Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Sunday, September 14, 2008

diary HATI # 9


MENGGAGAS KEMBALI KONSEP PENDIDIKAN DALAM ISLAM


“Sistem pendidikan nasional di Indonesia masih mewarisi sistem kolonial. Perlu dilakukan perombakan total pada sistem pendidikan nasional agar bisa membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif …..

(Ajip Rosidi, Ketua Umum Yayasan Rancage, dalam penutupan Konferensi Internasional Budaya Sunda I, di Bandung, Minggu (26/8/2001))


LATAR BELAKANG

Benarkah apa yang dinyatakan oleh Ajip Rosidi di atas? Bila benar, apa sebenarnya yang masih diwarisi oleh sistem pendidikan nasional dari sistem pendidikan kolonial? Apa indikasinya? Dan yang terpenting, apa yang musti dilakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang carut marut itu? Perombakan total seperti apa, mengikuti saran Ajip, yang harus dilakukan

Ketika dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Maka, seperti biasa, segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran. Tapi, bila sebelumnya yang dipersoalkan hanya sebatas masalah mata pelajaran atau paling jauh struktur kurikulum, Ajip Rosidi dan mungkin banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan, mempersoalkan hal yang lebih mendasar. Yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial.

Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan.

Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

PENDIDIKAN SEKULER BAGIAN DARI KEHIDUPAN SEKULER

Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.


SOLUSI FUNDAMENTAL

Pendidikan yang materialistik adalah buah dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. Hal ini disebabkan oleh dua hal:

Pertama, paradigma pendidikan yang keliru dimana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik, yakni sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.

Kedua, kelemahan fungsional pada tiga unsur pelaksana pendidikan, yakni:

(1) kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya,

(2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung, dan

(3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif .

Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani.

Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.

Sementara itu, masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media masa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik.

Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diujudkan dengan Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. Sementara pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.

Solusi pada Tataran Paradigmatik.

Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas.

Melihat kondisi obyektif pendidikan saat ini, langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya.)

Solusi pada Tataran Strategi Fungsional

Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama, Kondisi tidak ideal seperti diuraikan di atas harus diatasi.

Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional, yakni: Pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan dimana semua komponen berbasis paradigma Islam, yaitu:

(1) kurikulum yang paradigmatik,

(2) guru/dosen yang profesional, amanah dan kafa’ah,

(3) proses belajar mengajar secara Islami, dan

(4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal.

Dengan melakukan optimasi proses belajar mengajar serta melakukan upaya meminimasi pengaruh-pengaruh negatif yang ada, dan pada saat yang sama meningkatkan pengaruh positif pada anak didik, diharapkan pengaruh yang diberikan pada pribadi anak didik adalah positif sejalan dengan arahan Islam.

Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sinergi pengaruh positif dari faktor pendidikan sekolah/kampus – keluarga – masyarakat inilah yang akan membuat pribadi anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan kehendak Islam.

Berangkat dari paparan di atas, maka untuk mewujudkan lembaga pendidikan unggulan yang dimaksud setidaknya terdapat empat komponen yang harus dipersiapkan guna menunjang tindak solusif sebagaimana yang digagas, yakni penyiapan kurikulum paradigmatik, sistem pengajaran, sarana prasarana dan sumberdaya guru/dosen.

Friday, August 22, 2008

Undangan Diskusi

Saturday, August 16, 2008

Psikologi Hawa...

It’s for you galz, for our team….

Allah menciptakan manusia masing-masing dengan potensi yang sama, akal dan potensi hidup yang sama. Sama-sama dapat merasakan lapar, mengantuk, marah, cinta, maupun menghormati sesuatu yang lebih kuat darinya. Tidak ada yang membedakan antara satu dengan lainnya kecuali ketakwaannya, pilihan jalan yang dipilih seseorang berdasarkan akalnya. Akal yang hanya dibimbing oleh naluriahnya semata ataukah berdasarkan aturan yang telah Allah tetapkan. Aturan Allah bersifat universal untuk seluruh manusia, tanpa pandang bulu. Namun terdapat beberapa fitrah yang ada pada manusia, yang mengakibatkan perbedaan, contohnya yang ada pada laki-laki dan perempuan. That’s why terdapat aturan yang berbeda yang terdapat pada laki-laki dan perempuan…

Kepribadian (syakhsiyah) seseorang ditentukan dari bagaimana ia berpikir dan menyikapi terhadap suatu fakta maupun perkara. Seseorang yang bersyakhsiyah Islam pastinya senantiasa menyandarkan hal ini terhadap hukum Allah semata. Dalam dunia dakwah kaum hawa, di area luar berhadapan dengan tsaqafah dan syakhsiyah asing, namun di area dalam…benturan karakter psikologis yang berbeda bisa menjadi salah satu kendala yang besar, di samping proses pembentukan syakhsiyah. Terutama dalam tim kita…iya kan J

Dalam buku Female Brain tulisannya Louann Brizendine’s, disebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi karakter psikologis seseorang. Di antaranya, bekal fisik (otak dan hormon), pola asuh dan pendidikan, dan pengalaman. Pada fitrahnya ternyata memang perempuan memiliki perbedaan dari segi otak dan hormonal. SEBAGIAN perempuan memiliki wilayah otak: indecision nukleas (a.k.a plin plan), chocolate centre J, jealousy, shopping (kok jelek2 semua ya….!), telephone skill, need for commitment hemisphere, listening, sense of direction neuron PARTICLE. Secara hormonal, amygdala pada perempuan lebih mudah diaktifkan oleh nuansa emosi, memiliki cortex prefrontal (pusat kendali emosi) dan hippocampus (pusat memori emosi) yang lebih besar, dan katanya otak perempuan itu seperti kumparan kawat yang saling berhubungan. Bisa nyimpulin kan, gimana perempuan itu ?

Btw, tapi ini bukan kitab suci yang serba benar, cuma sedikit tulisan Brizendine tentang perempuan. Ini juga bukan menjadi legitimasi kita saat mengedepankan emosi dan perasaan. Cuz kita memiliki panduan baku untuk bersyakhsiyah dan proses berpikir bukan ? Ibroh lain dari buku ini adalah banyak terungkapnya potensi perempuan yang bisa dikembangkan, katanya :perempuan sangat mudah memperhatikan hal detail, terutama menyangkut emosi; multitasking; mudah melihat adanya masalah; ingin berkomitmen; banyak bicara dll…

So galz,, mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa menambah ma’lumat sabiqoh kita tentang seperti apa karakteristik perempuan secara umum. Hopefully, makin empati yak. Pesan terakhir tips untuk menghindari dan mengatasi masalah : 1)Komunikasi, komunikasi, dan komunikasi 2) Stay calm and focus on THE BEHAVIOR, NOT THE PERSON 3) Kembalikan ke tujuan dakwah.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(TQS. Al Ahzab 35)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(TQS. At Taubah 71)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (TQS. An Nisaa 34)

(az-Zahra)

Friday, August 8, 2008

Jaring FH#3


Militansi…

Sudah tingkat akhir kuliah, semua tampak berbeda. Orientasi perkuliahan makin terasa sangat pragmatis dan dangkal. Semua orang sibuk mengejar ambisi mereka, hingga banyak yang mengorbankan idealitas mereka. Banyak yang berguguran…sedih rasanya.

Teringat masa-masa sekitar 5-6 tahun yang lalu. Gejolak semangat aktivis sekolah yang seakan2 akan terus menyala hingga tetes bakar terakhir. Riuhnya mushala akhwat saat dhuha dan dzuhur, semilir angin di masjid atas saat membuat forum2 kajian, rapat2 saat istirahat dan pulang sekolah…walau beda gerakan. Gelombang khimar dan tilawah membudaya dari kelas ke kelas.

Katanya, semakin sedikit sesuatu…bila didera angin yang sama besarnya, akan semakin teruji kekokohannya. Jadi teringat dulu…saat masih benih. Rapat diam2, dikejar2 guru karena baju yang aneh, sebar opini yang ekstrim (katanya!!), liqa2 ilegal (katanya!!)…mungkin itu pandangan orang dulu. Tapi cobaan itu benar2 menempa dan menguji kekonsistenan.

Lantas, setelah lolos uji, menjadi jaminan kekokohan seterusnyakah ?

Aneh…kata orang kampus terbaik,yang melahirkan sosok2 besar di negeri ini, tapi tunduk hanya karena selembar transkrip duniawi. Bukankah di hari akhir kelak kita akan menerima transkrip besar …di tangan kanankah atau di tangan kiri ?

Banyak yang berguguran di jalan dakwah, jalan perjuangan menegakkan kebenaran, apa yang salah ??

Yang berguguran itu..pernahkah terbesit dalam pikiran mereka dulu…mengapa mereka pernah bergerak ? merasa mendapatkan petunjuk memahami ideologikah atau hanya sebatas mendapatkan komunitas ? Atau akibat kekecewaan dan keputusasaan dalam bergerak?

Dalam buku Structuring the Party, digambarkan seperti apa proses terbentuknya gerakan yang shahih. Pertama adalah adanya sel awal yang memiliki perasaan yang peka dan kemampuan berpikir yang tinggi. Dari bekal ini, sel awal akan bergelut dalam memahami ideologi, dan akhirnya akan tertunjuki dengan ideologi itu. Pemikiran ini akan merasuk dan ‘menghantui’ seluruh dirinya. Pembelahan sel kemudian akan dilakukan oleh sel awal ini, demi terwujudnya suatu penyebaran ideologi. Ya…penyatu mereka satu2nya hanyalah ideologi. Bukan yang lain. Bukan kepentingan sesaat, ikatan emosi semata, kekuasaan, materi, dll.

Namun, penyebaran ini bukanlah sesuatu yang sederhana dan tanpa benturan. Ideologi yang diemban oleh orang2 ini bukanlah opini yang lazim ada di masyarakat. Justru bisa dikatakan terasing. Pemikiran yang ada di masyarakat berbeda dengan ideologi ini, walaupun pada hakikatnya perasaan masyarakat masih condong pada ideologi ini. Ibaratnya dalam tubuh manusia, ideologi ini adalah protein asing yang akan merangsang tubuh untuk melakukan proteksi dengan sistem imun untuk mengusir ‘barang aneh’ ini keluar. Jika ideologi belum terkristal benar dalam diri orang2 ini…maka bukan tidak mungkin ideologi ini menjadi kompromis dan akhirnya termasuki dengan zat2 asing. Bahkan bukan tidak mungkin jika ideologi ini kemudian bermutasi menjadi barang lain.

So, dengan benturan yang demikian dahsyat, perjuangan ini membutuhkan orang2 yang kokoh pula, dan bergerak hanya karena ideologi. Orang2 ini adalah orang yang terpilih. Bagaimana tidak ? Pemikirannya mendalam dan memiliki solusi permasalahan yang sangat mengakar dan mendasar. Orang2 ini seperti tidak hidup dalam kondisi kekinian. Namun bukan berarti mereka menjadi orang2 yang terpisah dari masyarakat…seperti halnya para intelektual yang sudah terbutakan pemikiran dan terpisah dari perasaannya. Orang2 ini tidak terjebak dan terbentur dengan tembok dan benteng2 realita. Dia ibarat terbang di alam yang lebih tinggi dan mampu melihat realita masa depan yang harus dicapai oleh umat, yakni mampu melihat kehidupan baru di mana umat akan diubah ke a rah keadaan tersebut. Dalam benaknya, solusi dari permasalahan kini bukan hanya berbicara masalah sekarang, tapi besok dan lusa. Mengubah realita tidak bisa dalam koridor realita atau fakta belaka. Realita hanya dipandang sebagai objek kacamata ideologi. Bukan kacamata itu sendiri. Jika begitu, maka cara pandang yang digunakan adalah pukul rata yang keliru. Standar penilaian akan berubah2 sesuai dengan kepentingan. Inilah yang terjadi di masyarakat kita bukan..?? Betapa berat kerja dari orang2 ini…

Bagaimana cara menjaga agar ‘kacamata’ ini tetap terjaga ? Tidak lain adalah dengan adanya kaidah penjagaan aktivitas yang tetap. Adanya metode baku dalam menentukan target dan tujuan aktivitas, dan terkristalnya ideologi akan menjaga semangat beraktivitas orang2 ini. Dengan adanya charge pemikiran dan reflux tujuan…akan menjaga ideologi di diri orang2 ini untuk menaklukan realita. Terbayang kan jika aktivitas ini terhenti…? Bukan tidak mungkin jika kacamata itu kian berubah, hingga sama seperti yang dipakai masyarakat kebanyakan. Tidak memiliki kaidah berpikir dan tujuan berbuat. Hanya disandarkan pada realita dan sangat individualistis. Masyarakat dipengaruhi oleh keadaan. Sedang orang2 ini harus menjadi subjek peubah.

Target dan tujuan aktivitas orang2 ini haruslah terarah. Disandarkan atas pengawasan yang sangat hati2. Salah dalam menentukan keputusan, memperbesar peluang terjadinya penyusupan pemikiran atau kehancuran dari dalam. Mereka harus jeli dalam menentukan cara (uslub) maupun pola cara (khithah), dengan landasan metode baku yang telah ditetapkan. Jangan sampai upaya penyatuan dengan masyarakat menjadi terhalang akibat ketidakmampuan melihat karakteristik masyarakat. Perubahan cara dan pola cara bukan sesuatu yang dapat melunturkan ideologi yang diemban, selama masih berpegang pada metode baku pergerakan dan pemikiran ideologis tentunya… (az-Zahra)

Friday, August 1, 2008

Jaring FH #2

Krisis Listrik dan Privatisasi Listrik

Ancaman krisis listrik

Wilayah Pulau Jawa dan Bali terancam krisis listrik. Penyebabnya antara lain karena kurangnya pasokan bahan bakar minyak ke PLN. Untuk menandai terjadinya krisis listrik ini, PLN mengadakan “Pemadaman listrik bergilir”. Masyarakat terutama kalangan industri kini dihantui oleh fenomena pemadaman listrik tersebut. Isu lain yang juga disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya krisis listrik adalah kelemahan perencanaan energi Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah memiliki banyak kelemahan, bersifat parsial, dan tak dilakukan secara komprehensif. Isu ini muncul dari keraguan akan alasan kurangnya pasokan bahan bakar, padahal Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alamnya.

Namun berdasarkan penuturan WaPres, penyebab utama krisis adalah lonjakan kebutuhan konsumsi listrik di masyarakat dan pengusaha. Sementara sejak tahun 2000 tidak ada persiapan pemerintah dalam bentuk membangun pembangkit listrik baru. WaPres menyebutkan bahwa krisis ini diakibatkan faktor-faktor seperti cadangan kecil, konsumsi tinggi, serta adanya cuaca jelek. Cuaca jelek mengakibatkan keterlambatan pasokan bahan bakar bagi pembangkit listrik. Hal ini setidaknya dialami oleh PLTU Cilacap.

Langkah yang diambil pemerintah dalam menangani krisis listrik

1. Proyek pengadaan pembangkit listrik 10ribu MW.

Proyek ini digojlok oleh pemerintah sejak dua tahun lalu dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2009. Semua pembangkit listrik baru tersebut akan menggunakan gas dan batu bara sebagai bahan bakar.

Menurut Dirut PLN Fahmi Mochtar, proyek ini akan menjadi jawaban mengatasi krisis kelistrikan yang terjadi saat ini. Proyek 10.000 MW ini akan menutupi kekurangan tambahan daya pembangkit yang terhambat pembangunannya akibat krisis ekonomi lalu. Proyek ini juga dapat mengatasi ketimpangan antara harga penjualan listrik yang hanya Rp626,86 per kWh dengan biaya produksi Rp1.304 per kWh.

Tingginya biaya produksi ini dikarenakan ketergantungan porsi BBM dalam bauran energi primer pembangkit masih tinggi, yakni mencapai 34 persen, namun menghabiskan biaya hingga 78 persen. Dengan dibangunnya proyek 10.000 MW, maka porsi BBM dalam bauran energi tinggal tiga persen yang juga menurunkan konsumsi biaya menjadi hanya 13 persen.

Sebaliknya, porsi batubara pada 2010 akan mendominasi bauran energi primer pembangkit yakni mencapai 67 persen dengan biaya 51 persen.

Rencana pembangunan proyek ini adalah 10 persen penyelesaian tahun 2009, 80 persen 2010, dan 100 persen tahun 2011.

Saat ini, status 10 proyek yang berada di Jawa, adalah sembilan proyek berdaya 6.672 MW sudah menjalani tahap konstruksi dan satu proyek berdaya 600 MW berupa persiapan tender ulang. Status proyek di luar Jawa ada 30 lokasi, sebanyak 18 proyek berdaya 1.506 MW telah menandatangani kontrak pembangunan, tujuh proyek 449 MW telah menandatangani "letter of intent" (LoI), dan lima proyek lainnya 304 MW masih persiapan tender.

Tahun 2009, proyek 10.000 MW yang dijadwalkan beroperasi yakni PLTU Indramayu, Jabar, PLTU Rembang, Jateng, dan PLTU Labuan, Banten.

Masalah yang muncul akibat dari adanya proyek ini diantaranya lamanya waktu jadi proyek sedangkan krisis saat ini sudah melanda. Selain itu, dapat terjadi tumpang tindih lahan terutama dengan lahan hutan. Masalah lainnya yaitu pencairan pendanaan sampai infrastruktur pengadaan batubaranya seperti pelabuhan dan jalan. Untuk mengatasi masalah teknis ini juga dibutuhkan waktu yang panjang.

2. Pemadaman Listrik.

Pemadaman listrik ini merupakan solusi jangka pendek yang dilakukan oleh pemerintah (PLN) sampai negara dapat menangani krisis listrik tersebut. Namun sayangnya, langkah ini dapat membawa dampak menurunnya produktivitas sehingga menganggu pertumbuhan ekonomi.

Pemadaman listrik dianggap sebagai salah satu jalan untuk melakukan pengendalian beban. Total daya pembangkit di seluruh Indonesia saat ini mencapai 29.705 MW, yang terdiri dari Jawa-Bali 22.302 MW dan luar Jawa-Bali 7.403 MW. Sebanyak 24.856 MW di antaranya merupakan milik PLN dengan komposisi Jawa-Bali 19.283 MW dan luar Jawa-Bali 5.573 MW. Sedang, sisanya milik swasta. Beban puncak di Jawa Bali kini sudah mencapai 17.000 MW. Artinya, dengan daya terpasang 22.000 MW, maka cadangan daya pembangkit hanya tersisa 5.000 MW atau hanya sekitar 20 persen. Padahal, suatu negara idealnya memiliki cadangan minimal 30 persen.

Keterbatasan daya pembangkit yang terjadi sekarang ini tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi pada 1998 lalu. Sejak krisis bermula sampai saat ini, pembangkit yang dibangun PLN hanya sekitar 3.000 MW, sementara permintaan listrik mencapai 3.000 MW per tahun. Pemerintah baru berpikir membangun pembangkit pada 2005 melalui program percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW dan sejak 2006 dilaksanakan pembangunannya.

3. SKB lima menteri.

Pemerintah tengah menggodok surat keputusan bersama penghematan energi yang ditandatangani lima menteri yakni Menperin, Menneg BUMN, Menteri ESDM, Mendagri, dan Menakertrans. Inti SKB adalah mengalihkan sebagian jam kerja industri saat puncak pemakaian listrik Senin-Jumat ke Sabtu-Minggu atau hari libur yang terdapat kelebihan 1.000-2.000 MW.

Analisis dan Solusi dari Faisal Basri

Menurut Faisal Basri, krisis listrik sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari, apalagi mengingat Presiden SBY pernah menjadi menteri pertambangan. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga bukan wajah baru di pemerintahan. Purnomo Yusgiantoro sudah lebih dari sewindu menjabat Menteri ESDM. Sebelumnya, ia terlibat dalam penyusunan kebijakan dan bahkan dalam penyiapan proyek pembangkit listrik. Yang pasti, dalam proyek Pembangkit Listrik Geotermal Karaha Bodas. Para pejabat ini tentunya sudah mengenal dengan baik kondisi perlistrikan di Indonesia. Namun seringkali penentu kebijakan ini malah terseret dalam masalah atau bahkan membat masalah dikarenakan masalah benturan kepentingan. Menurutnya, cara-cara yang ditempuh oleh penguasa sudah sedemikian sangat vulgar, baik dalam mendudukkan orang-orang terdekat di jajaran direksi dan komisaris maupun ”intervensi” dalam proses tender proyek pembangkitan ataupun pengadaan.

Krisis listrik ini tentu saja memiliki efek baik itu jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam jangka pendek, krisis listrik akan memperparah persoalan dunia usaha. Persoalannya sekarang adalah bagaimana meredam semaksimal mungkin dampak negatif bagi perekonomian.

Rencana pengalihan hari libur bagi industri sepatutnya dipertimbangkan dengan matang mengingat setiap industri atau usaha memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sedemikian beragam perbedaan dari satu ke lain industri sehingga pengaturan atau regulasi yang cenderung menyamaratakan bisa berakibat sangat kontraproduktif. Sebaliknya, jika pengaturan sangat rinci sehingga mengakomodasikan ciri-ciri khas setiap industri, niscaya efektivitas pengaturan akan sangat rendah.

Cara yang lebih baik ialah dengan menerapkan mekanisme insentif harga. Selanjutnya PLN berdialog dengan kalangan dunia usaha untuk mengetahui pola reaksi atas struktur insentif yang ditawarkan. Jika hasil dari mekanisme ini kurang memadai, baru diajukan instrumen yang lebih keras berupa penalti atau disinsentif.

Seandainya masih perlu langkah tambahan, barulah dilakukan seleksi industri yang akan didorong untuk melakukan perubahan waktu operasi. Kriteria yang digunakan harus jelas. Prioritas pertama yang harus diatur adalah usaha yang memicu konsumerisme. Misalnya, pusat-pusat perbelanjaan besar dan hiburan tutup selama dua hari secara bergantian. Sebagai kompensasi, pada hari Sabtu dan Minggu mereka boleh beroperasi hingga larut malam.

Privatisasi Listrik

Masalah BUMN, termasuk itu listrik (PLN) di dalamnya tidak terlepas dari privatisasi. Salah satu kasus privatisasi listrik adalah pengusaha nasional Chairul Tanjung, melalui Grup Para, yang mulai merambah bisnis pembangkitan listrik. Bersama PT Pertamina, kelompok bisnis tersebut berencana membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) senilai US$1,5 miliar dengan dana yang akan dihimpun dari masyarakat melalui Infrastructure Fund.

Ketiga pembangkit listrik itu adalah Kamojang Unit VI (Jawa Barat), Ulu Belu Lampung, dan Sumatra Selatan dengan total kapasitas yang akan dibangkitkan mencapai 1.060 MW. Bisnis pembangkit listrik ini dipercaya sebagai upaya mengembangkan energi alternatif sekaligus mendapatkan pasar yang cukup besar saat ini.

Harga yang ditawarkan oleh perusahaan patungan Grup Para & Pertamina kepada PT PLN sebagai pembeli adalah US$0,045-US$0,05 per kWh. Harga tersebut mirip dengan harga jual PLTP Darajat di Tasikmalaya, Jabar, yang dijadikan harga patokan penjualan listrik dari pembangkit panas bumi.

Kasus lain adalah kasus yang terjadi pada PLTU Paiton Unit 3 dan 4. Sebenarnya disain awal PLTU Paiton unit #1 s/d #4 merupakan satu paket yang terintegrasi di satu lokasi, baik sarana prasarana maupun kelengkapannya yang notabene semuanya milik PT PJB. Dari fakta ini saja, mestinya pembangunan PLTU Paiton #3 dan #4 diserahkan kepada PT PJB. Tapi, itu tidak dilakukan. Pemerintah kini justru sedang melakukan tender terbatas untuk membangun PLTU tersebut. Anehnya, tender itu hanya diikuti oleh PT Paiton Energy (PT PE) dan PT Jawa Power yang keduanya milik swasta asing, sedang PT PJB yang resmi dan legal mempunyai lahan dengan segala kelengkapan fasilitas pendukung (seperti: Chlorination Plant; Water Treatment Plant; H2 Plant; Coal Handling double conveyor yang membentang dari coal jetty sampai tripper unit 1,2 dan 3,4.; Ship unloader; Oil Jetty; Stock pile & reclaimer hopper.; Intake tunnel termasuk adanya Bus Transmission line 500 kV pada GITET Paiton untuk unit #3 & #4) justru tidak diikutsertakan. Semua aset menjadi aset PT PJB yang bernilai hingga Rp 2,50 trilliun. Artinya, secara teknis PT PJB yang notabene anak perusahaan PLN adalah perusahaan yang paling siap untuk membangun PLTU Paiton unit 3 dan 4.

Sebenarnya usaha menuju privatisasi sektor kelistrikan ini telah berlangsung cukup lama. Itu semua secara yuridis dituangkan dalam UU Kelistrikan. Dengan usaha gigih melalui judicial review, UU itu akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Bila tidak dibatalkan, sekarang ini, ungkapnya, mungkin sudah banyak pembangkit yang dijual kepada swasta. Bukan hanya itu, di sektor ritel (penjualan listrik ke konsumen) juga mungkin sudah dilakukan oleh swasta. Tapi, meski sudah UU sudah dibatalkan, gagasan privatisasi masih saja terus ada. Sekarang ini tengah dibangun sejumlah pembangkit listrik swasta. Menjelang tahun 2010 nanti, Jawa Bali diperkirakan akan kelebihan pasokan listrik hingga 6000 MW. Pada beberapa tahun mendatang, pembangkit swasta akan lebih dominan ketimbang PLN sehingga mereka akan sangat berperan dalam penentuan tarif listrik.

Berikut ini ada beberapa pendapat terhadap status sektor kelistrikan :

1. Monopoli negara.

Bila sektor kelistrikan dimonopoli negara seperti yang terjadi selama ini, PLN sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang mengelola kelistrikan dapat seenaknya menentukan harga dasar listrik per kwh (kilo watt per hour) tanpa ada pilihan bagi konsumen.

2. Privatisasi.

Sebaliknya bila diprivatisasi, listrik sebagai hajat hidup orang banyak akan ditentukan pemodal.

Di sektor kelistrikan, peranan negara tidak dapat disangkal masih dibutuhkan. Besarnya ketimpangan infrastruktur antarkawasan (Barat dan Timur) Indonesia, diharapkan intervensi dominan pemerintah. Pemerataan hasil pembangunan dapat diukur melalui pemerataan penyediaan energi listrik hingga ke pelosok negeri.

Posisi dilematis PLN sebenarnya berpangkal pada pemberlakuan UU No. 20 Tahun 2002 yang disahkan 23 September 2002. UU itu bertentangan secara substansial dengan UUD 1945. Berbeda dengan aturan kelistrikan; UU No. 15 Tahun 1985 yang masih memuat semangat UUD 1945 yang mengakui kepemilikan oleh negara (state ownership), sedangkan UU No. 20/2002, pemilik modal asing dibolehkan melalui pintu kompetisi dan swastanisasi.

Berbeda dengan di Cile, yang telah melakukan privatisasi listrik sejak 1988. Indonesia melakukan korporatisasi listrik pada 1995 dan restrukturisasi pada1998 oleh PLN. PLN sebagai hasil dari proyek nasionalisasi dari perusahaan Belanda pada tahun 1960-an sebelumnya bernama Jawatan Listrik dan Gas, kemudian berubah menjadi Perum (1970-an) hingga perusahaan terbatas (PT).

Saat ini konsumen listrik banyak mengharapkan pilihan penyediaan energi listrik di luar PLN. Pelayanan yang kurang maksimal PLN menjadi alasan umum yang banyak dijumpai di masyarakat. Ketiadaan pilihan (no choice) menyebabkan ketiadaan alternatif sehingga konsumen listrik menggantungkan harapan akan perlunya privatisasi penyediaan energi listrik akibat pelayanan PLN yang banyak dinilai kurang maksimal.

Tak dapat disangkal, fungsi sosial PLN selama ini juga cukup membantu masyarakat ekonomi lemah melalui pemakaian 450 watt.Pilihan privatisasi listrik sebenarnya membawa dilema yang besar. Di saat negara masih krisis, pemerintah yang korup dan swasta yang culas, privatisasi berpotensi mendatangkan masalah baru dalam konstelasi ekonomi-politik di Indonesia.

Sebagai perbandingan, proyek Paiton dengan nilai investasi $US 2,5 miliar, di mark up sedemikian rupa sehingga terjadi penggelembungan dana hingga $US 700 juta.

Selain itu, terdapat kontrak Power Purchasing Agreement (PPA) yang tidak imbang antara PLN dengan swasta. Sering kerusakan pada transmisi yang dikelola PLN dikategorikan sebagai bukan force majeur. Sebaliknya, apabila ada pembangkit milik swasta yang rusak dikategorikan sebagai force majeur.Kondisi ini mencerminkan bahwa terdapat kendala legal formal untuk mewujudkan privatisasi kelistrikan. Masih terdapat pertentangan antara pihak yang pro dan kontra privatisasi listrik.
Peraturan dan perundangan-undangan kelistrikan yang diatur dalam UU No. 20 tahun 2002 memungkinkan listrik diprivatisasikan. Namun aturan konstitusi lebih tinggi kedudukan hukumnya dibandingkan UU. Sementara itu, arus tuntutan ke arah privatisasi semakin kuat, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang melek pengetahuan.

Pertentangan menyangkut tafsiran konstitusi pada akhirnya harus diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi. Penguasaan pemodal terhadap energi listrik komersial dimulai sejak 1882 di New York dan London. Kemudian pada 1886 di Tokyo, Berlin dan Paris.

Kasus California dapat menjadi pengalaman dalam hal privatisasi sektor kelistrikan. Tarif listrik dapat dipermainkan oleh pihak swasta dengan kongkalikong di unit pembangkit listrik. Tujuan utama kongkalikong itu tak lain adalah upaya menaikkan tarif listrik secara sepihak agar mendatangkan keuntungan bagi para kapitalis.

Analisis KAMMI mengenai privatisasi listrik terhadap UUD 1945

Privatisasi yang diajukan oleh pemerintah kepada DPR RI melalui kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) adalah bentuk ketidakberdayaan pemerintah dalam menjalankan amanah UUD 1945, khususnya pasal 33 ayat 2 yang menyatakan bahwa, “Cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Namun, pemerintah dalam hal ini membuat penjelasan yang terlalu ‘politis’ atau ‘mengada-ada’ melalui UU No. 20 tahun 2002 tentang ketenagalistrikan, diantaranya sebagai berikut:

1. Pasal 55 yang menyatakan bahwa, “Penguasaan Negara atas cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara tidak berarti bahwa Negara harus harus memiliki usaha penyediaan tenaga listrik, Tetapi dikualifikasikan sebagai cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dan dikuasai oleh Negara, sesuai amanat pasal 33 ayat (2) UUD 1945. Penguasaan oleh Negara adalah dalam pengertian bahwa Negara mempunyai kewenangan untuk merumuskan kebijakan, mengatur, dan mengawasi penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik dilaksanakan oleh pelaku usaha (BUMN/ BUMD, swasta dan koperasi). Tujuan UU ini bukan liberisasi, akan tetapi terciptanya prinsip-prinsip usaha penyediaan tenaga listrik melalui mekanisme yang sehat agar usaha penyediaan tenaga listrik dapat mandiri secara financial. Dengan prinsip ini, maka sesuai pasal 33 UUD 1945, pemilikan dapat diartikan pemilikan oleh siapa saja dengan pengaturan bahwa usaha yang bersifat monopoli alamiah seperti transmisi dan distribusi diutamakan untuk diselenggarakan oleh BUMN.”

Penafsiran UUD 1945 di depan, telah memposisikan negara sebagai “perantara” policy and rule of the game dalam proses perdagangan listrik antara konsumen (masyarakat ‘rumah tangga’ dan masyarakat ‘industri’), dan penguasa dominan atas sumber tenaga listrik yang mampu mengintervensi kedua belah pihak dalam transaksi jual-beli listrik. Bila dicermati lebih jauh, memang terdapat kontradiksi antara rumusan konstitusi dengan prakteknya. Rumusan konstitusi yang menganut paham sosialisme, dalam prakteknya, utamanya di masa Orde Baru bernuansa kapitalisme. Kapitalisme memberikan peluang yang cukup luas kepada para pemilik modal untuk mengelola BUMN yang satu ini, dan bahkan ke depan diprediksi sebagai penguasa dominan yang menggantikan pemerintah. Karena UU No. 20/ 2002 telah membolehkan pemilik modal asing untuk menguasai dan mengelola ketenagalistrikan ini melalui pintu kompetisi dan swastanisasi.

2. Pasal 56 yang meyatakan bahwa, “Listrik pada dasarnya masuk kategori infrastruktur, namun dalam pengelolaannya dapat dilakukan secara komersial/ bisnis atau non commercial atau non profit/ cost/ center. Kalau dilihat dari sisi energinya, listrik adalah suatu komoditi, tetapi bila dilihat dari sisi jaringan transmisi dan distribusinya, listrik adalah suatu infrastruktur. Atas dasar hal tersebut maka pengelolaan kedua sisi ini berbeda, yaitu untuk energi, penyediaanya dilakukan berdasarkan kompetisi, tetapi untuk jaringannya dilakukan berdasarkan monopoli. Terlepas dari sifatnya sebagai infrastruktur atau komoditi, maka untuk meningkatkan transparansi dan efiseinsi pengelolaan bisnis listrik perlu dipisah dengan pengelolaan misi sosialnya.”

Listrik apakah komoditi ataukah infrastruktur, sesuai dengan UUD 1945, listrik pada dasarnya dikuasai oleh Negara. Namun dalam pengelolaannya, Negara perlu memperhatikan cara-cara pengelolaan yang paling efisien untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks sektor listrik, model pengelolaan dengan pendekatan komersial untuk daerah yang sudah mampu dipandang lebih efisien, sehingga pemerintah dapat memfokuskan pada tanggung jawab membantu rakyatnya yang tidak mampu.

Isi pasal di depan dan penjelasannya telah membuktikan bahwa, pemerintah tidak konsisten dalam menjalankan UUD 1945, sebagai tata aturan yang lebih tinggi daripada UU No. 20/ 2002. Sehingga, pilihan terhadap privatisasi listrik sebenarnya dilema yang besar. Di saat Negara masih krisis, pemerintah yang korup dan swasta yang culas, privatisasi akan berpotensi mendatangkan masalah baru dalam konstalasi ekonomi-politik di Indonesia. Sebagai perbandingan adalah proyek Paiton dengan nilai investasi US$ 2,5 milliar, mark up-nya juga besar, sekitar US$ 700 juta, sementara PLN yang membayar take on pay.

Kendala privatisasi kelistrikan terdapat pada kendala legal formal. Aturan perundang-undangan kelistrikan yang diatur dalam UU No. 20/ 2002 memungkinkan listrik diprivatisasi, tetapi aturan konstitusi yang lebih tingggi kedudukan hukumnya dibanding UU tidak memungkinkannya. Sementara tuntutan ke arah privatisasi semakin kuat, utamanya pada masyarakat perkotaan yang melek pengetahuan. Polemik tafsiran konstitusi pada akhirnya harus diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi.

3. Pasal 8 UU no 20 tahun 2002 menyatakaan bahwa, usaha ketenagalistrikan secara keseluruhan mencakup dua bidang usaha sebagai berikut: 1. usaha penyediaan tenaga listrik dan 2. usaha penunjang tenaga listrik.

Usaha penyediaan tenaga listrik terdiri atas tujuh bidang usaha sebagai berikut: a. usaha pembangkit listrik; b. usaha transmisi tenaga listrik; c. usaha distribusi listrik; d. usaha penjualan tenaga listrik; e. agen penjualan tenaga listrik; f. pengelola pasar tenaga listrik; g. pengelola system tenaga listrik. dan usaha penunjang tenaga listrik terdiri dari usaha jasa penunjang tenaga listrik dan industri penunjang tenaga listrik.

4. Pasal 16 UU no 20 tahun 2002 menyatakan bahwa, ketujuh bidang usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dikemukan dalam pasal 8 ayat 2 UU tersebut, kini harus dilakukan secara terpisah oleh badan usaha yang berbeda.

5. Bahkan, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 17 dan 21 UU itu, usaha pembangkit tenaga listrik dan agen penjualan tenaga listrik, kini harus diselenggarakan berdasarkan kompetisi. Artinya selain akan dipecah secara vertical menjadi tujuh kelomok usaha, usaha penyediaan tenaga listrik pada dua kelompok terakhir ini juga harus dipecah menjadi beberapa badan usaha.

Mencermati rangkaian pasal 8, 16,17, dan 21 UU nomor 20 tahun 2002 tentang ketenagalistrikan tersebut, dapat disaksikan dengan jelas betapa penyelenggaraan sector ketenagalistrikan akhirnya harus membuka pintu seluas luasnya bagi masuknya badan usaha swasta. Pada tahap pertama, sebagaimana yang sudah berlangsung saat ini, kehadiran badan swasta terutama akan sangat terasa pada kelompok usaha pembangkit tenaga listrik. Tetapi pada tahap selanjutnya, kehadiran badan usaha swasta pada kelompok usaha agen penjualan tenaga listrik, tidak dapat dielakkan.

Namun sebagaimana diketahui, walaupun kehadiran badan usaha swasta dan pemisahan unit usaha PLN dalam bidang usaha pembangkit tenaga listrik sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan ini, secara nasional PLN masih tercatat sebagai satu-satunya badan usaha yang memperoleh kepercayaan dari pemerintah untuk menyelenggarakan usaha ketenaga listrikan secra terintegrasi penuh.

Jawabannya sangat jelas. Sesuai dengan penahapan dalam restrukturisasi sektor ketenaga listrikan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah, pada tahap pertama PLN harus dipecah menjadi beberapa badan usaha yang berbeda. Secara vertical, PLN harus dipecah menjadi tujuh bidang usaha, sedangkan secara horizontal, wilayah PLN harus dibagi menjadi dua wilayah: wilayah yang dikompetisikan, dan wilayah yang di non kompetisikan. Pada tahap kedua, penguasaan penuh badan usaha yang berasal dari pecahan PLN dalam bidang usaha pembangkit dan agen penjualan tenaga listrik, harus dipecah lebih lanjut menjadi beberapa unit usaha yang berbeda. Artinya jika saat ini badan usaha telah hadir dalam bidang usaha pembangkit tenaga listrik, maka pada restrukturisasi tahap kedua inilah kelak peluang badan usaha swasta untuk turut serta dalam penyelenggaraan sector ketenagalistrikan harus dibuka seluas-luasnya. Dilihat dari sudut PLN, setelah dipecah secara vertikal menjadi beberapa badan usaha, maka pada restrukturisasi tahap kedua ini pula kelak, privatisasi BUMN yang bergerak dalam bidang usaha penyediaan tenaga listrik akan mulai dilaksanakan. Pendek kata, privatisasi sektor ketenagalistrikan pada akhirnya tidak dapat dielakkan menjadi sebuah proses sistematis untuk memprivatisasi PLN. (Tadzkiya)

Rubrik Baru

Assalamualaykum...
Ssst.. ada yang baru lho di female HATI. Sebuah rubrik yang berisikan hasil kajian internal female HATI. Sifatnya lebih santai namun tetap berisi. Jadi, tunggu aja ya kajian-kajian berikutnya.
Wassalamualaykum...

Thursday, June 26, 2008

Kejayaan Khilafah : Sang Kholifah Sulaiman Al Qonuni

Pemimpin Agung dari Abad XVI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Pemimpin Muslim yang didapuk peradaban Barat dengan gelar ‘Solomon the Magnificient‘ atau ‘Solomon the Great‘ itu adalah Sultan Sulaeman I. Sulaeman pun tersohor sebagai negarawan Islam yang terulung di zamannya. Kharismanya yang begitu harum membuat Sulaeman dikagumi kawan dan lawan. Di masa kekuasaannya, Kekhalifahan Turki Utsmani memiliki kekuatan militer yang sangat tangguh dan kuat.
Sultan Sulaiman pun begitu berjasa besar penyebaran agama Islam di daratan Eropa. Ketika berkuasa, Sulaiman Agung - begitu orang Barat menjulukinya - berhasil menyemaikan ajaran Islam hingga ke tanah Balkan di Benua Eropa meliputi Hongaria, Beograd, dan Austria. Tak cuma itu, dia pun sukses menyebarkan ajaran Islam di benua Afrika dan kawasan Teluk Persia.

Gelar Al-Qanuni yang melekat pada nama besarnya dianugerahkan atas jasanya dalam menyusun dan mengkaji sistem undang-undang Kesultanan Turki Usmani. Tak hanya menyusun, Sultan Sulaeman pun secara konsisten dan tegas menjalankan undang-undang itu. Sulaiman menerapkan syariah Islamiyah dalam memimpin rakyat yang tersebar di Eropa, Persia, Afrika, serta Asia Tengah.

Pantaslah bila Sulaeman dikagumi lawan dan kawan. Ia adalah seorang penguasa kuat yang merakyat. Baginya, setiap rakyat di Kesultanan Usmani memiliki hak yang sama. Tak ada pembedaan pangkat dan derajat. Kebebasan dan toleransi menjalankan kehidupan beragama pun dijunjungnya. Tak heran, jika pada masa kekuasaannya umat Islam serta Yahudi dapat hidup dengan aman dan damai.

Salah satu upaya penting yang dilakukan Sulaeman agar pemerintahannya kuat dan dicintai rakyat adalah dengan mememilih gubernur yang benar-benar berkualitas. Ia memilih gubernur yang mewakilinya di setiap provinsi dengan selektif dan ketat. Popularitas dan status sosial tak menjadi syarat dalam mencari kandidat gubernur. Agar tak kecolongan, ia sendiri yang turun langsung menyelidiki jejak rekam serta kepribadian setiap calon gubernur.

Hasilnya sungguh memuaskan. Setiap gubernur yang dipilih dan dilantiknya adalah sosok pemimpin yang besih dan benar-benar berkualitas. Itulah mengapa, wilayah kekuasaan Usmani Turki yang begitu luas bisa bersatu dan tumbuh dengan pesat menjadi sebuah kekuatan yang sangat diperhitungkan di dunia. Syariat Islam pun bisa dijalankan dengan baik.

Sulaiman pun dikenal sebagai pemimpin yang turut memajukan kebudayaan. Ia mencinta seni dan kebudayaan. Selain menduduki tahta kesultanan, Sulaiman pun dikenal sebagai salah seorang penyair yang hebat dalam peradaban Islam. Pada era kekuasaannya, Istanbul - ibukota Usmani Turki menjelma menjadi pusat kesenian visual, musik, penulisan serta filasafat. Inilah periode yang paling kreatif dalam sejarah kesultanan Usmani.

Sulaiman merupakan putera Sultan Salim I. Dia terlahir pada 6 November 1494 M di Trabzon, kawasan pantai Laut Hitam. Sejak kecil, dia sudah didik sang ayah pelajaran dan ilmu seni berperang serta seni berdamai. Menginjak usia tujuh tahun, Sulaiman cilik dikirim ke sekolah Istana Topkapi di Istanbul.

Di sekolah itu, dia mempelajari beragam ilmu pengetahuan seperti, sejarah, sastra, teologi serta taktik militer. Meski berdarah ningrat dan putera mahkota sebuah kesultanan yang sangat besar, sejak muda Sulaiman sudah sangat merakyat. Sahabat dekatnya justru adalah seorang budak bernama, Ibrahim. Kelak, sahabatnya itu menjadi penasehat yang amat dipercayainya.

Sebelum menduduki tahta kesultanan Usmani, pada usia 17 tahun dia ditunjuk sang ayah untuk menjadi gubernur pertama Provinsi Kaffa (Theodosia). Lalu setelah itu, dia diuji dengan menduduki jabatan Gubernur Sarukhan (Manisa) dan kemudian memimpin masyarakat di Edirne (Adrianople). Delapan hari setelah sang ayah tutup usia, pada 30 September 1520 M, Sulaeman naik tahta menjadi sultan ke-10 Kesultanan Usmani.

Seorang utusan dari Venesia, Bartolomeo Contarini dalam catatan perjalanannya ke Istanbul Turki menggambarkan sosok Sultan Sulaiman. Menurut Contarini, saat itu Sulaiman baru berusia 22 tahun. ”Postur tumbuhnya tinggi, tapi kurus dan kuat serta corak kulitnya lembut,” tutur Contarini. Selain itu, sang sultan digambarkan memiliki leher yang sedikit lebih panjang dan wajahnya yang tipis serta hidungnya bengkok seperti paruh rajawali.

Dia adalah pemimpin yang bijaksana, sangat cinta pada ilmu. Sehingga semua orang berharap banyak dari kepemimpinannya,” imbuh Contarini memuji akhlak Sultan Sulaiman I. Sebagian sejarawan mengklaim pada masa remajanya mengagumi Aleksander Agung. Menurut sejarawan, Sulaiman sangat terpengaruh visi Aleksander dalam membangun sebuah kerajaan yang dapat berkuasa dari Timur hingga Barat.

Masa pemerintahannya terbilang sangat panjang, jika dibandingkan Sultan-Sultan Ottoman lainnya. Selama berkuasa selama 46 tahun, Sultan Sulaeman begitu banyak mencapai kemenangan dalam berbagai peperangan. Sehingga, wilayah kekuasaan Kesultanan Usmani terbentang dari Timur ke Barat.

Kecintaannya pada ilmu pengetahuan diwujudkannya dengan mendirikan Universitas As-Sulaimaniyah. Sama seperti halnya pembangunan masjid Agung Sulaiman, pembangunan perguruan tinggi itu dilakukan oleh arsitek ulung bernama Mimar Sinan. Sultan Sulaiman pun sempat menulis salinan Alquran dengan tangannya sendiri. Kini, salinan Alquran itu masih tersimpan di Masjid Agung Sulaiman.

Sulaiman tutup usia pada usia 71 tahun saat berada di Szgetvar, Hongaria pada tanggal 5 Juni 1566 M. Jasadnya dimakamkan di Masjid Agung Sulaiman yang berada di kota Istanbul, Turki. Kehebatan dan kebaikannya selama memimpin kesultanan Usmani hingga kini tetap dikenang.

(heri ruslan/ Republik online : Senin, 09 Juni 2008)