Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Sunday, September 11, 2011

Materi 1 Lingkar Kajian

Chapter 1 Alhamdulillah Aku Masuk ITB

ITB, Institut Teknologi Bandung… Sebuah kampus yang namanya sangat tersohor seantero wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Bahkan tidak hanya untuk Indonesia, dunia internasional pun mengakui keberadaannya. Banyak orang tua yang berharap anaknya bisa mengenyam pendidikan di kampus ini. Para pelajar pun tidak sedikit yang ingin menjadi bagian dari keluarga besar ITB. Layaknya teori ekonomi, semakin banyak peminat sedangkan barang tersedia dalam jumlah terbatas maka nilai jualnya pun meningkat. Inilah ITB, kampus yang hanya membukakan pintunya untuk para pelajar terpilih, mereka adalah tunas-tunas terbaik bangsa yang berasal dari seluruh penjuru negeri yang terseleksi dengan ketat, hanya yang terbaik dari yang terbaik yang bisa menyandang predikat “MAHASISWA ITB”. Maka bukanlah hal yang aneh jika setiap kali masa penerimaan mahasiswa baru tiba, spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG PUTRA PUTRI TERBAIK BANGSA” selalu terpampang menyambut para calon pemimpin baru negeri ini.

Sebuah Kilas Balik
Sejarah ITB nyaris seusia dengan republik ini, bahkan mungkin jauh lebih tua. Kampus utama ITB saat ini merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Pada tahun 1920, ITB berdiri dengan nama Technische Hogeschool (TH), sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan Belanda akan SDM untuk perusahaan-perusahaan Belanda. Seiring dengan dikumandangkannya kemerdekaan Republik Indonesia, maka TH pun bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 dan terus bertransformasi menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintahan yang memegang status quo. Sebagaimana ITB yang dinamis, kemahasiswaan yang ada di dalamnya pun tidak kalah dinamis dalam bertranformasi hingga mampu memberikan warna dalam sejarah republik ini. Tahun 1945, ketika ITB bernama Sekolah Tinggi Teknik Bandoeng para mahasiswa STTB pun turut melakukan perjuangan heroik dalam upaya merebut kemerdekaan. Nama-nama mahasiswa yang gugur diabadikan pada tugu ganesha (tugu dengan metal berbentuk kubik antara gerbang selatan ITB dan taman ganesha). Tahun 1966, terlibat dalam perjuangan TRITURA, bersama rakyat juga berperan dalam upaya pembersihan PKI. Selama pemerintahan orba, mahasiswa juga turut mengawal pemerintahan. Seiring dengan pemerintahan Soeharto yang represif,para mahasiswa berkali-kali menunjukkan kritikan mereka yang sangat tajam terhadap pemerintah. Pada tahun 1978, Keluarga Mahasiswa ITB menyusun Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Buku Putih diluncurkan pada aksi mahasiswa ITB, 16 Januari 1978 di lapangan basket dan dihadiri 2000 mahasiswa. Aksi ini diakhiri dengan pernyataan sikap “Tidak Mempercayai dan Tidak Menghendaki Soeharto Kembali Menjadi Presiden RI, KM ITB”. Spanduk bertuliskan pernyataan mahasiswa ini dipasang di depan Gerbang Ganesha. Para mahasiswa pun sempat mengalami friksi dengan kalangan militer yang berujung pada pendudukan kampus oleh militer. Benturan antara mahasiswa dan pemerintah semakin menguat. Berbagai tuntutan yang diajukan mahasiswa berhasil mengguncang pemerintah. Banyak aktivis yang ditangkap dan dipenjara. Dimulailah babak baru normalisasi kehidupan kampus pada tahun 1978 yang ditandai dengan pemberian skors dan pelarangan mahasiswa lama untuk berkuliah dan hanya mengizinkan mahasiswa angkatan 78 yang berkuliah. Masa ajaran pun diubah dari Januari-Desember menjadi Juni-Juli serta dilakukan pembubaran dewan mahasiswa. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peranan yang besar dalam kehidupan bernegara. ITB khususnya telah menjadi institusi yang melahirkan generasi-generasi yang mewarnai kehidupan NKRI.

Kini Saatnya Kita Bercermin!
Kini, kita perlu merefleksikan diri. apa yang akan kita lakukan setelah ini? Sadarkah kita, berhasil menjadi salah satu mahasiswa ITB merupakan salah satu nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada kita? Apakah kita berani menyombongkan diri dengan mengatakan bahwasanya keberhasilan kita saat ini murni karena usaha dan kerja keras kita sendiri? Kita pun tidak dapat menafikan begitu banyak pelajar lain yang telah berusaha dengan begitu kerasnya agar dapat menjadi bagian dari institut terbaik di Indonesia ini, tetapi belum juga berhasil. Lalu adakah alasan bagi kita untuk tidak bersyukur?
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55]: 13)

Bagaimana Wujud Syukur Itu?
Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah swt. Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah swt berfirman
Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu. (QS. Al-Baqarah[2]: 152)

Ali Ashshabuni dalam Shafwaat al-Tafaasir menyatakan,
Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan.
sedangkan firman Allah swt,
bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu,
bermakna:
Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya, “Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?” Rabbnya menjawab, “Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir I/142)

Di ayat yang lain Allah swt menyatakan, artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172)

Ulama-ulama tafsir menafsirkan ayat ini dengan “jika kalian benar-benar menyembah kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah swt dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah swt serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seorang yang selalu taat kepada Allah swt, menjalan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah swt. Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari‘at Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah swt telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah swt berfirman, artinya:
Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.(QS. Yunus [10]: 60)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]: 243)

Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering melupakan Allah swt. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada Allah. Namun, setelah terlepas dari penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah swt. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas
Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo‘a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya. (QS. Al-An‘aam [6]: 63-64)

Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah swt. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah swt agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan, bencana alam dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah swt. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah swt? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari‘at Islam dan selalu berdzikir kepada Allah swt?

Karena Kita Bukanlah Mahasiswa Biasa, Lakukanlah Hal yang Luar Biasa!
Seperti sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, menjadi bagian dari keluarga besar ITB merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan bagi kita dan tentunya kita perlu menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah dengan semakin meningkatkan ketaatan kepadaNya.
Islam berhasil mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang mampu menaklukan imperium Romawi dan Persia. Jika bukan karena cahaya Islam, tidak mungkin masyarakat Arab saat itu mencapai kegemilangan. Sejarah juga telah membuktikan begitu banyak ilmuwan-ilmuwan yang telah dilahirkan Islam ketika Barat berada dalam Masa Kegelapan. Hal yang menarik adalah ilmuwan-ilmuwan ini tidak hanya cerdas dalam urusan ilmu-ilmu teknis keduniaan, tetapi juga mereka adalah para penghafal Al-Quran, ahli hadits, dan ahli fiqih, suatu fenomena yang sangat jarang kita temui saat ini ketika banyak diantara kita yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat.

Di kampus ini, di kampus yang para mahasiswanya selalu ingin menjadi yang terbaik, ketika persaingan begitu ketat, ingatlah satu pesan dari junjungan kita, nabi besar Muhammad saw,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ, أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
"Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara." (HR. Bukhari no. 6416 )

Ath Thibiy mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata." (Dinukil dari Fathul Bariy, 18 /224 )

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata :
Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat” (HR. Thabrani di dalam Ash-Shaghir)

Teringat sebuah pesan, “Berusahalah engkau di dunia, seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan Beribadahlah engkau, seolah-olah engkau akan mati esok.”

Maka… sesibuk apapun kita beraktivitas di kampus ini… jangan sampai membuat kita melupakan agama kita. Teruslah menggali ilmu Islam sebagai bekal kita kembali kepadaNya…

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah Ta’ala kepadanya jalan ke surga” (Dari Abu Hurairah HR Muslim).

Abu Dzar R.A menyampaikan bahwa Rasulullah SAW berkata: “Bahwa sesungguhnya engkau berjalan pergi mempelajari suatu bab dari Ilmu adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus rakaat” (HR Ibnu Abdul-Birri).

This Dunya (World) Is Like A Shadow, Run After It And You Will Never Be Able To Catch It, Turn Your Back Against It And It Has No Choice But To Follow You [Ibn Al-Qayyim]


wallahu'alam bi ash-shawab

Pembagian Jadwal dan Kelompok LiKa

…Bismillaah…

Jadwal dan Kelompok Lingkar Kajian (LiKa) female HATI


Senin (Waktu : 11.15 – 12.45 WIB)

Pengisi : Teh Ismi

Kakak Wali : Teh Syifa dan Teh Ristri

Kelompok 1 LiKa:

1.Zainiyatul Hamidah (FTSL)

2.Annisa Athifah (FTSL)

3.Dwi Purwaningsih (FTSL)

4.Meri Suryani (FTSL)

5.Siti Hajar Aswad (FITB)

6.Nadira Aliya (FTI)

7.Annur Dyah (FTI)

8.Mareta Faryanti (SAPPK)


Sabtu (Waktu : 09.00 – 11.00 WIB)

Pengisi : Teh Sally

Kakak Wali : Teh Nia dan Teh Nilam

Kelompok 2 LiKa:

1.Siti Mulyani (SF)

2.Aulia Septiani (SF)

3.Rita Purnamasari (SF)

4.Lika Rosliana (SITH)

5.Nur Faizatus Sa’idah (FMIPA)

6.Nining .R (FMIPA)

7.Hanani Dissy Ladiba (FMIPA)

8.Nurafni Eka Agustina (STEI)

9.Samantha Harisa (STEI)

10.Anis Riswati (FTI)


Sabtu (Waktu : 13.00 – 15.00 WIB)

Pengisi : Teh Rini

Kakak Wali : Teh Dinan dan Teh Gina

Kelompok 3 LiKa:

1.Khoirunnisa Istiqomah (SITH)

2.Wilma Fitri (FITB)

3.Nur Ainiyah (FITB)

4.Nuriza Wardi (SAPPK)

5.Qisthi Khuril Wazni (SAPPK)

6.Novi Briliyanti (SAPPK)

7. Arintha Teuyana .R (FTTM)

8.Nur Fatonah (FTTM)

9.Anita Cahyu Sentika (FMIPA)

10.Riska Sapitri (FMIPA)

11.Riendu Friesty Florina Ises (FMIPA)

12.Endah Burdatul Hasanah (FMIPA)

Monday, August 8, 2011

Al-Qarawiyyin Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Universitas-Universitas di awal Peradaban Islam
  • 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
  • 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
  • 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
  • 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
  • 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
  • 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
  • 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
  • 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris.(rpb)

sumber: suara media

Sunday, May 29, 2011

Tulisan LiKa episode 9

Sosialisme
oleh Dinan. M


Pada saat masa kegelapan di Eropa, agama sangat mendominasi. Pada saat itu agama digunakan untuk memeras rakyat oleh para penguasa melalui gerejawan dan pemuka agama. Karena kehidupan pada masa itu sangat terpuruk, para kaum cendekiawan mulai berontak untuk memperoleh kebebasan. Akhirnya, agar kedua pihak tidak dirugikan, diambillah jalan tengah untuk memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya berlaku di tempat-tempat ibadah, sedangkan kehidupan diatur dengan peraturan yang dibuat manusia. Sejak saat itu, kebebasan individu sangat dijunjung tinggi, terutama dalam bidang ekonomi.
Setelah sekian lama sistem pemisahan tersebut berjalan, muncul gap yang sangat tinggi terutama dalam kesejahteraan masyarakat karena sistem ekonomi menitikberatkan pada individu. Masyarakat terbagi menjadi kaum borjuis dan kaum proletar (kaum kelas bawah). Karena gap yang sangat tinggi ini, pemikir-pemikir dari kaum proletar mulai berpikir tentang suatu sistem yang di dalamnya tidak ada kelas-kelas masyarakat. Inilah awal munculnya pemikiran tentang sosialisme.
Salah satu tokoh sosialisme adalah Karl Marx. Ia sebenarnya mengadopsi pemikiran tentang sosialisme dari Hegel. Walaupun Hegel memiliki pemikiran tentang sosialisme, ia masih mempercayai Tuhan. Akan tetapi, Marx hidup dalam masa di mana agama digunakan dengan sewenang-wenang sebagai alat penguasa, dan fakta bahwa agama hanya sebagai ritual saja. Oleh karena itu, versi sosialismenya mengkritik pemikiran Hegel akan agama. Ia mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia, dan hanya melemahkan manusia. Ia juga berpendapat pikiran manusia sendirilah yang menciptakan agama. Marx sangat membenci keberadaan agama.
Sosialisme Marx muncul sebagai antitesis dari kapitalisme dan sebagai balas dendam kepada para penguasa kapitalisme. Saat itu, Marx melalui pemikirannya ingin mengubah keadaan masyarakat dari sisi politik dan ekonomi. Perpolitikan pada masa itu hanya dikuasai kaum borjuis karena ongkosnya sangat besar. Ia ingin politik menjadi milik bersama. Dari sisi ekonomi, ia ingin menghilangkan kepemilikan individu, dan tujuan inilah hal yang paling menonjol dari sosialisme.
Sosialisme dan komunisme menurut Marx sama saja, hanya penempatannya yang berbeda. Untuk menciptakan keadaan puncak di mana tidak ada lagi kelas dalam masyarakat, diperlukan fase sosialisme. Fungsi fase ini adalah mengkondisikan ide-ide sosialisme seperti contohnya dalam hal kepemilikan. Karena itulah masih dibutuhkan negara dalam fase ini, untuk menjaga ide-ide di masyarakat. Sedangkan keadaan puncak di mana sudah tidak ada kelas merupakan fase komunisme, pada fase ini sudah tidak dibutuhkan lagi adanya negara.
Dasar dari sosialisme adalah paham materialisme, yang menganggap segalanya berasal dari materi, akan kembali menjadi materi, dan kehidupan merupakan suatu siklus materi. Atas dasar ini lahirlah peraturan yang mengatur kehidupan yang tujuannya hanya materi. Karena awal dari segala sesuatu adalah materi, jelas pemikiran ini menolak mengakui keberadaan Tuhan dalam kehidupan. Hal ini sangat bertentangan dengan aqidah Islam yang dasarnya adalah mengakui keberadaan Allah swt. sebagai pencipta. Oleh karena itu, dalam kehidupan di dunia harus berdasarkan perintah Allah, dan tujuan hidup adalah keridhoan Allah semata. Karena itu pemikiran sosialisme tidak layak kita ambil, karena dari aqidah yang mendasarinya pun sudah batil, dan tentu saja pemikiran yang beraqidah batil akan menghasilkan sistem pengaturan kehidupan yang cacat.

Diktif#3

Wanita karir

oleh Rd.Rini.K


“Apasih wanita karir itu?”, selama ini sering terdengar orang menganggap yang dimaksud wanita karir itu “wanita yang kerja kantoran”. Dan seakan-akan hanya “wanita karir” tadilah yang akhirnya ‘terpaksa’ menjadi ibu rumah tangga. Lebih-lebih lagi, ada yang menyatakan wanita yang bukan ‘wanita karir’ itu sendiri yang minder, dan mengatakan aku ‘cuma’ ibu rumah tangga biasa. Seolah-olah wanita yang hebat, pintar, cantik, kaya, keren, dsb tadi adalah wanita karir, dan sisanya yang tidak bisa apa-apa, atau strata pendidikannya masih rendah itu masuk kategori ‘ibu rumah tangga’.

Secara definisi, wanita karir bermakna adalah seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius (mengalahkan sisi kehidupan yang lain). Dan saat ini, waita karir telah manjadi sebuah fenomena dibuktikan oleh data statistik BPS yang menunjukkan bahwa jumlah partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan setiap tahunnya. Selama Februari 2006 sampai Februari 2007 saja misalnya, jumlah pekerja perempuan bertambah 2,12 juta orang sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang.

Secara garis besar, alasan wanita mulai merambah pada dunia karir ada 2 hal, pertama adalah dorongan ekonomi dan alasan meraih prestise. Kondisi ekonomi mendorong wanita untuk bekerja, dan tak sedikit yang akhirnya waktu banyak terpakai untuk aktivitas pekerjaan. Namun kembali pada definisi, dikatakan bahwa karir adalah rangkaian sikap dan prilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Sehingga wanita berkarir merupakan kesempatan mengaktualisasikan diri, dan memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya dengan cara yang kreatif dan produktif untuk menghasilkan sesuatu yang dapat mendatangkan kebanggaaan terhadap dirinya. Alasan ini lebih cenderung pada alasan kedua, yakni untuk meraih prestise.

Kehidupan kaum muslimin saat ini tengah didominasi oleh ideologi kapitalisme. Tak terkecuali kehidupan sebagian perempuan telah dirasuki paham ini. Nilai segala sesuatu diukur dengan materi, kebahagiaan bermakna kelimpahan materi dan kebebasan individu begitu diagungkan (bahkan nilai agama dianggap salah apabila bertentangan dengan nilai kebebasan individu). Dengan standar nilai materi ini, peran ibu menjadi inferior karena dianggap tidak bernilai ekonomi.

Menyinggung tentang peran wanita di luar rumah, tak lepas dari wacana yang banyak digulirkan, yaitu emansipasi atau keadilan dan kesetaraan gender (KKG) yang diusung oleh kalangan feminis. “Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran” adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda isu KKG. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.

Feminis dalam pengertian yang luas adalah gerakan kaum perempuan untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya

Allah memberika posisi yang beragam pada laki-laki dan perempuan yaitu sebagai hamba Allah, anggota keluarga dan anggota masyarakat. Sebagai hamba Allah, Islam memandang laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakannya hanyalah ketakwaannya saja, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sebagai anggota masyarakat, wanita memiliki tugas menjadi anak, istri, dan ibu. Kewajiban utama perempuan setelah ia menikah adalah sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga), kewajiban ini tidak bisa digantikan oleh orang lain. Keluarga adalah pondasi dan pendidikan utama dalam membentuk suatu generasi, dan disanalah pentingnya peran seorang ibu.

Allah SWT telah memberi kedudukan mulia bagi kaum wanita dengan menetapkan mereka menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, karena Allah Pencipta segenap makhluk sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Karena peran perempuan ini menjadi penopang utama ketentraman dan ketenangan dalam keluarga. Dengan kesempurnaan peran perempuan sebagai ibu akan terlahir generasi pemimpin masa depan yang akan mengantarkan umat Islam menjadi terdepan.

Sebagai anggota masyarakat, wanita juga memiliki kewajiban untuk ikut terlibat dalam mengurusi ummat yang merupakan definisi politik dalam islam, yakni berkewajiban untuk menasehati dan mengoreksi penguasa, serta berkewajiban untuk terlibat dalam kelompok dakwah atau partai politik Bekerja bagi wanita adalah mubah, maka hendaklah laksanakan secara maksimal dahulu segala kewajiban sebelum merambah pada sesuatu yang mubah.

Sistem kehidupan kapitalis yang berlangsung saat ini tidak mendukung kaum wanita dan para ibu untuk menempati posisi dan menjalanan perannya yang sesungguhnya dengan baik sesuai dengan tuntunan syari’ah Allah SWT. Maka dari itu, agar kehidupan kaum wanita dan para ibu dapat menjalankan perannya dengan baik, maka setiap kaum muslim harus bersegera mewujudkan tegaknya Islam dan syari’ahnya di muka bumi ini sehingga masa depan generasi muda dan masyarakat seluruhnya juga menjadi baik sesuai dengan jalan keridhaan-Nya. Sehingga terwujudlah harmonisasi dalam kehidupan ini, dan dengan penerapan Islam secara kaffah akan terindera dengan sempurna bagaimana Islam adalah merupakan rahmatan lil a’lamiin.