Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Sunday, September 18, 2011

Materi Lingkar Kajian #2

Menggapai Keimanan Yang Hakiki

Sejarah manusia sesungguhnya tidak pernah sunyi dari para pencari Tuhan. Dengan dorongan religiositas (fitrah untuk beragama) dan juga spiritualitas, umat manusia selalu melakukan pencarian demi pencarian Tuhan Yang Sebenarnya. Bagi sebagian orang, agama menjadi jawaban. Namun demikian, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, jauh sebelum tampilnya agama-agama formal (di luar Islam) ke permukaan, dunia telah diramaikan oleh para filosof yang selalu terlibat dalam diskursus ketuhanan (teologi); bahkan dalam wacana tentang asal-usul alam semesta (ontologi) dan ilmu pengetahuan (epistemologi). Sebagian dari mereka benar-benar “menemukan” Tuhan. Akan tetapi, sebagian lainnya terlena dalam “igauan” yang tak jelas ketika mencoba memaksakan diri menjangkau esensi Tuhan yang sesungguhnya hingga tak sedikit yang masuk ke dalam perangkap ateisme.

Sementara itu, di kalangan sebagian kaum Muslim saat ini, keyakinan terhadap Allah masih saja dibungkus oleh hal-hal yang dogmatis dan irasional, ataupun hanya merupakan produk warisan turun-temurun. Kondisi ini sering melahirkan individu Muslim yang secara geneologis Islam (Muslim KTP), tetapi dari segi perilaku keseharian malah mengaburkan ajaran Islam. Paling banter, sebagai Muslim, mereka hanya menampilkan kesalihan simbolik dan artifisial. Sebab, di sini, kesalihan tidak lagi diukur oleh kerangka yang lebih substansial, yaitu syariat Islam sebagai sebuah totalitas.

Dalam konteks Islam, sikap keberagamaan demikian tentu saja kontraproduktif sekaligus kontradiktif terhadap semangat Alquran yang selalu memerintahkan manusia untuk mendasarkan keimanannya pada rasio (‘aql) dalam makna yang sesungguhnya; bukan sebatas dorongan intuisi keberagamaan saja, sebagai representasi dari fitrah beragama yang ada pada dirinya. Apalagi jika keimanannya hanyalah produk dari prasangka-prasangka Sebab keimanan (aqidah) itu itu sendiri, dalam Islam, sejatinya adalah “pembenaran yang pasti (tanpa ada keraguan sedikit pun), yang sesuai dengan realitas (bukan ide khayalan) yang didasarkan pada adanya bukti/dalil (baik dalil aqlî maupun naqlî).”

Oleh karena itu, hanya dengan menggabungkan keduanya, yakni religiusitas(fitrah keberagamaan)dan rasionalitas (pemikiran) — yang tentu saja harus berupa pemikiran yang tercerahkan (al-fikr al-mustanîr) — keimanan yang hakiki dan kokoh dapat diraih oleh manusia kepada Zat yang disebut Tuhan, yakni Allah SWT.

Pandangan Hidup Manusia

Perjalanan manusia di dalam realitas kehidupan ini akan selalu dikendalikan oleh suatu pandangan hidup yang diyakininya. Pandangan hidup manusia tentang dunia ini pada prinsipnya akan selalu terkait dengan tiga simpul besar yang beribu-ribu tahun silam dicoba dipecahkan oleh manusia. Simpul besar itu secara ringkas terkait dengan pertanyaan: (1) Darimana manusia berasal?; (2) Untuk apa manusia hidup?; dan (3) Akan ke mana manusia setelah mati?

Selintas, ketiga pertanyaan tersebut terkesan sangat sederhana. Akan tetapi, upaya pencarian jawaban dari ketiganya ternyata telah menguras tenaga dan pikiran banyak cendekiawan, filosof, ataupun ulama sejak lama. Mereka — baik hanya dengan mengandalkan kapasitas intelektual maupun spiritualnya, ataupun dengan melandaskannya pada “wahyu” dari Tuhan — telah berhasil memberikan jawaban atas ketiga persoalan mendasar itu; terlepas dari benar-tidaknya jawaban tersebut. Jawaban itulah yang sebetulnya menjadi pandangan hidup manusia, yang menjadi landasan (rel) bagi dirinya dalam menempuh perjalanan kehidupannya, dan sekaligus menjadi lokomotif yang menarik “gerbong” yang bernama manusia ke arah mana saja yang dia kehendaki.

Secara sederhana, ada tiga gagasan (ide) besar manusia yang memberikan jawaban yang berbeda terhadap ketiga pertanyaan di atas.

Pertama, ide yang meyakini bahwa kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya (serba kebetulan), dan bukan diciptakan dari ketiadaan. Manusia berasal dari materi dan akan kembali menjadi materi. Mereka tidak meyakini samasekali adanya Sang Pencipta. Tuhan, menurut mereka, hanya ilusi yang tidak layak dipercaya. Dengan menafikan eksistensi Tuhan, otomatis materi dianggap sebagai sesuatu yang azali. Oleh karena itu, tujuan utama manusia hidup pun mesti diorientasikan demi mencari kebahagiaan/kepuasan material di dunia ini. Dalam alam modern, pemahaman demikian direpresentasikan oleh mazhab sosialisme-komunis.

Kedua, ide yang meyakini bahwa seluruh kehidupan di dunia ini berasal (diciptakan) oleh Zat Yang Mahamutlak (Tuhan). Akan tetapi, Tuhan tak lebih dari sekadar “Pembuat Jam”. Ia hanya bertugas mencipta, tidak punya orotitas untuk mengatur dan mengendalikan dunia. Manusialah yang memiliki otoritas penuh untuk mengatur dunia dan dirinya sendiri. Di sini, manusia diposisikan sebagai “pusat”, sehingga segala sesuatu mesti dikembalikan pada kehendak manusia. Agama, dengan demikian, hanya mengisi salah satu ruang kosong yang ada pada batin manusia. Penganut ide ini berkeyakinan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan yang sepuas-puasnya di dunia (hedonisme). Mereka memang meyakini bahwa manusia akan kembali ke alam akhirat (kepada Tuhan). Akan tetapi, dimensi duniawi dan ukhrawi seolah tidak saling berhubungan. Pemahaman demikian, di alam modern ini direpresentasikan dengan baik oleh penganut mazhab kapitalisme-sekuler.

Ketiga, ide yang meyakini sepenuhnya Tuhan sebagai Sumber dari segala sesuatu. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Oleh karena itu, Tuhanlah Yang Azali, sementara selain Tuhan adalah fana. Tuhan juga memiliki otoritas penuh untuk mengatur dunia ini. Manusia hanyalah pelaksana dari aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan bagi dunia ini. Dengan demikian, di dunia ini tujuan utama hidup manusia harus diorientasikan semata-mata demi mengabdi (ibadah) kepada Tuhan. Bahkan, ibadah merupakan hakikat terpentingdari keberadaan manusia sebagai makhluk di hadapan Tuhan sebagai Al-Khâliq. Ketaatan atau pengingkaran terhadap kehendak Tuhan di dunia diyakini akan mendapatkan konsekuensi di akhirat (di samping di dunia ini). Dengan demikian, ada keterkaitan erat antara alam dunia dan alam akhirat. Pemahaman seperti ini bersumber sepenuhnya dari konsep Islam sebagai satu-satunya agama otentik — baik di masa lalu maupun di masa kini — yang bersumber dari Tuhan Yang Sebenarnya, yakni Allah swt. Inilah sesungguhnya pandangan yang benar karena ide ini adalah ide yang sesuai dengan fitrah manusia dan sesuai rasio (akal) yang berimplikasi pada akan melahirkan ketentraman dalam jiwa manusia.

Dari ketiga gagasan besar yang berbeda yang diberikan oleh masing-masing kelompok manusia di atas, kita akan melihat aturan-aturan hidup yang berbeda, yang merupakan derivasi (turunan) dari ketiga gagasan itu. Aturan-aturan itu secara niscaya akan menciptakan pola hidup (way of life) yang berbeda pula dari ketiga kelompok masyarakat penganut ketiga gagasan besar tersebut. Ringkasnya, kita akan menyaksikan perbedaan mendasar dari masing-masing kelompok masyarakat yang menganut cara hidup sosialis-komunis, kapitalis-sekuler, dan Islam.

Aqidah Islam

Konsepsi Islam meliputi aqidah Islam dan hukum-hukum syara’ yang berfungsi sebagai solusi atas berbagai problem kehidupan manusia; baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, seperti ibadah, dan hubungan manusia dengan sesamanya, seperti ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan dan politik luar negeri, maupun hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti akhlak, makanan dan pakaian. Maka, selain hukum-hukum tersebut, aqidah Islam merupakan konsepsi Islam yang pertama dan sekaligus asas bagi konsepsi yang lain.

‘Aqîdah, dalam bahasa Arab, berasal dari lafadz ‘aqada-ya’qidu- ‘aqîdatan. Lafadz tersebut mengikuti wazan fa’îlatan, yang berarti ma’qûdah (sesuatu yang diikat) , sedangkan menurut istilah, Aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh (konsep holistik) mengenai manusia, kehidupan, serta hubungan di antara semuanya dengan apa yang ada sebelum kehidupan (Pencipta) dan setelah kehidupan (Hari Kiamat), serta mengenai hubungan semuanya dengan apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan (syari’at dan hisab), yang dinyakini oleh kalbu (wijdân) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas (yang diimani), dan bersumber dari dalil.

Dalam konteks Islam, aqidah Islam bisa didefinisikan dengan pemikiran tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah, yang diyakini oleh kalbu (wijdân) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil.

Metode membangun keyakinan adalah melalui pembuktian terhadap realitas pemikiran (konsepsi) yang diyakini dengan dalil.

Hanya saja harus tetap difahami, bahwa konsepsi holistik tersebut telah memberikan batasan, bahwa aqidah merupakan pemikiran yang menyeluruh, bukan yang penting pemikiran. Sebab, pemikiran (konsepsi) tersebut ada dua; ada yang menyeluruh dan parsial. Demikian halnya dengan sifat “yang diyakini kalbu” adalah batasan, bahwa ada pemikiran yang diyakini kalbu dan tidak diyakini. Tentu saja pemikiran yang tidak diyakini kalbu tidak dapat dijadikan sebagai aqidah. Namun tidak hanya itu, sebab sifat “dan dibenarkan (diterima) oleh akal” sekaligus menguatkan penegasan berikutnya, bahwa ada pemikiran yang diyakini kalbu, tetapi tidak diterima oleh akal dan ada yang diterima. Maka, pemikiran yang diyakini kalbu tetapi tidak diterima oleh akal, karena kontradiksi dengan realitasnya, tentu tidak bisa dijadikan sebagai aqidah.

Dengan demikian, pada dasarnya aqidah merupakan keyakinan yang bulat, sesuai dengan realitas dan bersumber dari dalil, atau merupakan sesuatu yang diyakini oleh kalbu (wijdân) yang diterima oleh akal. Adapun sesuatu yang diyakin oleh kalbu, harus bersifat pasti dan tegas. Artinya, jika kalbu menyakini sesuatu bermakna A adalah A, dan bukan A dikatakan B, atau B dikatakan C. Inilah yang disebut pasti dan tegas. Namun jika kalbu yang membenarkan dengan bulat tersebut tidak bisa menemukan realitasnya, timbullah keraguan hingga akhirnya keyakinan tadi menjadi pupus dan hilang.Inilah yang dimaksud “sesuai dengan realitas” atau “diterima oleh akal”. Sebab, akal tidak akan bisa menerima sesuatu yang kontradiksi dengan realitas, atau realitasnya tidak ada. Inilah realitas aqidah.

Karena keimanan seorang muslim wajib 100% yakin, maka tidak ada taqlîd pada orang lain dalam

masalah keimanan ini. Karena itu, al-Ghazâli menyatakan bahwa taqlid adalah mengikuti pendapat tanpa hujah dan hal itu bukanlah jalan memperoleh keyakinan, baik dalam bidang aqidah maupun syariah.

Jika dalam masalah aqidah tidak ada taqlîd pada orang lain, maka setiap muslim wajib menggali sendiri aqidahnya. Karena itu, dia harus memahami dalil-dalil yang dapat digunakan, termasuk cara menggunakannya sehingga sampai kepada kongklusi yang diharapkan. Lahirnya aqidah yang teguh dan selamat dari cacat dalam diri tiap muslim adalah sebuah kewajiban. Dan inilah yang pertama kali harus diupayakan oleh seorang muslim yang mukallaf. Dalam konteks inilah, as-Syâfi’imengatakan

“Ketahuilah, bahwa kewajiban yang pertama kali bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat (mengenal) Allah SWT. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu. Dalam keadaan orang yang berfikir tersebut dituntut untuk mengenal Allah. Dengan cara seperti itu, dia mampu mencapai ma’rifat kepada hal-hal yang gaib dari pengamatannya dengan indera, dan aktivitas tersebut merupakan suatu kewajiban. Hal ini merupakan kewajiban dalam bidang ushuluddin.”

Lalu, bagaimana padangan Islam mengenai keimanan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah?

be continued…

Sunday, September 11, 2011

Materi 1 Lingkar Kajian

Chapter 1 Alhamdulillah Aku Masuk ITB

ITB, Institut Teknologi Bandung… Sebuah kampus yang namanya sangat tersohor seantero wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Bahkan tidak hanya untuk Indonesia, dunia internasional pun mengakui keberadaannya. Banyak orang tua yang berharap anaknya bisa mengenyam pendidikan di kampus ini. Para pelajar pun tidak sedikit yang ingin menjadi bagian dari keluarga besar ITB. Layaknya teori ekonomi, semakin banyak peminat sedangkan barang tersedia dalam jumlah terbatas maka nilai jualnya pun meningkat. Inilah ITB, kampus yang hanya membukakan pintunya untuk para pelajar terpilih, mereka adalah tunas-tunas terbaik bangsa yang berasal dari seluruh penjuru negeri yang terseleksi dengan ketat, hanya yang terbaik dari yang terbaik yang bisa menyandang predikat “MAHASISWA ITB”. Maka bukanlah hal yang aneh jika setiap kali masa penerimaan mahasiswa baru tiba, spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG PUTRA PUTRI TERBAIK BANGSA” selalu terpampang menyambut para calon pemimpin baru negeri ini.

Sebuah Kilas Balik
Sejarah ITB nyaris seusia dengan republik ini, bahkan mungkin jauh lebih tua. Kampus utama ITB saat ini merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Pada tahun 1920, ITB berdiri dengan nama Technische Hogeschool (TH), sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan Belanda akan SDM untuk perusahaan-perusahaan Belanda. Seiring dengan dikumandangkannya kemerdekaan Republik Indonesia, maka TH pun bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 dan terus bertransformasi menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintahan yang memegang status quo. Sebagaimana ITB yang dinamis, kemahasiswaan yang ada di dalamnya pun tidak kalah dinamis dalam bertranformasi hingga mampu memberikan warna dalam sejarah republik ini. Tahun 1945, ketika ITB bernama Sekolah Tinggi Teknik Bandoeng para mahasiswa STTB pun turut melakukan perjuangan heroik dalam upaya merebut kemerdekaan. Nama-nama mahasiswa yang gugur diabadikan pada tugu ganesha (tugu dengan metal berbentuk kubik antara gerbang selatan ITB dan taman ganesha). Tahun 1966, terlibat dalam perjuangan TRITURA, bersama rakyat juga berperan dalam upaya pembersihan PKI. Selama pemerintahan orba, mahasiswa juga turut mengawal pemerintahan. Seiring dengan pemerintahan Soeharto yang represif,para mahasiswa berkali-kali menunjukkan kritikan mereka yang sangat tajam terhadap pemerintah. Pada tahun 1978, Keluarga Mahasiswa ITB menyusun Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Buku Putih diluncurkan pada aksi mahasiswa ITB, 16 Januari 1978 di lapangan basket dan dihadiri 2000 mahasiswa. Aksi ini diakhiri dengan pernyataan sikap “Tidak Mempercayai dan Tidak Menghendaki Soeharto Kembali Menjadi Presiden RI, KM ITB”. Spanduk bertuliskan pernyataan mahasiswa ini dipasang di depan Gerbang Ganesha. Para mahasiswa pun sempat mengalami friksi dengan kalangan militer yang berujung pada pendudukan kampus oleh militer. Benturan antara mahasiswa dan pemerintah semakin menguat. Berbagai tuntutan yang diajukan mahasiswa berhasil mengguncang pemerintah. Banyak aktivis yang ditangkap dan dipenjara. Dimulailah babak baru normalisasi kehidupan kampus pada tahun 1978 yang ditandai dengan pemberian skors dan pelarangan mahasiswa lama untuk berkuliah dan hanya mengizinkan mahasiswa angkatan 78 yang berkuliah. Masa ajaran pun diubah dari Januari-Desember menjadi Juni-Juli serta dilakukan pembubaran dewan mahasiswa. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peranan yang besar dalam kehidupan bernegara. ITB khususnya telah menjadi institusi yang melahirkan generasi-generasi yang mewarnai kehidupan NKRI.

Kini Saatnya Kita Bercermin!
Kini, kita perlu merefleksikan diri. apa yang akan kita lakukan setelah ini? Sadarkah kita, berhasil menjadi salah satu mahasiswa ITB merupakan salah satu nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada kita? Apakah kita berani menyombongkan diri dengan mengatakan bahwasanya keberhasilan kita saat ini murni karena usaha dan kerja keras kita sendiri? Kita pun tidak dapat menafikan begitu banyak pelajar lain yang telah berusaha dengan begitu kerasnya agar dapat menjadi bagian dari institut terbaik di Indonesia ini, tetapi belum juga berhasil. Lalu adakah alasan bagi kita untuk tidak bersyukur?
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55]: 13)

Bagaimana Wujud Syukur Itu?
Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah swt. Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah swt berfirman
Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu. (QS. Al-Baqarah[2]: 152)

Ali Ashshabuni dalam Shafwaat al-Tafaasir menyatakan,
Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan.
sedangkan firman Allah swt,
bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu,
bermakna:
Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya, “Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?” Rabbnya menjawab, “Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir I/142)

Di ayat yang lain Allah swt menyatakan, artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172)

Ulama-ulama tafsir menafsirkan ayat ini dengan “jika kalian benar-benar menyembah kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah swt dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah swt serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seorang yang selalu taat kepada Allah swt, menjalan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah swt. Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari‘at Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah swt telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah swt berfirman, artinya:
Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.(QS. Yunus [10]: 60)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]: 243)

Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering melupakan Allah swt. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada Allah. Namun, setelah terlepas dari penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah swt. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas
Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo‘a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya. (QS. Al-An‘aam [6]: 63-64)

Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah swt. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah swt agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan, bencana alam dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah swt. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah swt? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari‘at Islam dan selalu berdzikir kepada Allah swt?

Karena Kita Bukanlah Mahasiswa Biasa, Lakukanlah Hal yang Luar Biasa!
Seperti sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, menjadi bagian dari keluarga besar ITB merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan bagi kita dan tentunya kita perlu menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah dengan semakin meningkatkan ketaatan kepadaNya.
Islam berhasil mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang mampu menaklukan imperium Romawi dan Persia. Jika bukan karena cahaya Islam, tidak mungkin masyarakat Arab saat itu mencapai kegemilangan. Sejarah juga telah membuktikan begitu banyak ilmuwan-ilmuwan yang telah dilahirkan Islam ketika Barat berada dalam Masa Kegelapan. Hal yang menarik adalah ilmuwan-ilmuwan ini tidak hanya cerdas dalam urusan ilmu-ilmu teknis keduniaan, tetapi juga mereka adalah para penghafal Al-Quran, ahli hadits, dan ahli fiqih, suatu fenomena yang sangat jarang kita temui saat ini ketika banyak diantara kita yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat.

Di kampus ini, di kampus yang para mahasiswanya selalu ingin menjadi yang terbaik, ketika persaingan begitu ketat, ingatlah satu pesan dari junjungan kita, nabi besar Muhammad saw,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ, أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
"Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara." (HR. Bukhari no. 6416 )

Ath Thibiy mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata." (Dinukil dari Fathul Bariy, 18 /224 )

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata :
Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat” (HR. Thabrani di dalam Ash-Shaghir)

Teringat sebuah pesan, “Berusahalah engkau di dunia, seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan Beribadahlah engkau, seolah-olah engkau akan mati esok.”

Maka… sesibuk apapun kita beraktivitas di kampus ini… jangan sampai membuat kita melupakan agama kita. Teruslah menggali ilmu Islam sebagai bekal kita kembali kepadaNya…

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah Ta’ala kepadanya jalan ke surga” (Dari Abu Hurairah HR Muslim).

Abu Dzar R.A menyampaikan bahwa Rasulullah SAW berkata: “Bahwa sesungguhnya engkau berjalan pergi mempelajari suatu bab dari Ilmu adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus rakaat” (HR Ibnu Abdul-Birri).

This Dunya (World) Is Like A Shadow, Run After It And You Will Never Be Able To Catch It, Turn Your Back Against It And It Has No Choice But To Follow You [Ibn Al-Qayyim]


wallahu'alam bi ash-shawab

Pembagian Jadwal dan Kelompok LiKa

…Bismillaah…

Jadwal dan Kelompok Lingkar Kajian (LiKa) female HATI


Senin (Waktu : 11.15 – 12.45 WIB)

Pengisi : Teh Ismi

Kakak Wali : Teh Syifa dan Teh Ristri

Kelompok 1 LiKa:

1.Zainiyatul Hamidah (FTSL)

2.Annisa Athifah (FTSL)

3.Dwi Purwaningsih (FTSL)

4.Meri Suryani (FTSL)

5.Siti Hajar Aswad (FITB)

6.Nadira Aliya (FTI)

7.Annur Dyah (FTI)

8.Mareta Faryanti (SAPPK)


Sabtu (Waktu : 09.00 – 11.00 WIB)

Pengisi : Teh Sally

Kakak Wali : Teh Nia dan Teh Nilam

Kelompok 2 LiKa:

1.Siti Mulyani (SF)

2.Aulia Septiani (SF)

3.Rita Purnamasari (SF)

4.Lika Rosliana (SITH)

5.Nur Faizatus Sa’idah (FMIPA)

6.Nining .R (FMIPA)

7.Hanani Dissy Ladiba (FMIPA)

8.Nurafni Eka Agustina (STEI)

9.Samantha Harisa (STEI)

10.Anis Riswati (FTI)


Sabtu (Waktu : 13.00 – 15.00 WIB)

Pengisi : Teh Rini

Kakak Wali : Teh Dinan dan Teh Gina

Kelompok 3 LiKa:

1.Khoirunnisa Istiqomah (SITH)

2.Wilma Fitri (FITB)

3.Nur Ainiyah (FITB)

4.Nuriza Wardi (SAPPK)

5.Qisthi Khuril Wazni (SAPPK)

6.Novi Briliyanti (SAPPK)

7. Arintha Teuyana .R (FTTM)

8.Nur Fatonah (FTTM)

9.Anita Cahyu Sentika (FMIPA)

10.Riska Sapitri (FMIPA)

11.Riendu Friesty Florina Ises (FMIPA)

12.Endah Burdatul Hasanah (FMIPA)

Monday, August 8, 2011

Al-Qarawiyyin Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Universitas-Universitas di awal Peradaban Islam
  • 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
  • 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
  • 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
  • 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
  • 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
  • 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
  • 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
  • 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris.(rpb)

sumber: suara media