Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Friday, April 10, 2009

Pengobatan Nabi - Sebuah Pesan Unggul

Praktik dan perkataan (hadis) Nabi Muhammad SAW tentang kebersihan diri, kebersihan lingkungan, dan pengobatan penyakit adalah apa yang disebut kaum Muslimin di seluruh dunia sebagai ath-thibb an-nabawi (pengobatan Nabi). Sekitar lima puluh hadis tentang penyakit-penyakit tertentu dan pengobatannya telah dikelompokkan di bawah judul bab Kitab Ath-Thibb (Kitab Pengobatan) dalam himpunan hadis terkenal, seperti kitab-kitab hadis Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain. Di samping lima puluh hadis ini, lebih dari tiga ratus hadis tentang kebersihan diri, kebersihan lingkungan, serta pola makan dan minum, dan lain-lain ditemukan dalam judul-judul: Kitab Al-Asyribah (Kitab Minuman), Kitab Al-Ath’imah (Kitab Makanan), Kitab Al-Libas (Kitab Pakaian), Kitab Ath-Thaharah (Kitab Bersuci), Kitab Al-Haidh (Kitab Haid), Kitab Al-Jana’iz (Kitab Jenazah), Kitab Al-Mardha (Kitab Orang Sakit), dan lain-lain.

Seluruh hadis itu, yang jumlahnya sekitar empat ratus buah, membentuk pengobatan Nabi dan ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab klasik karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (abad ke-8 H), Abu Nu’aim (abad ke-5 H), Abu Abdillah Adz-Dzahabi (Abad ke-8 H). Abu Bakar As-Sani (Abad ke-4 H), dan Abdurrahman As-Suyuthi (abad ke-9 H). Hampir semua karya tulis berbahasa Arab tersebut sekarang telah diterjemakan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya. Nabi Muhammad SAW telah meletakkan fondasi bagi sebuah tatanan sosial tempat setiap muslim, juga setiap manusia, dianjurkan untuk memelihara kehidupan sehat secara fisik, secara psikologis, dan secara spiritual. Pengabaian terhadap salah satu aspek kehidupan dilarang oleh Rasulullah SAW. Menurut pendapat Douglas Guthrie (A History of Medicine, 1945), kemajuan pesat dalam kedokteran telah dibuat oleh kaum Muslimin abad pertengahan sebagai pengaruh dari hadis-hadis Rasulullah SAW. Guthrie berkata, “Bukankah Nabi Muhammad [SAW] telah bersabda, “Hai hamba-hamba Allah, gunakanlah pengobatan, karena Allah tidak menciptakan suatu penyakit tanpa obatnya.”


Guthrie tidak mengutip sumber hadis penting ini, namun jelas bahwa dia merujuk kepada salah satu perkataan Nabi SAW yang terkenal dari Kitab Sunan Tirmidzi (salah satu dari enam kitab hadis paling penting). Pada kenyataannya banyak hadis semacam ini yang memberikan penekanan besar terhadap pengobatan dan melarang pengobatan melalui mantra-mantra, jampi-jampi, dan sihir. Sebagai contoh, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Ketika obat itu diterapkan pada penyakitnya, ia akan sembuh.” Hadis ini dan beberapa hadis serupa telah diriwayatkan dalam Kitab Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain. Suatu saat Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya, “Adakah manfaat dalam pengobatan?” Beliau SAW menjawab, “Ya” Diriwayatkan pula bahwa beliau SAW telah bersabda, penggunaan obat-obatan adalah ketentuan Tuhan. Kita dapat melihat kebenaran mendasar yang diperkenalkan kepada manusia oleh Rasulullah SAW yaitu bahwa tidak ada penyakit tanpa ada obatnya. Hadis-hadis ini telah mewajibkan setiap masyarakat atau kelompok masyarakat untuk melakukan penelitian dan menemukan obat bagi setiap penyakit yang menimpa umat manusia.


Konsep bahwa ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan adalah asing bagi Islam. Dalam beberapa kesempatan menjenguk orang sakit (beliau SAW menganjurkan para sahabatnya untuk menjenguk orang yang sakit), setelah memeriksa penyakitnya, Nabi Muhammad SAW menyarankan si sakit untuk meminum obat yang diberikan dokter. Pada beberapa kasus beliau SAW menyarankan si sakit untuk berobat pada Harits bin Kalda, seorang tabib Yahudi terkenal di Tsaqif (sebuah tempat dekat Madinah). Suatu saat Nabi Muhammad SAW mengunjungi Sa’ad bin Abi Waqqash yang menderita serangan jantung. Nabi SAW meletakkan tangannya di dada Sa’ad dan Sa’ad pun merasakan kenyamanan, namun Nabi SAW memperingatkannya dan berkata, “Kamu kena serangan jantung, maka berkonsultasilah kepada Harits bin Kalda, seorang dokter ahli.” Contoh-contoh semacam ini sangat mengubah sikap bangsa Arab terhadap penyakit yang selama periode sebelum Islam sangat bergantung kepada pertolongan supranatural atau beragam pantangan untuk mengobati penyakit. Nabi Muhammad SAW telah menyadari bahaya epidemik dan karena itu dengan sangat rasional beliau SAW menyarankan, “Jika kalian mendengar pecahnya suatu wabah penyakit di daerah tertentu, janganlah kalian memasuki daerah itu. Jika wabah penyakit itu merebak di daerah tempat kalian berada, janganlah kalian lari dari daerah itu [dan meyebar ke daerah lain].” Berdasarkan hadis ini, pencegahan dan kewaspadaan terhadap wabah penyakit telah dianggap oleh kaum Muslimin sebagai perintah Tuhan. Nabi SAW juga menyatakan para korban wabah penyakit, seperti kolera dan pes sebagai syuhada. Ini adalah berita yang sangat menggembirakan bagi mereka yang menderita penyakit itu dan mengetahui akibat-akibatnya.


Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan para dokter untuk bersungguh-sungguh dalam mengobati pasien. Beliau SAW juga memperingatkan mereka yang tidak ahli dan tidak kompeten dalam ilmu pengobatan agar tidak mencoba-coba mengobati pasien, karena dikhawatirkan malah memperburuk keadaan si pasien. Karena itu, perdukunan dilarang dalam etika kedokteran Islam. Nabi Muhammad SAW menyarankan para pengikutnya untuk selalu menjaga kesehatan. Beliau SAW menghibur orang yang tertimpa suatu penyakit, parah atau tidak untuk tidak merasa bersalah karena merasa menjadi koban kemurkaan Allah SWT. “Penyakit,” kata Beliau SAW, “bukanlah kemarahan Allah, sebab para nabi pun menderita sakit, bahkan lebih berat daripada sakit orang-orang biasa.” Bayangkan, betapa menggembirakannya perkataan Nabi SAW ini ketika didengar oleh Umat Islam. Banyak hadis Bukhari, Muslim, dan lain-lain yang menunjukkan bahwa banyak orang datang kepada Nabi SAW secara teratur dan menceritakan penyakit mereka kepada beliau SAW. Nabi SAW biasanya memberi saran kepada mereka untuk menjalani pengobatan kemudian berdoa kepada Tuhan untuk membuang penyakitnya. Pada beberapa kesempatan beliau SAW sendiri yang langsung memberi resep pengobatan. Contohnya, dalam kasus kehilangan nafsu makan, beliau SAW sering menyarankan talbina, sup jewawut. Untuk sembelit, beliau SAW, selalu menyarankan penggunaan sana. Beliau SAW menyarankan penggunaan obat-obatan herbal seperti zaitun, jinten hitam, chichory, andewi, fenugreek, jahe, marjoram, kunyit, cuka, seledri air, dan lain-lain. Hadis-hadis tentang obat-obatan menunujukkan perhatian Nabi SAW terhadap kesejahteraan dan kesehatan umatnya. Untuk hal-hal kecil seperti minum, makan, serta memelihara kebersihan dan kerapihan, beliau SAW memberikan saran-saran yang tepat dan sempurna. Diriwayatkan bahwa beliau SAW telah bersabda, “Kebersihan adalah bagian dari iman”.


Beberapa hadis tentang jinten hitam, sana, dan biji seledri sangat menggungah pikiran. Contohnya, Nabi Muhammad SAW diriwayatkan telah bersabda, “Jinten hitam adalah obat untuk segala penyakit kecuali kematian.” Ungkapan serupa dikemukakan oleh Nabi SAW berkaitan dengan kemanjuran sana dan biji seledri. Gaya bahasa perkataan Nabi SAW tersebut jelas-jelas menunjukkan bahwa Nabi SAW sangat menekankan penggunaan obat (dari tanaman) yang sebagiannya mungkin dapat menyembuhkan banyak penyakit sekaligus. Hadis-hadis itu juga menumbuhkan rasa percaya diri orang yang sakit dalam upaya menghadapi penyakit dan menghilangkan penderitaan. Nasihat yang sangat rasional telah disampaikan Rasulullah SAW sehingga tidak ada orang yang berkecil hati menghadapi beratnya dan lamanya penyakit, karena obatnya telah tersedia di alam. Juga, tak seorang pun harus takut menghadapi kematian yang pasti datang. Suatu saat ketika Rasulullah SAW masih hidup ada seseorang bunuh diri karena tidak tahan menanggung penderitaan penyakit, mendengar hal itu, Nabi SAW mengecam keras perbuatan tersebut dan menolak ikut serta dalam upacara pemakaman orang yang bunuh diri itu. Jadi, putus asa, patah semangat, dan frustasi terhadap sakit dan penyakit yang parah sekalipun adalah menyimpang dari jiwa dan ajaran etika kedokteran Islam, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Sunah Nabi SAW.


Ada
beberapa hadis shahih yang menyatakan bahwa orang-orang yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk meminta pengobatan spiritual untuk penyakit kawan atau keluarga mereka. Nabi SAW tentu saja mendoakan mereka, namun itu dilakukan setelah beliau SAW menyarankan pengobatan dengan obat-obatan alami. Seringkali beliau SAW menyarankan agar pasien berkonsultasi kepada dokter terbaik di sekitar tempat tinggalnya. Suatu saat seorang wanita datang kepada Nabi SAW dengan membawa anaknya yang masih kecil dan sedang mengalami pendarahan karena infeksi saluran tenggorokan. Beliau SAW menyarankan pengobatan dengan ekstrak cendana dan kunyit semu. Dalam hadis yang serupa, salah seorang istri Nabi SAW mengeluhkan abses di jari-jari tangannya. Nabi SAW menyarankan pemakaian pacar belanda pada jari-jari tangan tersebut dan beliau memerintahkan sang istri untuk berdoa kepada Allah bagi kesembuhannya. Ada juga sebuah contoh ketika Nabi SAW sendiri disengat kalajengking. Beliau SAW segera meminta air panas yang diberi garam. Beliau SAW lalu menuangkan cairan panas itu pada jari-jari tangan beliau yang tersengat seraya membaca Al-Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas). Contoh-contoh dan hadis-hadis ini menuntun kaum Muslimin untuk lebih percaya pada penggunaan obat secara rasional daripada mantra-mantra dan sihir. Pada beberapa kesempatan, Nabi SAW melarang umat Islam untuk bergantung pada metode penyembuhan supranatural.

Nabi Muhammad SAW diriwayatkan telah bersabda, “Jampi-jampi (mantra sihir) tidak lain adalah perbuatan setan.” Beliau SAW pernah meminta seseorang dari Bani Hazm untuk mengobati salah seorang sahabat yang tergigit ular berbisa. Nabi SAW diberitahu bahwa setelah beliau melarang penggunaan jampi-jampi, Bani Hazm meninggalkan praktik-praktik supranatural. Nabi SAW lalu memberi izin khusus untuk bantuan supranatural dengan bacaan yang memiliki makna dan pengertian yang benar (ruqyah dengan doa dan ayat—penj). Ini jelas menyiratkan bahwa praktik tersebut hanya diizinkan sebagai pengobatan psikologis ketika tidak ada obat medis yang tersedia. Walaupun di satu sisi Nabi SAW banyak memberikan saran yang cocok kepada umatnya tentang urusan duniawi, namun di sisi lain beliau SAW juga berusaha sebaik-baiknya untuk membangun rasa percaya diri umat agar mereka dapat berbuat menurut pengalaman dan pendapat mereka sendiri. Nabi SAW pernah bersabda, “Kapan saja aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan urusan agama, taatilah! Jika aku memberi perintah tentang suatu urusan duniawi, berbuatlah sesuai pengalamanmu sendiri dan ingatlah bahwa aku adalah manusia.


Beberapa tahun terakhir ini banyak buku tentang kedokteran Nabi telah diterbitkan, khususnya di India dan Pakistan. Penulis buku yang baru saja diterbitkan, Tibbe Nabvi Aur Jadid Science (Pengobatan Nabi dan Sains Modern), mengklaim bahwa pengobatan Nabi atas serangan jantung dengan memakan tujuh buah kurma, sebagaimana telah disarankan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, lebih baik daripada pengobatan modern dengan operasi by-pass (by-pass surgery), asalkan percaya pada pengobatan Nabi. Penulis yang terpelajar itu gagal memahami bahwa ketika Nabi SAW menganjurkan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memakan kurma sebagai perawatan sementara, beliau SAW juga memerintahkannya untuk berobat kepada seorang dokter ahli, Harits bin Kalda. Sunah tentang pengobatan sebaiknya tidak begitu saja dianggap sebagai resep dokter. Dalam hal ini, pendapat Ibnu Khaldun (abad ke-14 M) sangat relevan dan realistis. Dia berkata, “Misi Nabi adalah untuk memperkenalkan kepada kita formula hukum Tuhan, bukan untuk memberi instruksi praktik pengobatan umum dalam kehidupan biasa,” (Muqqadimah). Menurutnya hadis yang sangat shahih sekalipun tidak dapat dipandang semata-mata sebagai resep medis yang wajib bagi para dokter. Namun, Ibnu Khaldun juga mengatakan, “Dengan keimanan yang tulus, seseorang dapat mengambil manfaat yang amat besar dari hadis-hadis itu meskipun bukan pengobatan medis murni.” Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibnu Khaldun merujuk kepada contoh-contoh ketika Nabi SAW berusaha membangun rasa percaya diri umatnya dengan menyarankan untuk memutuskan sendiri urusan duniawi.


Pengobatan Nabi, pada kenyataannya, merupakan sebuah pesan unggul. Ia adalah pesan untuk selalu menjaga kesehatan jasmani dan ruhani serta percaya terhadap pengobatan baik fisik maupun spiritual. Ia adalah perintah kepada kita untuk berjuang keras menemukan obat dan pengobatan terbaru. Ia adalah peringatan bagi mereka yang menganggap penyakit sebagai semata-mata kehendak Tuhan yang tidak memerlukan pengobatan. Ia adalah peringatan bagi kita untuk menjauhkan diri dari pengobatan spiritual yang berdasarkan takhayul seperti sihir, mantra-mantra, dan jampi-jampi dukun, dan sebagainya. Islam adalah nama sebuah pergerakan massal dan perubahan radikal dalam setiap aspek kehidupan umat manusia, baik ruhani maupun jasmani, berdasarkan nalar akal yang sehat dan rasional. Kemajuan besar dalam ilmu kedokteran yang terjadi selama abad pertengahan adalah sebuah bagian penting revolusi Islam yang bersumber dari pengobatan Nabi.


Sumber: Farooqi, M. I. H. 2005.
Terapi Herbal Cara Islam. Jakarta: P.T. Mizan Publika

Sunday, March 29, 2009

Mempertanyakan Kembali Demokrasi

Mempertanyakan Kembali Demokrasi
Sebuah Pengantar Kajian Demokrasi Female HATI

“In a democracy, it is NOT truth that matters; it IS public relations”

“But my dear Crito, why should we pay so much attention to what
‘most people’ think?”
—Socrates, in Plato’s CRITO (ca. 390 B.C.)

Aku dan demokrasi.
Bandung, Maret 2009.

Dalam keresahan dan himpitan berbagai pertanyaan,izinkan aku berbagi. Aku ingin mengisi “celah” di kepalamu. Bukan apa-apa, tuk sekedar informasi … menambah dialektika...walau kuharap ia kan menjadi awal sebuah revolusi. Yah, paling tidak menjadi motivasi padaku sendiri, untuk terus bertanya dan mencari.. lebih dalam tentang demokrasi.
***

Pentas demokrasi Indonesia kini kembali semarak. Jalanan kian penuh dengan spanduk-spanduk yang berisikan kampanye para caleg dengan segala gaya dan bahasa visualnya. Tak hanya itu, janji-janji lisan hingga kontrak politik pun dibuat. Masyarakat kembali bisa berharap akan adanya perbaikan sistem yang ada saat ini. Melalui sebuah sistem, yang dengannya negeri ini dihargai oleh Sang Negeri Adidaya sebagai negara pengimplementasi demokrasi. terbaik ketiga di dunia.

Di balik hingar bingar 2009 ini, sebuah pertanyaan muncul: Apakah sebenarnya demokrasi itu? Seberapa berpengaruh dan seberapa pentingnya ia, hingga saat ini demokrasi benar-benar dianggap laksana virtue, suatu nilai agung yang sudah “dianggap” benar dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Seperti itukah demokrasi?

Bahasa adalah rasa, begitu pula nilai yang dirasakan ketika mendengar kata ‘demokratis, pas’, Di benak kebanyakan dari kita, kata demokratis, yang identik dengan demokrasi, berhasil memiliki konotasi dan rasa positif… bukan begitu? Mari bandingkan, jika kita mendengar “suatu keluarga yang otoriter”, “pemerintahan yang diktator”, “pribadi yang sewenang-wenang”, tak perlu ditanya lagi, hati kita akan ‘menolak’ dan memberikan konotasinya negatif bagi kata-kata tadi. Dalam alam bawah sadar, kita dengan mudah membangun dikotomi: demokrasi vs kesewenang-wenangan atau demokrasi sebagai solusi atau otoriterisme.

Merujuk pada aspek epistemologi, kombinasi kata demos (rakyat) dan kratos (aturan) sepertinya bisa menjadi awal pengenalan kita dengannya. Di awal kita telah tahu, secara harfiah arti demokrasi adalah the rule of common people. Sederhananya atau dengan bahasa yang lebih akrab, demokrasi menawarkan suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Konsep demokrasi lahir sebagai antitesis dari kepemimpinan tunggal dan kediktatoran seorang manusia atas manusia lainnya. Untuk itu, aturan tidak boleh lahir dari kekuasaan seorang manusia saja. Darinya, lahir sebuah pemikiran, bahwa pemerintahan yang terbaik adalah pemerintahan yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat. Implikasinya, aturan-aturan yang dibuat pun harus merepresentasikan keinginan masyarakat. Sedangkan tidak mungkin mendengarkan seluruh pendapat masyarakat terlebih dahulu untuk menghasilkan suatu peraturan. Dari sini, muncullah istilah keterwakilan. Hukum dan aturan dibuat oleh wakil-wakil yang mereka pilih sendiri. Dengan harapan, aturan dan hukum yang dibuat akan mengakomodasi kepentingan bersama dan menghindarkan dari tirani tunggal dari penguasa tertentu.

Harga yang mahal untuk satu kata: demokrasi!

Tidak hanya itu, mari bayangkan, begitu banyak caleg yang terdaftar, Masing-masing tentunya menginginkan kemenangan .. Artinya mereka harus bersedia untuk melakukan kampanye ‘gila-gilaan’. Bahkan ada seseorang yang begitu nekadnya ingin menjadi caleg, hingga bersedia berutang ratusan juta rupiah ke bank. Apa yang akan mereka lakukan begitu dikukuhkan menjadi wakil rakyat? Mungkinkah pengembalian investasi?

Inikah keterwakilan yang kita harapkan? Inikah wajah demokrasi yang diusung semua orang? Inikah sistem yang kita harapkan mendatangkan solusi?

Apa yang sebenarnya kita harapkan dari demokrasi? Penjaminan atas kebebasan (kebebasan berpendapat, berperilaku, kepemilikan, ataupun beragama)? Terkadang aku berpikir, apakah sebegitu pentingkah kebebasan berpendapat? Pada kenyataannya pun kita tidak pernah mendapatkan kebebasan itu! Karena pada faktanya kita tidak diperkenankan bebas ketika sudah mengganggu kepentingan orang lain. Selain itu, kebebasan berpendapat ini pun seringkali menunjukkan muka dua nya.

Dulu, ketika rasulullah dihina lewat karikatur yang diterbitkan oleh salah satu koran di Belanda, kaum muslimin di seluruh dunia melakukan unjuk rasa, tetapi seingatku tidak ada ungkapan maaf yang terluncur dari pihak pembuat karikatur ataupun penanggung jawab media tersebut. Akan tetapi, hal yang berbeda terjadi ketika New York Post memuat karikatur yang menghina presiden AS terpilih, Barack Obama. Ketika peringatan melayang ke pihak New York Post mereka langsung mengklarifikasi dan menyampaikan maaf mereka. Ataupun ketika kaum muslim mengingikan penerapan syariat Islam, maka isu yang berkembang adalah adanya tirani mayoritas terhadap minoritas, tetapi tidakkah kita berpikir telah terjadi tirani minoritas atas mayoritas?

Begitu pun dengan kebebasan berperilaku, bukankah kita pun masih ingat kasus pelarangan jilbab di Prancis? Ketika seseorang (Seorang wanita terutama) diperbolehkan untuk menggunakan pakaian semini mungkin, tetapi ketika menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, larangan pun kembali melayang.

Begitu pun dengan kebebasan kepemilikan. Benarkah kita memilikinya? Berapa banyak perumahan liar yang digusur atas nama penghijauan kota? Tetapi bagaimana dengan perumahan mewah ataupun mall-mall yang dibangun di daerah resapan air? Apakah kebebasan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki banyak harta dan kuasa?

Para pengusung ide ini mengatakan kecacatan-kecacatan yang terjadi dalam demokrasi terjadi karena kesalahan pelaksanaan saja, tetapi apakah benar demikian? Ataukah demokrasi sudah cacat sedari awal? Terlepas dari hal yang lain, dapatkah demokrasi mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh manusia?

Apakah kita menerima demokrasi ini karena memang keberadaan kita sekarang, di masa demokrasi adalah sebuah nilai yang disetujui sebagai suatu kebenaran dan jalan untuk mencapai win win solution untuk kebaikan seluruh umat manusia? Pernahkah kita berpikir bahwa sejarah masih berputar dan perubahan adalah sebuah keniscayaan? Dulu ketika firaun masih ada, mungkin kebanyakan orang tidak akan bermimpi bahwa manusia akan terbebas dari perbudakan firau. Ketika Arab masih dalam keadaan jahiliyah, kebanyakan orang mungkin tidak berpikir dari negeri ini akan muncul peradaban baru. Ketika tahun 70-80an siapa yang akan berpikir rezim Soeharto akan berakhir dengan keadaan yang sangat gelap. Ataupun kini, disaat demokrasi dianggap sebagai sebuah solusi akankah ia akan abadi? Seperti pendapat Fukuyama bahwa inilah the end of history…

Masih banyak pertanyaanku. Tentu, juga di kepalamu. Namun, justru itulah yang kuharapkan. Agar aku bisa datang kembali. Berbagi pertanyaan dan juga jawaban. Ya, selama demokrasi menyisakan tanya. Hingga ada jawabnya.

He (Socrates) complained that democracy elevates men to positions of authority not as a result of their wisdom or their fitness to govern, but as a result of their ability to sway the masses with empty rhetoric. In a democracy, it is not truth that matters; it is public relations.


[to be continued]

Tuesday, March 24, 2009

Kejayaan Khilafah: Merawat Kecantikan Tubuh dan Rambut Ala Ibnu Sina

Allah SWT itu indah, dan mencintai keindahan, begitu bunyi salah satu hadis Rasululah SAW. Dalam hadis lainnya juga diungkapkan bahwa, Sesungguhnya Allah SWT itu bersih dan mencintai kebersihan. Ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW itu telah melecut para ilmuwan Muslim untuk berkontribusi dalam bidang perawatan kecantikan, mulai dari rambut hingga ujung kaki.

Sejatinya, perawatan kecantikan telah berkembang sejak era kejayaan Islam. Adalah Ibnu Sina (980 -1037 M) dokter Muslim legendaris dalam kitabnya Qanin fi Thib atau Canon of Medicine secara khusus menuliskan rahasia dan resep perawatan kecantikan mulai rambut hingga ujung kaki. Tips perawatan kecantikan itu ditulis dalam bab khusus yang disebut ziyet penampilan fisik.

Prof Nil Sari dari Fakultas Kedokteran Istanbul University dalam tulisannnya bertajuk ‘Beauty, Hair and Body Care in the Canon of Ibn Sina mengungkapkan, meski istilah ziynet kerap digunakan untuk menyebut hiasan-hiasan, namun dalam kitab itu Ibnu Sina menjelaskan tentang tips dan rahasia berkaitan dengan penampilan, seperti perawatan rambut dan tubuh.

Menurut Prof Nil, sejak abad ke-10 M, Ibnu Sina sudah membahas mengenai penyakit kulit, perawatan, dan penyembuhannya. ”Ia juga membahas mengenai masalah berat badan, misalnya kegemukan dan kekurusan serta dampaknya terhadap penampilan,” tutur Prof Nil. Ibnu Sina juga membahas tentang simptom atau gejala.

Misalnya, ia mengupas tentang berbagai masalah kecantikan yang kerap dihadapi setiap orang, seperti rambut rontok, kulit yang berubah pucat, serta bagaimana merampingkan tubuh. Dalam kitabnya yang fenomenal itu, ia juga mengungkapkan tentang formula perawatan rambut dan kulit.

Selain itu, Ibnu Sina juga memaparkan tentang penyakit-penyakit kulit, metabolisme serta makanan yang perlu dikonsumsi dan tidak untuk menjaga kecantikan tubuh. Avicenna begitu ia akrab disapa di Barat mengupas masalah kecantikan bukan bertujuan untuk mempercantik diri, namun lebih menekankan pada sudut pandang kesehatan dengan cara merawat tubuh.

Masalah Rambut
Dalam kitabnya, Ibnu Sina mengungkap rahasia perawatan rambut. Ia mengkaji semua hal tentang rambut (sha’r), jenggot dan lainnya. Ia sudah mampu mengungkapkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencegah rambut dan jenggot rontok. Selain itu, dia juga memaparkan tentang cara mendapatkan rambut yang lebat dan panjang. Ibnu Sina juga memaparkan bagaimana cara menata rambut, seperti mendapatkan rambut halus yang lurus atau keriting.

Tak hanya itu, Ibn Sina juga menjelaskan metode untuk mengubah warna rambut, misalnya, warna rambut dibuat lebih gelapkan warnanya, dengan warna hitam pekat, atau warna rambut diubah menjadi merah, cokelat, dan lainnya. “Semua hal tentang pertumbuhan rambut, penyakit, pengobatan dijelaskan sesuai dengan teori humoral. Tetapi sulit untuk memahami arti medis dari beberapa istilah,” ungkap Prof Nil.

Khusus tentang rambut, Ibnu Sina mengkaji masalah kebotakan dan beragam penyebab rontoknya rambut. Menurut dia, terdapat tiga faktor yang membuat rambut gagal tumbuh. Ppertama, “zat” rambut tidak menembus ke dalam tempat tumbuhnya rambut. Kedua, ‘zat’ menembus ke tempat rambut tumbuh, namun tak bertahan di tempat itu. Ketiga, “zat” rambut merusak, akibatnya tak cocok untuk pertumbuhan rambut.

Pengobatan rambut
Selain mengindentifikasi masalah penyebab kerusakan rambut, Ibnu Sina pun menawarkan pengobatannya. Secara khusus, ia menulis tentang ”obat melindungi rambut.” Prinsip-prinsip pengobatan penyakit terkait rambut didasarkan pada teori humoral. Obat yang melindungi rambut, papar ibnu Sina, harus memiliki “daya tarik” untuk menormalkan dan menyesuaikan suhu (hararet-i latîfe-i jazzabe) dan “mempertahankan kekuatan zat” (quvva-i kâbiza).

Perawatan kulit
Selain membahas berbagai masalah tentang rambut, Ibnu Sina juga mengupas perwatan kulit secara detail. Masalah perawatan, penyakit dan pengobatan kulit diuraikan sang dokter legendaris dalam artikel kedua bab ziynet. Pada abad ke-10 M, Avicenna sudah mampu menjelaskan secara ilmiah mengenai perubahan warna pada kulit.

Menurut Ibnu Sina, ada sejumlah faktor yang menyebabkan perubahan warna kulit seperti sinar matahari, udara dingin, angin, usia lanjut, jarang mandi, makanan yang terlalu asin serta perubahan dalam darah. Sang dokter juga merinci tentang penyebab kulit mencaji pucat. Kata dia, penyebab kulit pucat antara lain, penyakit, kegelisahan, kelaparan, terlalu banyak jimak (hubungan seks), sakit parah, cuaca terlalu panas, kurang minum serta faktor lainnya.

”Hal yang luar biasa Ibnu Sina sudah mempu mengamati hubungan antara geophagia (kebiasaan memakan tanah) dengan anemia,” ungkap Prof Nil. Ibnu Sina dalam bab ziynet juga sudah memberi solusi penyembuhan dan perawatan masalah yang biasa dialami pada kulit itu.

Penyakit kulit
Masalah penting lainnya yang dijelaskan Ibnu Sina mengenai jenis-jienis penyakit kulit dan pengobatannya. Dalam artikel ketiga, sang dokter sudah menjelaskan penyebab terjadinya kulit melepuh, jerawat, bisul, borok serta penyakit kulit lainnya.Menurut Prof Nil, pembahasan rahasia merwat kecantikan, rambut dan kulit yang dijelaskan Ibnu Sina diklasifikasikan berdasarkan gejala. Contohnya, rambut rontok, kulit pucat tau tubuh menjadi kurus. Dalam bab ziynet, penyakit-penyakit kulit juga dibahas Avicenna dalam artikelnya tentang kulit. Pembahasan kulit secara khusus, dikaji dan dikupas dalam artikel ketiga.

Ibnu Sina juga membahas masalah kecantikan dengan mengklasifikasikan organ. Ia mengupas masalah kecantikan mulai dari kepala yakni tentang perawatan rambut dan diakhiri dengan mempelajari kaki. Sang dokter berupaya membahas masalah kesehatan tubuh secara runut dari atas sampai ke bawah.

”Topik mengenai ziynet sebagai berhubungan dengan kosmetika,” tutur Prof Nil. Ibnu Sina
ternyata sudah mampu menawarkan formula perawatan untuk rambut dan kulit. Selain itu, ia juga sudah menjelaskan mengenai penyakit-penyakit kulit yang banyak dialami, metabolisme, terapi fisik dan haematologi. ”Ibnu Sina mengupas masalah ini bukan untuk mempercantik orang, tapi bagaimana menyembuhkan penyakit yang dapat merusak penampilan.” desy susilawati/hri

Madu sebagai Obat Kecantikan

Ibnu Sina melakukan penelitian terhadap bahan-bahan alami yang ada pada masanya. Salah satu bahan alami yang ditawarkannya untuk merawat kecantikan tubuh adalah madu dan minyak zaitun. Kedua bahan tersebut ternyata mampu menjadi obat mujarab yang digunakan sebagai kosmetika yang memiliki beragam khasiat.

Menurut Avicenna, madu dan minyak zaitun bisa mengencangkan kulit muka dan seluruh kulit badan. Kedua bahan alami yang mendapat perhatian khusus dalam Alquran itu mampu menghilangkan flek-flek hitam dan jamur kulit. Selain itu, madu dan minyak zaitun juga bisa menghaluskan kulit dan mengurangi reutan pada wajah.

Yang tak kalah menariknya, Ibnu Sina pun telah menemukan fakta bahwa minyak zaitun dan madu mampu menghilangkan bau badan yang tak sedap, serta bisa memberikan vitamin pada kulit dan melembabkannya. Selain untuk kosmetik, madu juga bisa digunakan untuk bearagam kegunaan lainnya.

Mulai dari makanan, obat-obatan sampai bahan untuk alat-alat kecantikan. Sejatinya, manfaat madu telah dirasakan peradaban manusia sejak dahulu kala. Orang Mesir Kuno telah mengonsumsinya. Penduduk Mesir Kuno sudah terbiasa memanfaatkan madu sebagai makanan bergizi tinggi serta obat berbagai macam penyakit yang mujarab.

Meski begitu, peradaban kuno belum mampu menjelaskannya secara ilmiah. Adalah Ibnu Sina seorang dokter legendaris sepanjang masa yang telah berhasil membuktikan kebenaran khasiat madu tersebut, dalam usia tua. Konon, Ibnu Sina masih tetap kelihatan sehat dan segar bugar layaknya seorang pemuda, karena terbiasa mengonsumsi madu. she

Sang Dokter Legendaris

”Bapak Kedokteran Modern.” Begitulah Ibnu Sina (980-1037) atau Avicenna kerap dijuluki. Dokter kelahiran Persia itu dikenal sebagai seorang penulis produktif. Karyanya yang paling monumental adalah Qanun fi Thib rujukan dalam bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abu Al al-Husayn bin Abdullah bin Sina. Ia lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Dia adalah pengarang sekitar 450 buku, terutama kedokteran dan filsafat.

George Sarton mentahbiskannya sebagai “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikirannya terbilang independen. Ia dikenal berotak encer, karena memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa. Pada usianya yang ke-14 tahun, Inu Sina sudah setaraf dengan para gurunya. Ibnu Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya membuat masyarakat di wilayahnya berdecak kagum. Ia telah menghafal Alquran pada usia 5 tahun.

sumber:
(Republika Online)

Mengapa saya mengenakan Kerudung ?

Oleh Yvonne Ridley (mualaf Inggris eks tahanan Taliban)

Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan dengan persaudaraan feminisme Barat.

Politisi dan jurnalis senang mengangkat isu tertindasnya perempuan di dalam Islam tanpa pernah mengajak berbicara para perempuan berkerudung itu sendiri.

Mereka sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana wanita muslim terlindungi dan dihormati dalam Islam yang telah berlangsung selama lebih dari 1400 tahun yang lalu.

Namun dengan mengupas isu budaya seperti mempelai anak-anak, penyunatan anak perempuan, pembunuhan demi kehormatan dan perkawinan paksa, mereka pikir mereka berbicara dengan ilmu.

Dan saya juga muak dengan dicontohkannya praktik di Saudi sebagai contoh bagaimana wanita ditekan hak-haknya seperti larangan mengemudi di negara tersebut.

Hal-hal diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam, namun itu semua menjadi sasaran empuk untuk memojokkan Islam dengan bergaya sok tahu. Padahal sangatlah naif untuk mencampuradukkan budaya dengan Islam.

Saya pernah diminta untuk menulis bagaimana Islam membolehkan suami untuk menghajar isterinya. Enak saja, tidak benar itu. Kalangan pengkritik Islam tentu akan dengan senang mengutip ayat-ayat Al Quran atau Hadith secara serampangan dan di luar konteks. Apabila seorang suami akan menaikkan tangannya terhadap isterinya, ia dilarang untuk meninggalkan bekas pukulan di tubuh isterinya. Dengan kata lain, Quran sebenarnya berkata,” Jangan kau hajar isterimu, Hai Bodoh.”

Nah mari kita lihat statistik yang menarik. Hmm, saya mulai mendengar kata-kata sumpah serapah. Menurut, informasi Kekerasan Rumah Tangga Nasional (Amerika Serikat), 4 juta wanita mengalami kekerasan oleh pasangannya selama rata-rata 12 bulan.

Tidak kurang dari 3 wanita dibunuh oleh suami atau pacarnya setiap hari… yang berarti sekitar 5500 wanita yang dihajar hingga mati sejak peristiwa 9/11.

Mungkin ada yang bilang bahwa fakta tersebut adalah suatu kenyataan yang mencengangkan yang bisa terjadi di masyarakat yang konon beradab. Namun sebelum saya berkata lebih jauh, saya perlu katakan bahwa kekerasan terhadap wanita adalah masalah global. Pria yang melakukan kekerasan pun memiliki latar belakang yang beragam dari segi agama maupun budaya. Kenyataan menunjukkan bahwa satu dari tiga wanita di dunia merupakan korban kekerasan dan pelecehan seksual semasa hidupnya. Kekerasan terhadap wanita bukan monopoli agama, status, kekayaan, warna kulit ataupun budaya tertentu.

Namun demikian, ketika Islam pertama kali muncul, wanita merupakan obyek yang diperlakukan secara tidak semestinya. Bahkan di Barat, para wanita pun masih menghadapi masalah karena para pria yang masih berpikir memiliki superioritas. Ini terlihat dari jenjang promosi dan struktur upah yang terlihat dari tipe pekerja pembersih biasa hingga pemburu karir di tingkat direksi atau manajemen.

Wanita di Barat pun masih diperlakukan sebagai komoditas dimana perbudakan seksual mengalami peningkatan, dengan dalih sebagai upaya pemasaran dimana tubuh wanita menjadi aset penjualan produk dalam dunia periklanan. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ini terjadi di dalam masyarakat dimana perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan adalah hal yang lumrah. Di dalam masyarakat ini pula terjadi ilusi persamaan antara pria dan wanita dan tingkat pengaruh seorang wanita di dalam masyarakat tersebut diukur dari besaran payudara yang ia miliki.

Dulu saya melihat wanita berkerudung sebagai manusia yang pendiam, makhluk yang tertindas. Namun, kini saya melihatnya sebagai sosok yang memiliki banyak keahlian, berbakat, dan berpendirian kuat dimana menjelma sebagai bentuk solidaritas persaudaraan yang bahkan terlalu agung untuk dibandingkan dengan persaudaraan feminisme Barat. Pandangan saya berubah sejak pengalaman yang saya lalui ketika ditahan oleh Taliban karena menyelundup ke Afghanistan dengan mengenakan burkha di bulan September 2001.

Selama 10-hari dalam kurungan, saya membuat perjanjian dengan mereka bahwa saya akan membaca Al Quran dan mempelajari Islam kalau mereka akan membiarkan saya pergi. Aneh tapi nyata, mereka pun menerima tawaran saya dan saya pun dibebaskan. Ketika saya kembali dari sana saya pun memegang janji saya. Sebagai jurnalis yang meliput peristiwa di Timur Tengah, saya pun menyadari untuk belajar lebih banyak tentang suatu agama yang jelas-jelas juga menjadi suatu pandangan hidup bagi masyarakat di sana.

Tidak, saya bukan korban Sindrom Stockholm. Untuk menjadi korban sindrom ini, anda harus memiliki hubungan yang baik dan erat dengan mereka yang menahan anda. Ini tidak terjadi dengan saya. Selama saya dikurung, saya sumpah serapahi mereka menolak makanan yang mereka tawarkan dan melakukan mogok makan. Saya tidak tahu siapa yang lebih senang ketika saya akhirnya dibebaskan — mereka atau saya!

Awalnya, saya pikir membaca Quran tidak akan lebih dari sekedar kegiatan akademis. Namun saya benar-benar terhenyak ketika saya temukan secara gamblang bahwa wanita memiliki kesamaan spiritual, pendidikan dan harga diri. Hadiah bagi seorang wanita ketika ia melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka benar-benar mendapatkan pengakuan yang tulus. Wanita muslim pun bangga untuk menyatakan bahwa mereka adalah ibu rumah tangga.

Di samping itu, Nabi Muhammad Saaw pun menyatakan bahwa wanita yang terpenting dalam keluarga adalah seorang Ibu, Ibu, dan Ibu. Nabi juga berkata bahwa surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Bayangkan, berapa banyak wanita yang mampu mencapai 100 peringkat wanita paling berpengaruh hanya dengan predikat ‘Ibu Terbaik’?

Ketika seorang wanita secara Islam memilih dengan sadar untuk tetap tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak merupakan suatu bentuk baru dari harga diri dan kehormatan di mata saya. Pilihan tersebut sama sekali tidak lebih rendah dibanding dengan para wanita muslim lainnya yang memilih untuk bekerja, berkarir dan mengembangkan profesi mereka.

Saya pun mulai mencermati hal-hal seperti hukum warisan, pajak, kepemilikan harta dan perceraian, yang semuanya mungkin bisa menjadi inspirasi bagi para pengacara Holywood. Misalnya, wanita berhak mempertahankan apa yang telah mereka raih dan miliki sedangkan para suaminya harus menyerahkan separuh dari nilai yang ia miliki.

Agak lucu bukan kedengarannya ketika para media tabloid dengan heboh meliput berita aktris bintang film yang melakukan perjanjian pra nikah? Padahal para wanita muslim sudah menjalankan perjanjian bahkan sejak hari pertama. Mereka bisa memilih untuk bekerja atau tidak, dan semua penghasilan yang ia dapati dari pekerjaannya adalah miliknya, sedangkan suaminya harus membayar semua kebutuhan, tagihan dan belanja keluarga.

Apa-apa yang mereka para feminis perjuangkan di tahun 70an, ternyata sudah dinikmati oleh para wanita muslim 1400 tahun yang lalu.

Sebagaimana saya terangkan tadi, Islam menghormati status Ibu dan Istri. Apabila anda memilih untuk tetap tinggal di rumah, maka silakan untuk tetap tinggal di rumah. Adalah suatu bentuk kehormatan yang luar biasa nilainya untuk menjadi pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak.

Di saat yang sama, Quran juga menyatakan kalau anda ingin bekerja, maka bekerjalah. Jadilah wanita karir, kembangkan profesi dan jadilah politisi. Jadilah menjadi sosok apapun yang anda inginkan dan jadilah yang terbaik, karena apapun yang anda akan kerjakan diniati untuk menggapai ridhaNya.

Saat ini ada kecenderungan yang berlebihan untuk menfokuskan pada masalah pakaian wanita muslim terutama oleh para pria (baik muslim dan non-muslim).

Memang benar bahwa wanita muslimah wajib untuk berpakaian sopan, tetapi banyak sekali masalah lain yang wanita muslim hadapi saat ini.

Namun demikian, semua orang masih terobsesi dengan isu kerudung atau hijab. Begini, hijab ini adalah busana resmiku, dan dengan ini saya nyatakan bahwa saya adalah seorang muslim dan saya harap anda perlakukan saya dengan hormat.

Bisakah anda bayangkan bagi seseorang untuk memberitahu eksekutif Wall Street atau bankir Washington untuk mengenakan kaos t-shirt dan celana blue jeans? Dia tentu akan menyatakan bahwa busana resmi yang ia kenakan adalah yang mendefinisikan dia selama jam kerja dan secara tidak langsung ia nyatakan kepada dunia untuk mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya.

Anehnya, di Inggris, kita dengar ucapan Menlu Jack Straw tentang nikab (penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata) sebagai penghalang yang tidak bisa diterima. Wahai para pria, kapan anda akan berhenti mengomentari busana wanita?

Kita juga dengar ucapan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan John Reid yang memberikan pernyataan yang tidak pantas tentang nikab, padahal desa asal mereka adalah perbatasan Skotlandia dimana para pria di sana mengenakan rok!

Lalu kita juga temukan para anggota dewan parlemen yang ikut-ikutan menggambarkan nikab sebagai penghalang komunikasi. Benar-benar ucapan tidak berkualitas. Lalu bagaimana mereka menjelaskan fenomena ponsel, email, radio, sms dan faks yang dalam sehari-harinya mereka tidak pernah melihat wajah seseorang.

Mayoritas para akhwat yang saya kenal yang mengenakan nikab adalah wanita kulit putih, yang masuk Islam dan tidak lagi menginginkan sorotan, rayuan laki-laki dan perilaku mereka yang tidak senonoh. Asal tahu saja, ada sepasang akhwat di London yang saya kenal yang mengenakan niqab saat demo anti Perang karena tidak tahan dengan bau rokok.

Saya khawatir Islamophobia telah menjadi bidikan kaum rasis. Tetapi secara pengecut, kaum chauvinis pria dan kaum wanita muslim sekuler kiri bergabung menyerang busana muslimah yang tidak lagi bisa ditolerir oleh para muslimah.

Saya sendiri bertahun-tahun adalah feminis dan hingga sekarangpun masih menjadi feminis muslim yang berjuang untuk kepentingan kaum wanita. Bedanya adalah, wanita feminis muslim adalah jauh lebih radikal ketimbang teman feminisnya yang sekuler. Kita semua benci kontes kecantikan dan berusaha keras untuk tidak tertawa melihat adanya Miss Afghanistan yang mengenakan bikini sebagai bukti pembebasan wanita di Afghanistan.

Saya telah kembali ke Afghanistan beberapa kali dan saya bisa katakan bahwa tidak ada wanita karir yang bangkit dari reruntuhan di sana. Wanita muslimah Afghan berharap kepada saya agar Barat tidak terlalu terobsesi dengan Bhurka yang mereka kenakan. “Jangan perjuangkan kami untuk menjadi wanita karir, tapi carikan pekerjaan buat suami kami. Tunjukkan bahwa kami bisa mengirim anak-anak ke sekolah secara aman tanpa takut diculik. Berikan kami keamanan dan makanan di meja makan,” demikian kata seorang wanita muslimah kepada saya.

Muslim feminis muda melihat kerudung dan nikab sebagai simbol politik dan persyaratan agama sekaligus. Ada yang menganggap bahwa ini adalah simbol perlawanan mereka terhadap gaya hidup Barat yang sarat dengan mabuk-mabukan, seks bebas, dan narkoba.

Superioritas dalam Islam tumbuh karena ketaqwaan, bukan kecantikan, kekayaan, kekuasaan, posisi, maupun jenis kelamin.

Sekarang katakan kepada saya mana yang lebih membebaskan. Apakah dengan melihat seberapa pendek rok yang saya kenakan dan ukuran payudara, atau dengan menilai karakter, pikiran dan kecerdasan?

Majalah-majalah memberikan pesan kepada wanita kalau mereka tidak tinggi, langsing dan cantik maka mereka tidak akan dicintai dan diinginkan. Tekanan kepada para pembaca majalah remaja untuk memiliki pacar pun sangat menjengkelkan.

Islam berkata kepada saya bahwa saya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan adalah tugas saya untuk mencari ilmu, baik ketika saya masih lajang atau sudah menikah.

Tidak ada di dalam Islam bahwa kami sebagai wanita harus mencuci, membersihkan rumah, atau memasak demi para pria. Tapi tidak hanya laki -laki muslim yang wajib mempelajari kembali perannya di masyarakat. Coba cek kata-kata Pat Robertson di tahun 1992 tentang pandangannya terhadap wanita. Lalu katakan kepada saya mana yang lebih beradab.

Dia berkata,” Feminisme mendorong wanita untuk meninggalkan suami mereka, membunuh anak-anak, melakukan sihir, menghancurkan kapitalisme, dan menjadi lesbian.”

Ini adalah kata-kata orang Amerika yang hidup semasa Jahiliyah yang perlu dimodernisasi dan di-adab-kan. Sosok seperti inilah yang justru mengkerudungi penglihatan mereka dan kita perlu membuka kerudung kejahilan mereka sehingga bisa membiarkan masyarakat dunia untuk melihat Islam dengan mata kepala mereka sendiri sebagaimana apa adanya.

sumber: “Yvonne Ridley, Former Taliban Captive, Convert to Islam”
http://yvonneridley.org/yvonne-ridley/articles/how-i-came-to-love-the-veil-4.html

Friday, March 6, 2009

Terbang tanpa karpet ajaib

Dr. Fahmi Amhar

Sebutkan salah satu contoh teknologi tinggi! Kalau pertanyaan ini dilontarkan ke Prof. Dr.-Ing. BJ Habibie yang pernah memimpin PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), tentu jawabnya: aeronautik atau ilmu membuat pesawat terbang. Di bidang aeronautik berkumpul sejumlah teknologi canggih, yakni teknologi material, elektronika, komputer, mesin, kimia, navigasi dan sebagainya. Namun tentu semua sepakat, bahwa dasar dari aeronautika adalah ilmu bagaimana membuat sebuah benda yang lebih berat dari udara dapat terbang atau disebut dengan aviasi.

Dan apakah umat Islam punya kontribusi di bidang ini? Cukupkah dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah terbang dengan sesuatu yang lebih hebat dari pesawat terbang, yakni dengan kendaraan Buraq selama Isra’ Mi’raj, yang sekali langkahnya menempuh jarak sejauh mata memandang? Walaupun benar, jawaban ini tentu jauh dari memuaskan, karena Buraq hanyalah khusus untuk Nabi. Tidak ada manusia lain sesudahnya pernah melihatnya, apalagi menaikinya.

Bagaimana dengan naik karpet ajaib sebagaimana para sultan dalam kisah 1001 malam? Kisah 1001 malam memang dongeng yang sangat populer dari masa Khilafah Islam, sehingga bahkan ibu kota khilafah, yaitu Baghdad, digelari “Kota 1001 malam”. Kisah tentang Ratu Syeherazade yang mendongeng kisah-kisah fantastis (Aladdin, Ali Baba, Sinbad dsb) untuk melunakkan hati suaminya, Raja Syahriar ini sesungguhnya digali dan dimodifikasi dari khazanah sastra kuno masa pra-Islam. Semuanya tentu saja fiksi, baik yang berbau magis maupun bentuk awal dari science-fiction. Apapun juga, terbang dengan karpet-ajaib atau dengan naik jin, tetaplah khayalan belaka. Menyenangkan sebagai dongeng anak-anak menjelang tidur, namun tidak ada aplikasi praktisnya.

Alhamdulillah, ternyata ada orang Islam yang tidak puas dengan kisah Buraq maupun karpet ajaib. Dialah Abbas Ibnu Firnas (810-887) dari Andalusia (sekarang Spanyol) yang melakukan serangkaian percobaan ilmiah untuk dapat terbang, seribu tahun lebih awal sebelum Oliver & Wilbur Wright melakukan percobaan untuk membuat pesawat terbang.

Sebagaimana banyak ilmuwan muslim di zamannya, Ibnu Firnas adalah seorang polymath, yaitu menekuni berbagai ilmu sekaligus: kimia, fisika, kedokteran, astronomi, dan dia juga sastra. Dia menemukan berbagai teknologi seperti jam air (jam yang dikendalikan oleh aliran air yang stabil), gelas tak berwarna, lensa baca, alat pemotong batu kristal hingga peralatan simulasi cuaca yang konon juga mampu menghasilkan petir buatan, meski masih teka-teki bagaimana Ibnu Firnas menghasilkan listriknya. Namun di antara semua penemuannya, yang paling spektakuler dan dianggap salah satu tonggak sejarah adalah alat terbang buatannya.

Alat terbang Ibnu Firnas adalah sejenis ornithopter, yakni alat terbang yang menggunakan prinsip kepakan sayap seperti pada burung, kelelawar atau serangga. Dia mencoba alatnya ini dari pertama-tama dari sebuah menara masjid di Cordoba pada tahun 852. Dia terbang dengan dua sayap. Ibnu Firnas sempat terjatuh. Untung dia melengkapi diri dengan baju khusus yang dapat menahan laju jatuhnya. Baju khusus ini adalah cikal bakal parasut.

Tahun 875, pada usianya yang sudah 65 tahun dia melakukan percobaan terbangnya yang terakhir, menggunakan pesawat layang yang merupakan cikal bakal gantole. Percobaan kali itu dilakukan dari menara di gunung Jabal al-‘Arus dekat Cordoba dan disaksikan banyak orang yang antusias dengan percobaan-percobaan Ibnu Firnas selama itu, meski sebagian menyangka Ibnu Firnas gila dan mengkhawatirkan keselamatannya.

Saksi mata menyebutkan bahwa dia berhasil terbang, melakukan manuver, dan menempuh jarak terbang yang cukup signifikan. Namun sayang dia gagal mendarat ke tempatnya dengan mulus sehingga mengalami cedera parah di punggungnya. Ibnu Firnas meninggal 12 tahun kemudian yakni pada tahun 887.

Sejarawan Phillip K. Hitti menulis dalam History of the Arabs, "Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying."

Sebagai penghormatan pada Ibnu Firnas, sebuah lapangan terbang di Baghdad Utara dinamai Ibnu Firnas Airport. Spanyol memberi nama sebuah jembatan besar di Sevilla Abbas ibnu Firnas Bridge. Dan NASA menamai sebuah kawah di bulan dengan nama Ibnu Firnas Crater.

Namun usaha Ibnu Firnas bukanlah usaha ilmuwan muslim yang terakhir. Pada tahun 1630-1632, Hezarfen Ahmad Celebi di Turki berhasil menyeberangi selat Bosporus di Istanbul. Ahmad melompat dari menara Galata yang tingginya 55 meter dan berhasil terbang dengan pesawat layangnya sejauh kira-kira 3 kilometer serta mendarat dengan selamat.

Usaha meraih teknologi aeronautika ini sejalan dengan tantangan Allah di surat Ar-Rahman, “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan". (Qs. 55:33)

Dan surat al-Anfaal, ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya”. (Qs. 8:60)

Teknologi penerbangan beserta seluruh turunannya seperti teknologi roket untuk membawa manusia hingga ke ruang angkasa wajib dikembangkan karena ini dapat merupakan faktor penentu dalam jihad fi sabilillah.

Dengan motivasi ideologis yang kuat, teknologi aeronautika pasti dapat dengan cepat dikuasai kembali oleh kaum muslimin. Motif ideologis harus menjadi motif utama, baru setelahnya motif ekonomis dan sains. Tanpa motif ideologis, teknologi bahkan industri pesawat terbang yang telah dimiliki dapat dengan mudah digadaikan atau dijual ke asing demi membayar Utang Luar Negeri yang tidak seberapa. Dan karena ketiadaan negara Islam yang ideologis, kini ribuan ahli-ahli aeronautika muslim terpaksa berkarier di negara-negara kafir penjajah, dan secara tak langsung ikut menciptakan mesin-mesin terbang yang membunuhi anak-anak kaum muslimin di Palestina, Iraq atau Afghanistan.



sumber: Dr. Fahmi Amhar

Wednesday, February 25, 2009

Menlu Inggris Terlibat Pengiriman Senjata ke Israel

Menteri Luar Negeri Inggris, David Miliband dituding terlibat dalam kasus pengiriman senjata Israel

Hidayatullah.com--Sebagaimana dilansir situs Koran The Guardian, Inggris, sejumlah pengacara yang mewakili setidaknya tiga puluh keluarga Palestina menyampaikan gugatan kepada mahkamah agung Inggris.

Dalam gugatannya tersebut para pengacara menuding Miliband dan dua pejabat tinggi departemen luar negeri Inggris melanggar ketentuan internasional karena terlibat pengiriman senjata ke Israel.

Selain itu, para penggugat mengklaim pemerintah London terus melanjutkan pengiriman bantuan kepada Tel Aviv meski rezim ini digugat melanggar HAM dalam serangannya ke Gaza.

Phil Shiner, salah seorang pengacara pembela keluarga Palestina mengatakan, Inggris dalam hal ini terikat peraturan internasional oleh karena itu London harus secepatnya menjalankan ketentuan tersebut.

Sebagaimana diketahui, pembataian warga Gaza oleh Zionis-Israel ditengarai atas bantuan senjata-senjata canggih Negara Barat.

Fakta menunjukkan, Israel menerima bantuan persenjataan dari sekutu-sekutunya termasuk Perancis, Inggris dan terutama Amerika Serikat (AS).

Data pemerintah Inggris menunjukkan, angka penjualan senjata negara kerajaan itu ke Israel meningkat setiap tahunnya.

Sebelum ini, Nick Clegg-anggota parlemen dan pimpinan kelompok Liberal Demokrat di Inggris-pada tahun 2007, menyetujui ekspor senjata senilai 6 juta poundsterling ke Israel. Dan pada tahun 2008, nilai penjualan senjata Inggris ke Israel meningkat hampir 12 kali lipat. Dalam tiga bulan pertama tahun 2008, Inggris telah mengekspor senjata senilai 20 juta poudsterling ke Israel.

Clegg mengatakan, dalam konflik Gaza, ekspor senjata ke Israel bisa dikatakan sudah melanggar syarat-syarat yang diberlakukan Uni Eropa dalam hal ekspor senjata ke negara lain. Karena Israel telah menggunakan senjata-senjata itu untuk melakukan agresi ke wilayah negara lain.

Ia mengingatkan agar pemerintah Inggris menghentikan ekspor senjatanya ke Israel, apalagi Israel juga menggunakan senjata-senjata yang sudah dinyatakan terlarang oleh dunia internasional seperti bom kluster dan bom yang mengandung zat kimia fosfor putih. [cha, berbagai sumber)

sumber: Hidayatullah

Monday, February 2, 2009

Solusi Krisis Palestina: Masihkah Berharap Pada Obama?

Setelah melakukan agresi militer selama 22 hari, pada 18 Januari 2009 lalu, Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak. Sebelumnya, Menlu Israel, Tzipi Livni membuat kesepakatan dengan Menlu AS, Condolezza Rice yang menyatakan dukungan AS terhadap Israel. Pertemuan tersebut menegaskan genjatan senjata pihak Israel dan komitmen AS untuk memastikan penghentian pasokan senjata bagi HAMAS.

Obama, Harapan Baru bagi Penyelesaian Konflik Israel-Palestina?
Gencatan senjata dilakukan Israel sebelum pelantikan Obama sebagai Presiden resmi AS. Masyarakat Negeri-Negeri Muslim memberikan harapan yang cukup besar pada Presiden baru AS ini dalam mewujudkan perdamaian di Palestina. Akan tetapi, mereka mungkin cukup kecewa karena dalam pidato pembukanya, Obama tidak menyinggung masalah Israel-Palestina.
Bukankah hal itu wajar saja? Sebagai kepala Negara adidaya tentu saja Obama akan lebih mementingkan kepentingan dalam negerinya. Ditambah lagi, ia harus menyelesaikan permasalahan besar di bidang ekonomi Negaranya. Akan tetapi, jika kita termasuk orang yang berharap pada Obama untuk menyelesaikan konflik ini, kita perlu mengamati kebijakan luar negeri yang dibuat Obama seperti yang diberitakan dalam situs www.barackobama.com:

BARACK OBAMA AND JOE BIDEN’S PLAN TO STRENGTHEN THE U.S.-ISRAEL RELATIONSHIP
• Ensure a Strong U.S.-Israel Partnership
• Support Israel’s Right to Self Defense
• Work towards Ending Hamas Rocket Attacks
• Work towards Two States Living Side by Side in Peace and Security:
He will encourage the strengthening of the Palestinian moderates who seek peace and work to isolate Hamas and other extremists who are committed to Israel’s destruction.
Support Foreign Assistance to Israel
• Work towards Two States Living Side by Side in Peace and Security:
… He will encourage the strengthening of the Palestinian moderates who seek peace and work to isolate Hamas and other extremists who are committed to Israel’s destruction.

Sudah sangat jelas keberpihakan pemerintahan Obama terhadap kepentingan Israel. Jalan damai yang direncanakan oleh Obama tentu tidak terlepas dari tiga hal.
Pertama, pengakuan terhadap eksistensi Israel sebagai negara.
Kedua, pelucutan senjata pejuang Palestina, dan
Ketiga, penghentian perlawanan dari pihak Palestina.

Obama pun mengamini bahwa apa yang dilakukan oleh Israel adalah bentuk pertahanan diri. Padahal, permasalahan utama konflik di Palestina adalah keberadaan Israel itu sendiri yang dengan cara yang tidak berprikemanusiaan merampas tanah Palestina dan mengusir penduduknya. Apa yang dilakukan para pejuang di Palestina—yang Obama sebut sebagai ekstrimis—adalah bentuk jihad defensif atas penyerangan yang dilakukan oleh aggressor Israel.

Yang dilakukan Obama justru bukan mendorong dunia untuk menghentikan peperangan, tetapi justru untuk melucuti persenjataan Hamas.

Gencatan senjata yang dilakukan Israel sejatinya bukan merupakan penghentian peperangan di bumi Palestina, akan tetapi justru meredam isu kejahatan yang dilakukan Israel dan mencegah penyatuan kekuatan militer di Timur Tengah untuk membantu Palestina menyerang Israel.

Walaupun genjatan senjata dilakukan Israel, tetapi Israel masih melakukan penutupan jalur masuk ke Gaza yang dapat memancing pihak Hamas melakukan serangan roket kepada Israel, sehingga dapat menjadi legitimasi Israel untuk menyerang balik Hamas. Gencatan senjata yang kini dilakukannya pun tidak diikuti dengan penarikan seluruh pasukan militer Israel.

Jika yang dilakukan Israel adalah untuk menghancurkan kekuatan militer Hamas, lantas mengapa Israel pun memblokade bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, menghancurkan pusat bantuan makanan PBB, menghancurkan sumur minyak Palestina, bahkan melarang untuk menguburkan jenazah.

Masihkah kita berharap pada Obama ? Apakah kita akan berharap penyelesaian konflik ini melalui perjanjian damai yang notabene terus menguntungkan pihak Israel (misalnya Perjanjian Anapolis 2006,dll)?