris dan AS. Penguasaan Yahudi-Zionis atas Palestina tidak terlepas dari peran Inggris yang memberikan tanah Palestina pada Yahudi-Zionis lewat Deklarasi Balfour. Sedangkan Amerika, selalu melindungi Israel atas agresi yang dilakukannya terhadap Palestina lewat hak veto AS di PBB, sehingga walaupun Israel melanggar hukum internasional, Israel tetap tidak mendapat tindakan.
“Mereka (muslim) mendiami wilayah yang luas dan sumber daya alam yang kaya. Mereka mendominasi lalu lintas perjalanan dunia. Tanah mereka adalah pusat peradaban dan agama. Mereka memiliki satu keyakinan, satu bahasa, satu sejarah dan satu aspirasi. Tidak ada batas alam yang mampu memisahkan mereka, satu dari lainnya..kalau saja, bangsa mereka bisa tersatukan dalam satu negara, ia akan menggenggam nasib dunia dan memisahkan Eropa dari belahan dunia lainnya. Mengingat betapa pentingnya masalah ini, entitas asing perlu ditancapkan di jantung mereka agar mereka tidak akan pernah bisa bersatu dan menghabiskan energi mereka dalam peperangan yang tidak berkesudahan. Entitas itu juga bisa menjadi alat bagi Barat untuk mendapatkan apa yang sangat dia idam-idamkan.” (Perdana Menteri Henry Bannerman dalam Laporan Campbell-Bannerman terbit di tahun 1907)
Sudah sangat jelas, pendudukan Israel atas Palestina tidak terlepas dari kepentingan barat untuk mencegah munculnya satu kekuatan besar Negara Islam yang akan menghancurkan peradaban barat yang berasaskan kapitalisme. Sadarlah wahai kaum muslimin! Kalian pernah memiliki satu institusi yang menyatukan kalian semua, menjaga kehormatan kalian, melindungi seluruh manusia. Institusi tersebut adalah Daulah Khilafah Islam yang sengaja Barat hancurkan dan kini mereka cegah kemunculannya kembali!
Penderitaan Rakyat Palestina Harus Diakhiri!
Demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia, baik Muslim maupun non-muslim. Presiden Venezuela Hugo Chaves sampai melakukan tindakan nyata dengan mengusir duta besar Israel dari negerinya. Tindakan yang seharusnya membuat penguasa-penguasa di negeri Muslim malu! Mesir, negeri yang berbatasan langsung dengan wilayah Gaza tidak dengan mudah membiarkan bantuan kemanusiaan masuk melewati perbatasan menuju Gaza. Mesir masih menjaga “hubungan” dengan Israel, bahkan sejumlah media mengatakan, sebelum Israel melancarkan serangannya pada akhir Desember, Mesir telah mengetahui lebih awal.
Kita seharusnya tidak boleh melupakan sejarah. Permasalahan di Palestina bukan semata permasalahan kemanusiaan, tetapi ini adalah permasalahan kaum muslimin. Bukankah rasulullah SAW mengatakan bahwasanya kaum muslimin bagaikan satu tubuh, jika salah satu bagian mengalami sakit maka seluruh tubuh juga akan merasakan hal yang sama. Kaum muslimin adalah satu! tidak terputuskan oleh batas teritorial. Kaum Muslimin pun pernah memiliki satu entitas Negara yang menyatukan seluruh potensi yang dimiliki dunia Islam dan menerapkan seluruh hukum Islam di dalamnya, yaitu Khilafah. Khilafah Islam terbukti mampu menjadi kampiun dunia, penjaga nyawa, kehormatan, dan kedamaian dunia semenjak kelahirannya oleh baginda Rasulullah di Madinah hingga keruntuhan khilafah terakhir, khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924.
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”(QS. Al Maidah 50)
Dahaga kaum muslimin di seluruh dunia untuk melakukan jihad membantu saudaranya di Palestina tidak akan terealisasi saat ini, karena Negeri mereka masing-masing sudah sangat melokalisasi permasalahan sendiri-sendiri. Ikatan akidah Islam yang mulia yang menyatukan seluruh umat Islam di seluruh dunia, kini terkalahkan oleh ikatan kebangsaan. Sungguh, jika kaum muslim bersatu tidak akan ada yang berani untuk membunuh seorang pun manusia tanpa hak.
Bersatunya kaum muslimin dalam naungan Daulah Khilafah Islam merupakan solusi permanen untuk permasalahan Palestina. Khalifahlah yang akan mengomando pasukan kaum Muslimin untuk menghancurkan Israel yang dengan pongah membantai penduduk Palestina!
Wallahu’alam bi ash-shawab









+web.jpg)
--hal2+web.jpg)





