Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Monday, August 8, 2011

Al-Qarawiyyin Perguruan Tinggi Tertua di Dunia


Peradaban Islam di era keemasan selalu tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah mencatat, para ilmuwan Muslim telah sukses membidani lahirnya lembaga pendidikan tinggi bernama universitas (jami'ah). Ketika 'rahim' peradaban Islam melahirkan universitas, tak ada satu pun peradaban di muka bumi yang mengenal sistem pendidikan tinggi.

Universitas alias jami'ah pertama yang lahir dari rahim peradaban Islam adalah Universitas Al-Qarawiyyin (Jami'ah Al-Qarawiyyin). Perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko itu didirikan pada tahun 859 M. Tak heran, jika Guinness Book of World Records pada tahun 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di seantero jagad yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 secara menarik menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez. Syahdan, di awal abad ke-9 M, ketika Fez masih seperti sebuah dusun, sang penguasa wilayah itu berdoa sembari menangis. ''Ya Allah, jadikanlah kota ini sebagai pusat hukum dan ilmu pengetahuan, tempat di mana kitab suciMu, Alquran akan dipelajari dan dikaji.''

Doa sang penguasa itu akhirnya dikabulkan. Fatimah Al-Fihri, puteri seorang saudagar kaya-raya bernama Muhammad Al-Fihri akhirnya mewujudkan impian sang penguasa Fez itu. Fatimah dan saudaranya Mariam adalah dua perempuan terdidik yang mewarisi harta yang melimpah dari sang ayah. Fatimah lalu menggunakan harta warisannya itu untuk membangun sebuah masjid.

Cikal bakal Universitas Al-Qarawiyyin pertama di muka bumi itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekadar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu meluber. Sehingga, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya. Seorang calon mahasiswa harus selesai mempelajari seluruh Alquran serta menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu umum.

Dari masa ke masa, Universitas Al-Qarawiyyin selalu mendapat perhatian dari para sultan yang berkuasa. Para sultan tak pernah lupa untuk menyokong kegiatan keilmuan yang dilakukan universitas itu. Tak heran, bila subsidi serta dana kas negara secara khusus dialokasikan untuk menopang kegiatan akademik. Selain bantuan dana, para sultan juga menyuplai buku untuk universitas itu.

Universitas tertua di dunia itu tercatat berhasil mengumpulkan sejumlah risalah penting dari berbagai disiplin ilmu. Kompilasi manuskrip penting itu disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu-Annan, penguasa Dinasti Marinid. Beberapa risalah penting yang tersimpan di perpustakaan itu antara lain; 'Mutta of Malik', ditulis tahun 795 M; Sirat Ibn Ishaq, ditulis tahun 883 M, salinan kitab suci Alquran yang dihadiahkan Sultan Ahmed Al-Mansur Al-Dhahabi kepada universitas tahun 1602.

Selain itu, perpustakaan itu juga menyimpan salinan asli buku karya Ibnu Khaldun berjudul 'Al-'Ibar'. Ilmuwan Muslim terkemuka itu menghadiahkan buku yang ditulisnya itu kepada perpustakaan itu tahun 1396 M. Selama 12 abad lamanya, Universitas Al-Qarawiyyin telah menjelma menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan spiritual terkemuka dan penting di dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Sebagai kawah candra dimuka bagi para ilmuwan, universitas ini telah meluluskan sederet sarjana dan ilmuwan Muslim terkemuka, seperti Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti (wafat 1321 M), Ibnu Al-Haj Al-Fasi ( wafat 1336 M) serta Abu Madhab Al-Fasi - yang memimpin generasinya dalam mempelajari faham Maliki.

Peradaban Barat tampaknya turut berutang budi kepada Universitas Al-Qarawiyyin. Betapa tidak, di abad pertengahan perguruan tinggi yang terletak di kota Fez itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Transfer pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang di Universitas Al-Qarawiyyin ke Eropa itu dilakukan melalui sejumlah ilmuwan Muslim yang mengajar atau belajar di kota Fez.

Para ilmuwan itu antara lain; filosof dan ahli agama Yahudi, Ibnu Maimun (1135 M - 1204 M) yang dididik oleh Abdul Arab Ibnu Muwashah di Al-Qarawiyyin; Geografer dan kartografer (pembuat peta) Al-Idrissi (wafat 1166 M) juga pernah bekerja serta belajar di universitas ini. Selain itu, sejumlah ilmuwan Muslim lainnya yang juga sempat mengajar di perguruan tinggi pertama di dunia itu antara lain; Ibn Al-'Arabi (1165-1240), Ibnu Khaldun (1332-1395), Ibnu Al-Khatib, Alpetragius, Al-Bitruji, dan Ibnu Harazim.

Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II, turut menjadi saksi keunggulan Universitas Al-Qarawiyyin. Sebelum menjadi Paus, Gerbert of Aurillac (930 M - 1003 M) sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini. Aurillac mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa. Pada tahun 1540 M, ilmuwan Belgia, Nichola Louvain pun tercatat sempat belajar bahasa Arab di Universitas Al-Qarawiyyin.

Selain itu, sejarawan Muslim bernama Joannes Leo Africanus juga sempat belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Hingga kini, universitas ini tetap mendidik dan mencetak para sarjana dari berbagai bidang. Sumbangan yang diberikan universitas ini bagi pengembangan ilmu agama Islam serta dunia ilmu pengetahuan begitu besar.

Obor Renaisans dari Kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin secara tak langsung memiliki peran penting dalam proses Renaisans yang terjadi dalam peradaban Barat di abad ke-15 M. Melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas tertua ini, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan 'kegelapan'.

Tak heran, bila Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menabalkan Universitas Al-Qarawiyyan sebagai obor Renaisans di Fez, Maroko. Pemimpin tertinggi agama Katolik bernama Paus Sylvester II bahkan pernah menimba ilmu di universitas itu. Ia belajar matematika di universitas itu dan kemudian mengajarkannya pada murid-muridnya di Eropa.

Selain itu, banyak pula tokoh penggerak Renaisans di Barat yang terpengaruh dengan ilmuwan Muslim yang mengajar di Universitas Al-Qarawiyyan. Kehadiran universitas di dunia Muslim pun turut memicu berdirinya perguruan tinggi di Eropa. Bila dunia Islam telah memiliki universitas di abad ke-9 M, masyarakat Barat baru mengenal sistem pendidikan tinggi pada abad ke-11 M.

Perguruan tinggi pertama yang didirikan oleh peradaban Barat adalah Universitas Bologna di Italia. Universitas itu didirikan pada tahun 1088 M. Sejatinya, Universitas Balermo bukanlah pergurun tinggi pertama yang berdiri di tanah Eropa. Ketika Islam menguasai Sicilia - wilayah selatan Italia - di Palermo telah berdiri universitas Islam terkemuka yakni Universitas Balerm atau Palermo.

Hal itu sesuai dengan catatan perjalanan penjelajah Muslim terkemuka Ibnu Hawqal. Dalam catatan perjalanannya berjudul Al-Masalik wal MamlikI menuturkan, pada tahun 972 M di wilayah Italia Selatan itu telah berdiri Universitas Palermo. Selain itu, di Cordoba, Spanyol juga peradaban Islam pada era kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III yang berkuasa pada tahun 929 M - 961 M juga telah mendirikan Universitas Cordoba di daratan Eropa.

Universitas lainnya mulai muncul di negara lain di Eropa, seperti Inggris dan Prancis mulai abad ke-12 M. Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia selalu disebut sebagai lembaga pencerahan. Namun, Lyautey, seorang Jenderal Prancis yang memimpin pasukan di Maroko pada era kolonial menyebut Al-Qarawiyyin sebagai the Dark House (Rumah Kegelapan). ''Sebuah komentar dari orang yang tak menghormati peradaban,'' ungkap para sejarawan.

Universitas-Universitas di awal Peradaban Islam
  • 859 M: Universitas Al-Qarawiyyin berdiri di kota Fez, Maroko. Inilah universitas tertua di dunia menurut Guinness Book of World Records.
  • 975 M: Universitas Al-Azhar berdiri di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini mengajarkan ilmu agama, hukum, tata bahasa, filsafat dan logika.
  • 1233 M: Universitas Mustansiriya didirikan Khalifah Al-Mustansir penguasa Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1962 bergabung dengan Universitas Baghdad. Setahun kemudian kembali ke nama semula.
  • 1327 M: Nun jauh di Timbuktu, Mali berdiri Universitas Sankore yang didirikan Kankan Musa.
  • 1453 M: Ketika Kerajaan Ottoman berkuasa, di Istanbul berdiri Universitas Istanbul. Awalnya merupakan sekolah tingi filsafat dan ilmu agama. Kini, telah menjadi universitas sains dan seni terkemuka di Turki.
Di Barat
  • 1088 M: Berdiri Universitas Bologna di Italia.
  • 1150 M: Berdiri Universitas Paris, di Prancis.
  • 1167 M: Berdiri Universitas Oxford di Inggris.(rpb)

sumber: suara media

Sunday, May 29, 2011

Tulisan LiKa episode 9

Sosialisme
oleh Dinan. M


Pada saat masa kegelapan di Eropa, agama sangat mendominasi. Pada saat itu agama digunakan untuk memeras rakyat oleh para penguasa melalui gerejawan dan pemuka agama. Karena kehidupan pada masa itu sangat terpuruk, para kaum cendekiawan mulai berontak untuk memperoleh kebebasan. Akhirnya, agar kedua pihak tidak dirugikan, diambillah jalan tengah untuk memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya berlaku di tempat-tempat ibadah, sedangkan kehidupan diatur dengan peraturan yang dibuat manusia. Sejak saat itu, kebebasan individu sangat dijunjung tinggi, terutama dalam bidang ekonomi.
Setelah sekian lama sistem pemisahan tersebut berjalan, muncul gap yang sangat tinggi terutama dalam kesejahteraan masyarakat karena sistem ekonomi menitikberatkan pada individu. Masyarakat terbagi menjadi kaum borjuis dan kaum proletar (kaum kelas bawah). Karena gap yang sangat tinggi ini, pemikir-pemikir dari kaum proletar mulai berpikir tentang suatu sistem yang di dalamnya tidak ada kelas-kelas masyarakat. Inilah awal munculnya pemikiran tentang sosialisme.
Salah satu tokoh sosialisme adalah Karl Marx. Ia sebenarnya mengadopsi pemikiran tentang sosialisme dari Hegel. Walaupun Hegel memiliki pemikiran tentang sosialisme, ia masih mempercayai Tuhan. Akan tetapi, Marx hidup dalam masa di mana agama digunakan dengan sewenang-wenang sebagai alat penguasa, dan fakta bahwa agama hanya sebagai ritual saja. Oleh karena itu, versi sosialismenya mengkritik pemikiran Hegel akan agama. Ia mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia, dan hanya melemahkan manusia. Ia juga berpendapat pikiran manusia sendirilah yang menciptakan agama. Marx sangat membenci keberadaan agama.
Sosialisme Marx muncul sebagai antitesis dari kapitalisme dan sebagai balas dendam kepada para penguasa kapitalisme. Saat itu, Marx melalui pemikirannya ingin mengubah keadaan masyarakat dari sisi politik dan ekonomi. Perpolitikan pada masa itu hanya dikuasai kaum borjuis karena ongkosnya sangat besar. Ia ingin politik menjadi milik bersama. Dari sisi ekonomi, ia ingin menghilangkan kepemilikan individu, dan tujuan inilah hal yang paling menonjol dari sosialisme.
Sosialisme dan komunisme menurut Marx sama saja, hanya penempatannya yang berbeda. Untuk menciptakan keadaan puncak di mana tidak ada lagi kelas dalam masyarakat, diperlukan fase sosialisme. Fungsi fase ini adalah mengkondisikan ide-ide sosialisme seperti contohnya dalam hal kepemilikan. Karena itulah masih dibutuhkan negara dalam fase ini, untuk menjaga ide-ide di masyarakat. Sedangkan keadaan puncak di mana sudah tidak ada kelas merupakan fase komunisme, pada fase ini sudah tidak dibutuhkan lagi adanya negara.
Dasar dari sosialisme adalah paham materialisme, yang menganggap segalanya berasal dari materi, akan kembali menjadi materi, dan kehidupan merupakan suatu siklus materi. Atas dasar ini lahirlah peraturan yang mengatur kehidupan yang tujuannya hanya materi. Karena awal dari segala sesuatu adalah materi, jelas pemikiran ini menolak mengakui keberadaan Tuhan dalam kehidupan. Hal ini sangat bertentangan dengan aqidah Islam yang dasarnya adalah mengakui keberadaan Allah swt. sebagai pencipta. Oleh karena itu, dalam kehidupan di dunia harus berdasarkan perintah Allah, dan tujuan hidup adalah keridhoan Allah semata. Karena itu pemikiran sosialisme tidak layak kita ambil, karena dari aqidah yang mendasarinya pun sudah batil, dan tentu saja pemikiran yang beraqidah batil akan menghasilkan sistem pengaturan kehidupan yang cacat.

Diktif#3

Wanita karir

oleh Rd.Rini.K


“Apasih wanita karir itu?”, selama ini sering terdengar orang menganggap yang dimaksud wanita karir itu “wanita yang kerja kantoran”. Dan seakan-akan hanya “wanita karir” tadilah yang akhirnya ‘terpaksa’ menjadi ibu rumah tangga. Lebih-lebih lagi, ada yang menyatakan wanita yang bukan ‘wanita karir’ itu sendiri yang minder, dan mengatakan aku ‘cuma’ ibu rumah tangga biasa. Seolah-olah wanita yang hebat, pintar, cantik, kaya, keren, dsb tadi adalah wanita karir, dan sisanya yang tidak bisa apa-apa, atau strata pendidikannya masih rendah itu masuk kategori ‘ibu rumah tangga’.

Secara definisi, wanita karir bermakna adalah seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius (mengalahkan sisi kehidupan yang lain). Dan saat ini, waita karir telah manjadi sebuah fenomena dibuktikan oleh data statistik BPS yang menunjukkan bahwa jumlah partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan setiap tahunnya. Selama Februari 2006 sampai Februari 2007 saja misalnya, jumlah pekerja perempuan bertambah 2,12 juta orang sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang.

Secara garis besar, alasan wanita mulai merambah pada dunia karir ada 2 hal, pertama adalah dorongan ekonomi dan alasan meraih prestise. Kondisi ekonomi mendorong wanita untuk bekerja, dan tak sedikit yang akhirnya waktu banyak terpakai untuk aktivitas pekerjaan. Namun kembali pada definisi, dikatakan bahwa karir adalah rangkaian sikap dan prilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Sehingga wanita berkarir merupakan kesempatan mengaktualisasikan diri, dan memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya dengan cara yang kreatif dan produktif untuk menghasilkan sesuatu yang dapat mendatangkan kebanggaaan terhadap dirinya. Alasan ini lebih cenderung pada alasan kedua, yakni untuk meraih prestise.

Kehidupan kaum muslimin saat ini tengah didominasi oleh ideologi kapitalisme. Tak terkecuali kehidupan sebagian perempuan telah dirasuki paham ini. Nilai segala sesuatu diukur dengan materi, kebahagiaan bermakna kelimpahan materi dan kebebasan individu begitu diagungkan (bahkan nilai agama dianggap salah apabila bertentangan dengan nilai kebebasan individu). Dengan standar nilai materi ini, peran ibu menjadi inferior karena dianggap tidak bernilai ekonomi.

Menyinggung tentang peran wanita di luar rumah, tak lepas dari wacana yang banyak digulirkan, yaitu emansipasi atau keadilan dan kesetaraan gender (KKG) yang diusung oleh kalangan feminis. “Menjadi ibu rumah tangga atau bergelutnya wanita dalam lingkup domestik merupakan kemunduran” adalah sekelumit citra yang kuat tertanam sebagai buah dari propaganda isu KKG. Dengan ini, para wanita pun terpacu untuk mengejar karir meski hanya untuk meraih simbol status. Padahal tanpa disadari, banyak hal yang mereka pertaruhkan di sini.

Feminis dalam pengertian yang luas adalah gerakan kaum perempuan untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya

Allah memberika posisi yang beragam pada laki-laki dan perempuan yaitu sebagai hamba Allah, anggota keluarga dan anggota masyarakat. Sebagai hamba Allah, Islam memandang laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakannya hanyalah ketakwaannya saja, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sebagai anggota masyarakat, wanita memiliki tugas menjadi anak, istri, dan ibu. Kewajiban utama perempuan setelah ia menikah adalah sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga), kewajiban ini tidak bisa digantikan oleh orang lain. Keluarga adalah pondasi dan pendidikan utama dalam membentuk suatu generasi, dan disanalah pentingnya peran seorang ibu.

Allah SWT telah memberi kedudukan mulia bagi kaum wanita dengan menetapkan mereka menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, karena Allah Pencipta segenap makhluk sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Karena peran perempuan ini menjadi penopang utama ketentraman dan ketenangan dalam keluarga. Dengan kesempurnaan peran perempuan sebagai ibu akan terlahir generasi pemimpin masa depan yang akan mengantarkan umat Islam menjadi terdepan.

Sebagai anggota masyarakat, wanita juga memiliki kewajiban untuk ikut terlibat dalam mengurusi ummat yang merupakan definisi politik dalam islam, yakni berkewajiban untuk menasehati dan mengoreksi penguasa, serta berkewajiban untuk terlibat dalam kelompok dakwah atau partai politik Bekerja bagi wanita adalah mubah, maka hendaklah laksanakan secara maksimal dahulu segala kewajiban sebelum merambah pada sesuatu yang mubah.

Sistem kehidupan kapitalis yang berlangsung saat ini tidak mendukung kaum wanita dan para ibu untuk menempati posisi dan menjalanan perannya yang sesungguhnya dengan baik sesuai dengan tuntunan syari’ah Allah SWT. Maka dari itu, agar kehidupan kaum wanita dan para ibu dapat menjalankan perannya dengan baik, maka setiap kaum muslim harus bersegera mewujudkan tegaknya Islam dan syari’ahnya di muka bumi ini sehingga masa depan generasi muda dan masyarakat seluruhnya juga menjadi baik sesuai dengan jalan keridhaan-Nya. Sehingga terwujudlah harmonisasi dalam kehidupan ini, dan dengan penerapan Islam secara kaffah akan terindera dengan sempurna bagaimana Islam adalah merupakan rahmatan lil a’lamiin.

Wednesday, April 27, 2011

Tulisan Kajian Internal

tema : Wanita Karir
Oleh Sarah Ismi Kamilah


Definisi dan Fakta mengenai Wanita Karir

Setelah diteliti lebih dalam, definisi dari wanita karir yaitu wanita yang lebih memprioritaskan pada pekerjaan dan ingin terus menambah nilai, jenjang dan memiliki motivasi yang kuat untuk meraih presisi yang tinggi. Nah, sebenarnya perlu ada pengkhususan yang hendak kita kaji dan dijadikan diktif ketiga ini. Setelah ismi fahami alur pembicaraan kajian kita seperti mengarah pada wanita pekerja, padahal wanita karir dan wanita pekerja itu terdapat perbedaan yang mendasar meskipun seolah-olah istilah yang digunakannya sama. Kalau wanita pekerja itu kurang presisi dari wanita karir. Karena jika dipertanyakan, “apakah wanita yang berprofesi sebagai buruh juga termasuk wanita karir?” Sehingga perlu ada penjelasan lagi tema yang akan kita kaji. Apakah mau merubah temanya menjadi wanita pekerja (working girl) atau bagaimana. Tapi untuk sementara di tulisan ini masih dipakai istilah wanita karir.

Menjadi wanita karir sudah merupakan fenomena yang biasa di zaman moderen ini. Fenomena ini dibuktikan oleh data statistik BPS yang menunjukkan bahwa jumlah partisipasi perempuan dalam lapangan kerja meningkat signifikan setiap tahunnya. Selama Februari 2006 sampai Februari 2007 saja misalnya, jumlah pekerja perempuan bertambah 2,12 juta orang sedangkan jumlah pekerja laki-laki hanya bertambah 287 ribu orang. Bagi sebagian wanita, bekerja merupakan kesempatan mengaktualisasikan diri. Bekerja memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya dengan cara yang kreatif dan produktif untuk menghasilkan sesuatu yang dapat mendatangkan kebanggaaan terhadap dirinya. Melalui bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya, dan pencapaian tersebut mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan (Rini, 2002 dalam Dewi, 2006).

Namun tidak sedikit juga wanita yang bekerja demi memenuhi kebutuhan finansial mereka. Entah itu karena faktor kemiskinan, menambah penghasilan suami, sekedar mencari tambahan untuk membantu orang tuanya, atau untuk memenuhi tuntutan gaya hidup modern yang konsumtif. Meningkatnya jumlah wanita bekerja dengan berbagai alasan ini dapat berdampak pada pergeseran peran wanita dari sektor domestik ke publik. Selanjutnya, dengan alasan profesionalisme, banyak wanita bekerja tidak ingin menikah, tidak mau hamil, tidak menyusui anaknya, meninggalkan bayinya kapan pun, mengabaikan pendidikan anaknya, tidak taat pada suami, tidak mau terikat dengan pekerjaan rumah tangga dan bebas berinteraksi dengan laki-laki manapun. Sungguh, sistem sosial yang rusak dan ancaman lost generation sudah di depan mata.


Analisis: Latar belakang, Konspirasi dibalik wanita karir, Implikasi dari realita (dalam kaca mata kapitalisme)

Latar belakang munculnya fenomena wanita karir ini diilhami oleh sebuah faham yaitu feminisme. Feminis ini sendiri mengandung pengertian yang luas yaitu gerakan kaum perempuan untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya (Ratna, 2004 dalam Luthfi, 2010). Feminisme secara umum berarti ideologi pembebasan perempuan karena ada keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm dalam Luthfi, 2010). Feminisme pada dasarnya mempunyai relasi erat dengan gender sebagai fenomena budaya. Gerakan feminisme menjadi gugatan terhadap konstruksi sosial dan budaya yang meminggirkan peran perempuan (Abdullah, 1997 dalam Luthfi, 2010).

Menurut kalangan feminis, perempuan secara intelektual sama dengan laki-laki. Mereka berasumsi bahwa pembebasan/liberalisasi perempuan merupakan pondasi untuk mencapai kemajuan. Ketika perempuan berhasil memperoleh kebebasan dan independensinya, berarti mereka telah keluar dari status inferiornya. Oleh karena itu mereka juga berasumsi bahwa perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga dianggap sebuah kemunduran yang menjadikan perempuan eksklusif karena kehilangan partisipasinya dalam masyarakat.

Akibatnya tumbuh jiwa bersaing di segala bidang antara dua insan laki-laki dan perempuan. Tatanan yang semula berjalan harmonis dengan pembagian peran dan posisi yang jelas menjadi goyah karena seruan ketidakadilan bergaung di segala sisi. Runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, kasus penelantaran anak, kenakalan anak-anak remaja (free sex, aborsi), sindrom ciderella complex, eksploitasi perempuan, pelecehan seksual, dll ditengarai kuat sebagai efek langsung dari propaganda keadilan dan kesetaraan gender.

Kehidupan kaum muslimin saat ini tengah didominasi oleh ideologi kapitalisme. Tak terkecuali kehidupan sebagian perempuan telah dirasuki paham ini. Nilai segala sesuatu diukur dengan materi, kebahagiaan bermakna kelimpahan materi dan kebebasan individu begitu diagungkan (bahkan nilai agama dianggap salah apabila bertentangan dengan nilai kebebasan individu). Dengan standar nilai materi ini, peran ibu menjadi inferior karena dianggap tidak bernilai ekonomi. Begitu pula jika ada perempuan yang membatasi diri pada pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak semata dikatakan sebagai orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan dikungkung oleh tradisi yang memperbudak kaum perempuan. Karena terpengaruh standar nilai materi tersebutlah kaum perempuan merasa harus menyerbu sektor publik yang bisa menghasilkan uang secara langsung. Sebagian dari mereka bahkan bekerja hanya untuk mendapatkan gaya hidup mewah yang menurut mereka hanya bisa didapatkan apabila mereka memiliki penghasilan sendiri.

Kemiskinan yang diyakini sebagai pendorong utama wanita mengejar karir pun adalah dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme. Kapitalisme telah gagal menghasilkan kesejahteraan umat manusia termasuk perempuan. Bahkan kapitalisme lah yang telah memberikan nilai kepada perempuan tidak lebih dari sekedar komoditas. Perempuan diesploitasi agar menghasilkan keuntungan materi termasuk dari kemolekan tubuhnya dan daya tarik kewanitaannya.


Pandangan Islam terhadap wanita karir (Reposisi peran wanita, hukum bekerja bagi wanita, solusi yang ditawarkan islam bagi wanita)

Sebelum membahas lebih dalam lagi mengenai pandangan islam terhadap wanita karir ini, perlu kita fahami lagi mengapa harus islam yang memberikan solusi terhadap permasalahan wanita karir ini. Islam merupakan din yang sempurna, yang tidak sekedar sebagai agama, tapi islam memiliki pengertian yaitu din yang diturunkan oleh Allah pada Muhammad SAW untuk seluruh ummat manusia, yang berisi peraturan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Melihat hal ini, kita sudah dapat merasakan betapa sempurnanya Islam. Karena itu Islam diturunkan oleh Allah agar dijadikan sebagai aturan hidup bagi ummat manusia. Islam hadir dalam bentuk pembebanan hukum-hukum syari’at bagi manusia yang akan menuntun manusia agar mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dalam mengarungi kehidupan. Keterikatan kita terhadap hukum Allah juga merupakan konsekuensi keimanan kita kepada Allah SWT. Ketika islam memberikan tatacara permasalahan melalui hukum syari’at, Islam tidak memandang permasalahan tersebut milik siapa, baik laki-laki ataupun perempuan. Islam juga memandang setiap permasalahan apapun semata-mata sebagai permasalahan manusia, mau itu permasalahan ekonomi, politik, sosial atau apapun. Selama permasalahan itu merupakan masalah yang dihadapi manusia, hukum syari’at pasti mampu menyelesaikan. Jadi tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak terikat pada hukum syara’. Sebab islam berasal dari Pencipta manusia yang jelas paling tahu hakikat dari manusia itu sendiri.

Islam memandang bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama. Allah telah menempatkan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan secara adil agar keduanya dapat hidup berdampingan secara harmonis. Islam memandang bahwa perempuan adalah sosok manusia dengan seperangkat potensi yang ada pada dirinya. Sebagaimana laki-laki, perempuan memiliki potensi berupa akal, naluri serta kebutuhan jasmani yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Seiring dengan potensinya itu Allah memberika posisi yang beragam pada laki-laki dan perempuan yaitu sebagai hamba Allah, anggota keluarga dan anggota masyarakat. Nah, yang terlihat perbedaan mendasar ada pada posisi sebagai anggota keluarga, untuk perempuan posisi anggota keluarga yaitu sebagai anak, istri dan ibu. Akan tetapi Allah juga membebankan hak dan kewajiban yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, semata-mata karena tabiat keduanya berbeda, baik berkaitan dengan fungsi, kedudukan, maupun posisi masing-masing dalam masyarakat. Allah telah menjadikan tugas pokok perempuan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga sesuai dengan tabiat keperempuanannya, perempuan telah dikaruniai kemampuan memikul tanggung jawab sebagai ibu seperti hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Kemampuan ini tidak terdapat pada laki-laki (ranah domestik). Namun demikian, adanya perbedaan ini tidak berarti yang satu lebih tinggi dari pada yang lain. Semua ini Allah tetapkan sesuai dengan fitrah manusia, dan perlu diingat bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah hanya ditentukan dari ketakwaan manusia itu sendiri atau seberapa amanah dia dengan tanggung jawab yang telah Allah berikan padanya sebagai laki-laki ataupun perempuan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian”

Allah juga telah membebankan kewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarganya kepada laki-laki karena hal itu berkaitan dengan fungsi laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan kewajiban ini tidak dibebankan kepada perempuan walaupun islam tidak mengharamkan perempuan untuk bekerja. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 32 yang artinya :
“Bagi laki-laki ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bagi wanita juga ada bagian dari yang mereka usahakan”

Oleh karena itu islam tidak melarang wanita untuk bekerja (tetapi bukan berarti bahwa perempuan wajib untuk bekerja), asalkan tidak melalaikan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah tangga serta tidak menyalahi aturan Allah dan Rasulnya dan bukan pekerjaan yang mengeksploitasi sisi keperempuanannya, serta harus memenuhi kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan aktivitas perempuan di luar rumah.

Selain itu, pelaksanaan perempuan dalam memenuhi perannya sebagai anggota masyarakat (ranah publik), sebagaimana seorang laki-laki, perempuan berkewajiban untuk mengurus urusan ummatnya melalui keterlibatannya dalam aktivitas politik. Aktivitas politik disini didefinisikan sebagai aktivitas yang mengurusi ummat bukan aktivitas yang mengupayakan untuk mendapatkan kekuasaan sebesar-besarnya seperti fenomena politik saat ini yang kotor, tetapi perlu disadari bahwa ini merupakan perintah dari Allah dan Rasulnya. Perempuan memiliki hak untuk memilih dan dipilih sebagai anggota Majelis Syura (dalam pemerintahan islam), berkewajiban untuk menasehati dan mengoreksi penguasa, serta berkewajiban untuk terlibat dalam kelompok dakwah atau partai politik islam . Inilah peran dan fungsi perempuan di bidang politik.

Wallahu a'lam

Tulisan LiKa episode 8

tema : feminisme
oleh Nia Kurniati

Bicara soal perempuan, yang ada dibenak kita adalah sesosok manusia yang unik dan diberi perhatian khusus dalam kehidupan. Karena secara fisik dan biologis perempuan berbeda dengan laki-laki, maka terjadi perdebatan yang begitu panjang sepanjang perjalanan hidup manusia mengenai peran dan perlakuan yang semestinya bagi perempuan. Di beberapa peradaban, faktanya perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki, bahkan dianggap makhluk hina. Peradaban yang cukup tua seperti romawi-yunani misalnya, memandang bahwa perempuan adalah manusia kelas dua yang bisa diperlakukan seenaknya oleh kaum laki-laki selayaknya barang bahkan perempuan bebas untuk dihamili. Peradaban hindu pun menganggap bahwa perempuan harus patuh seutuhnya pada laki-laki yang menjadi suaminya diatas kepatuhannya kepada agama, apapun yang menjadi keinginan suaminya, harus dipatuhi oleh perempuan. Peradaban yang lain seperti peradaban masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, mereka memperlakukan perempuan sebagai makhluk yang hina, bila melahirkan bayi perempuan, mereka kubur hidup-hidup. Perempuan pun selayaknya seperti barang pusaka yang bisa diwariskan pada anaknya.

Penindasan dan perlakuan yang menomor-duakan perempuan inilah yang melatarbelakangi pergerakan-pergerakan perempuan dan perkembangan feminisme di seluruh dunia. Perempuan mulai berontak dan mulai memperjuangkan hak-haknya dalam kehidupan. Kesetaraan gender pun menjadi hal yang paling digembor-gemborkan oleh pejuang feminisme ini.
Dalam perkembangannya, feminisme ini terpengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang lebih mendasar seperti liberalisme dan sosialisme, tergantung dimana dan pada sitem apa feminisme ini berkembang. Alhasil, feminisme pun terspesialisasi kedalam 3 jenis yaitu: feminisme liberal, feminisme radikal, dan feminisme sosialis. Walaupun terdapat beberapa perbedaan dari ketiga jenis feminisme ini, namun ketiganya sama-sama mengusung persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspek kehidupan. Dan mereka memprotes sistem kehidupan dalam keluarga yang memposisikan perempuan sebagai ibu rumah tangga yang selayaknya seperti kuli, pekerjaan fisik yang tidak menggunakan rasio, eksploitasi terhadap perempuan dan penekanan perempuan di dalam rumah.

Konsep kesetaraan gender yakni kesetaraan karakteristik sosial antara laki-laki dan perempuan terutama di ruang publik menjadi solusi yang ditawarkan dan diperjuangkan oleh kaum feminis. Bagi mereka, perempuan harus memiliki hak yang sama dalam semua ranah kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, sampai ranah politik.

Selintas solusi ini memberikan kebaikan dan menjamin keadilan pada kehidupan laki-laki dan perempuan. Lalu apa yang terjadi ketika manusia menerapkan kesetaraan gender ini? Faktanya terjadi ketimpangan diberbagai aspek kehidupan. Perempuan merasa berhak untuk berkarir sehingga lebih memilih mengutamakan obsesinya sebagai wanita karir daripada peran dia sebagai ibu dan manager rumah tangga. Akhirnya keutuhan keluarga pun terancam, angka perceraian semakin meningkat tajam, anak menjadi korban, dan bahaya yang lebih besar lagi adalah rusaknya generasi karena minimnya pendidikan orangtua terhadap mereka. Padahal orangtua terutama ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi seorang anak, yang dapat membentuk kepribadian mereka.

Akhirnya kita berpikir ‘bagaimana meletakkan posisi dan peran perempuan dalam kehidupan agar tercipta kehidupan yang baik, tentram dan sejahtera?’ ‘apakah kita akan merujuk pada hasil-hasil pemikiran manusia dalam menciptakan sitem kehidupan?’… sejatinya kita harus memposisikan perempuan pada fitrahnya yakni sebagai makhluk yang diciptakan Allah swt. Allah telah menyempurnakan Islam untuk manusia sebagai pedoman hidup yang harus mereka patuhi seutuhnya. Pengaturan seluruh aspek kehidupan haruslah sesuai dengan syariah Islam sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah. Begitu pula pengaturan terhadap kehidupan perempuan, seluruhnya harus diatur dengan islam.

wallahu a'lam

Monday, April 4, 2011

Pengumuman untuk LiKa episod 7

LiKa episod 7, insyaAllah
kamis, 7 April 2011,
di slasar farmasi lantai 2,
pukul 11.00 - 13.00 WIB
tema : L.I.B.E.R.A.L.I.S.M.E

Pembagian tugasnya
Moderator : Syifa
Notulensi dan Dokumentasi : Dinan

Sebagian bahan kajiannya :

Istilah liberalisme berasal dari bahasa latin yaitu liber yang artinya bebas atau merdeka. Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk moto Revolusi Prancis 1789-kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (liberte, egalite, fraternite) sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern. Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, “prinsip liberalisme yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas-apapun namanya-adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga manusia-yakni otoritas yang akarnya, aturanyya, ukurannya dan ketetapannya ada di luar dirinya”.

Paham liberalism mencakup tiga hal. Pertama, kebebasan berfikir tanpa batas alias free thinking yaitu kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme. Dan ketiga, sikap longgar dan semena-mena dalam beragama, bias dianalogikan dengan keadaan seseorang yang tidak mau dikatakan kafir walaupun dirinya sudah tidak committed lagi pada ajaran agama.

Pada abad ke-15 dan ke-16, liberalism telah dikembangkan oleh para pemikir dan cendikiawan di Inggris (Locke dan Hume), di Prancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman (Lessing dan Kant). Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yang menyukai kebebasan berfikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan oleh Germaine de Stael dalam karyanya, “Consideration sur les principaux evenements de la Revolution francaise (1818)”, kaum liberal menuntut kebebasan individu seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja.

Pemikiran-pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnya kurang lebih sama. Ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Al-Qur’an dan Hadits mesti dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis,dan lainnya. Perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralism dan lainnya. Terdapat ungkapan Binder, “liberalism treats religion as opinion and, therefore tolerates diversity in precisely those realms that traditional belief insist upon without equivocation.” Maka wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa, “Islam and liberalism appear to be in contradiction.”

Satu hal yang menonjol dari kelompok liberal adalah keyakinan mereka atas ideologi kapitalis yang berpangkal pada akidah sekularisme. istilah sekularisme pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906)—masing-masing agama dan negara memiliki otoritas sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja. Jadi, sekularisme intinya adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dari akidah ini lahir ide liberalisme freedom of bilief (kebebasan beragama), freedom of opinion (kebebasan berpendapat), freedom of awnership (kebebasan kepemilikan) dan personal freedom (kebebasan berperilaku/berekspresi), pluralisme, relativitas kebenaran, dan sebagainya. Akidah ini juga memberikan landasan pada demokrasi dan sistem Kapitalisme.

Keyakinan mereka atas sekularisme dengan seluruh pemikiran turunannya itu dapat kita lihat secara jelas dari ungkapan mereka sendiri. Di antara misi Jaringan mereka (JIL) adalah mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut. Di antaranya: mereka mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan plural (pluralisme); meyakini kebebasan beragama; memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Mereka yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan dan bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus—demokrasi. Bagi kelompok liberal, sekularisme sudah menjadi keyakinan (qanâ‘ah) yang mereka yakini kebenarannya. Tampak jelas bahwa mereka telah menjadikan sekularisme dan ideologi Kapitalisme sebagai pijakan. Kenyataan ini sungguh bertolak belakang dengan ciri seorang Muslim. Seorang Muslim sejatinya meyakini kebenaran akidah Islam berikut sistemnya dan menjadikannya sebagai pijakan.

Sumber :

Buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (DR. Syamsuddin Arif)

www.dakwahkampus.com


catatan : Cari dari sumber yang lain juga, ya...

:D

syukron





LiKa episod 6

S.e.k.u.l.e.r.i.s.m.e


Kamis, 31 Maret 2011

@Slasar MIPA lantai 2

Pukul 11.00 – 12.30 WIB


Resume materi:

Sekulerisme merupakan asas tegaknya kapitalisme. Kelahiran mabda ini bermula pada saat kaisar dan raja-raja di Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menghisap darah rakyat. Para pemuka agama waktu itu dijadikan perisai untuk mencapai keinginan mereka. Maka timbullah pergolakan sengit, yang kemudian membawa kebangkitan bagi para filsof dan cendikiawan. Sebagian mereka mengingkari adanya agama secara mutlak. Sedangkan yang lainnya mengakui adanya agama, tetapi menyerukan agar dipisahkan dari kehidupan dunia. Sampai akhirnya pendapat mayoritas dari kalangan filsof dan cendikiawan itu cenderung memilih ide yang memisahkan agama dari kehidupan, yang kemudian menghasilkan usaha pemisahan antara agama dengan negara.


Disepakati pula untuk tidak mempermasalahkan agama, dilihat dari segi apakah diakui atau ditolak. Sebab, focus masalahnya adalah agama itu harus dipisahkan dari kehidupan. Ide ini dianggap sebagai kompromi atau jalan tengah antara pemuka agama yang menghendaki segala sesuatunya harus tunduk kepada mereka (dengan mengatasnamakan agama) dengan para filosof dan cendikiawan yang mengingkari adanya agama dan dominasi para pemuka agama. Jadi, ide sekulerisme ini sama sekali tidak mengingkari adanya agama, tetapi juga tidak memberikan peran dalam kehidupan. Yang mereka lakukan adalah memisahkannya dari kehidupan.


Akidah yang dianut oleh Barat secara keseluruhan adalah sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan. Akidah ini merupakan qiyadah fikriyah yang menjadi landasan bagi setiap pemikiran. Di atas dasar inilah ditentukan setiap arah pemikiran manusia dan arah pandangan hidupnya. Berdasarkan asas ini pula, semua problem kehidupan dipecahkan.


Akidah sekuler ini memisahkan agama dari kehidupan, pada hakekatnya merupakan pengakuan secara tidak langsung akan adanya agama. Mereka mengakui adanya Pencipta alam semesta, manusia, kehidupan, serta mengakui adanya hari Kebangkitan. Sebab, semua itu adalah dasar pokok agama, ditinjau dari keberadaan suatu agama. Dengan pengakuan ini berarti terdapat ide tentang alam semesta, manusia, kehidupan serta apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, sebab mereka tidak menolak eksitensi agama. Namun tatkala ditetapkan bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan, maka pengakuan itu akhirnya hanya sekedar formalitas belaka. Karena sekalipun mereka mengakui eksistensinya, tetapi pada dasarnya mereka menganggap bahwa kehidupan dunia ini tidak ada hubungannya dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Anggapan ini muncul ketika dinyatakan adanya pemisahan agama dari kehidupan, dan bahwasanya agama hanya sekedar hubungan antara individu dengan Penciptanya saja.


Materi tambahan

Bisa dilihat di situs berikut : http://www.scribd.com/doc/24560882/Islam-dan-Sekularisme