Miss World: Representasi Eksploitasi Atau Pemberdayaan Perempuan?

Jumat sore, 20 September 2013, Female HATI ITB mengadakan Bincang Sore Seputar Perempuan di selasar TOKA ITB, mengangkat tema "Miss World: Representasi Ekslpoitasi atau Pemberdayaan Perempuan?"

Diskusi Ilmiah Politik: Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?

Sabtu (20/4/13), di Gedung Alumi Sipil, unit kajian HATI (Harmoni Amal Titian Ilmu) ITB menggelar DIP (Diskusi Ilmiah Politik) yang berjudul "Saat Demokrasi Dipertanyakan, Khilafah Diperjuangkan, Apa Peran Perempuan?"

Diary HATI Edisi 3/2013

Buletin bulanan Female HATI ITB

UU KETENAGALISTRIKAN UNTUK PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN YANG LEBIH BAIK?

Sekitar satu bulan yang lalu DPR kembali mengesahkan UU Ketenagalistrikan (UUK) 2009 melalui sidang pleno pada tanggal 8 September 2009 setelah sebelumnya UU yang serupa yaitu UU No. 20 tahun 2002 ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945.

KEJAYAAN KHILAFAH : SANG KHALIFAH SULAIMAN AL QONUNI

Sejarah Islam mencatat kiprah dan pejuangannya dengan tinta emas sebagai penguasa Muslim tersukses. Di abad ke-16 M, penguasa Kekhalifahan Usmani Turki itu menjadi pemimpin yang sangat penting di dunia - baik di dunia Islam maupun Eropa. Di era kepemimpinannya, Kerajaan Ottoman menjelma sebagai negara adikuasa yang disegani dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

Sunday, March 3, 2013

Tentang Female HATI ITB

Female HATI ITB adalah bagian integral dari unit kajian Harmoni Amal Titian Ilmu (HATI) ITB yang concern membahas isu-isu (masalah) kontemporer seperti pendidikan, perempuan, generasi, serta tidak ketinggalan membahas pula mengenai kebijakan pemerintah terkait ekonomi, sosial, politik, dan lainnya. Tidak hanya itu, Female HATI ITB mempunyai karakteristik menjadikan sudut pandang Islam dala menganalisis masalah yang ada dan menawarkan Islam sebagai solusi segala permasalahan kehidupan.

Female HATI mengangkat tagline Mind Precedes Beauty, karena Female HATI ITB menyadari bahwa pemikiran adalan landasan bangkit atau tidaknya seseorang, karena perilaku seseorang di dalam kehidupan tergantung pada pemahamannya.

"Kami adalah sekelompok nyawa yang memimpikan sebuah dunia yang lebih baik dengan pemikiran dan kajian dari kesadaran menuju pergerakan.
Dan mimpi kami: dari sini, banyak yang kan teradiasi. 
Dari sini, banyak yang kan termotivasi. 
Menuju sebuah kebangkitan berpikir. 
Bermula dari kampus Ganesha menuju revolusi dunia..."

KONTAK 
Facebook: FemaleHati Itb
Twitter: @femaleHATI_ITB
Blogger: http://femaleofhati.blogspot.com/
Sekretariat: Sunken Court E-08 Institut Teknologi Bandung (Jalan Ganesha no. 10)
Kontak Personal: 0857 1976 3262 (Nur Faizatus Sa'idah)

ISLAM PUNYA SOLUSI | ISLAM ADALAH SOLUSI

Unduh

Tuesday, May 15, 2012

RUU KKG ; Kado Manis Perempuan Indonesia

Perempuan layaknya laki-laki ; punya kebutuhan hidup yang sama-sama mesti dipenuhi. Lain dulu, lain sekarang. Generasi ibu kartini konon telah berhasil melepaskan diri dari tali kekang laki-laki. Hak menyampaikan pendapat, hak memperoleh pendidikan, dan kebebasan lainnya layaknya laki-laki yang dulu sangat kontras, sekarang sudah tidak ada. Namun, ternyata, muncul draft RUU KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender). Ada apa ?

 Diskusi mengenai RUU KKG yang hangat di bulan April kemarin dilangsungkan beberapa kali di dalam kampus, diantaranya oleh Annisa GAMAIS dalam forum Annisa Days, forum ITB Fresh Time, dan terakhir dilaksanakan oleh Unit Kajian Islam Ideologis HATI pada forum diktif-nya. Kalangan ini menyimpulkan bahwa RUU KKG bermula dari kaum perempuan barat yang notabene sangat direndahkan oleh kaum laki-laki disana. Mirisnya kasus yang serupa (perendahan martabat perempuan oleh kaum laki-laki) dipaksakan seolah-olah ada di Indonesia. Alhasil, masuklah draft RUU KKG sebagai bahan gugatan kaum perempuan atas ketidaksetaraan kaumnya. Taruhlah RUU KKG ini berkedok manis sebagai alat untuk menyejaterakan kaum wanita. Namun, dibaliknya terdapat kebahayaan yang sistematis bagi kaum perempuan di Indonesia dan seluruh dunia. Misalnya saja definisi kesetaraan gender adalah kondisi dan posisi yang menggambarkan kemitraan yang selaras, serasi, dan seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, kontrol dalam proses pembangunan, dan penikmatan manfaat yang sama dan adil di semua bidang kehidupan (RUU Kesetaraan Gender, pasal 1:2). Hal ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia yang menempatkan berbedanya kalangan perempuan dan laki-laki. Perempuan yang mengusung ide ini menginginkan keadilan yang benar-benar setara, hal ini bisa menyebabkan misalnya perempuan bebas untuk tidak hamil maupun tidak menyusui layaknya laki-laki. Kebahayaan ini berlanjut -semboyan kaum feminis my body my right- kaum perempuan tak perlu arahan laki-laki apakah ia akan mempunyai anak atau tidak, jika kaum laki-laki memaksa mereka bisa dijerat di meja hijau. Disisi lain, tingkat generasi yang akan lahir akan semakin minim, layaknya di jerman yang pertumbuhan penduduknya yang mencapai minus 1,9 (Survei 2004). Kualitas generasi pun semakin menurun, karena atas nama kebebasan, ibu-ibu mereka cenderung menjadi wanita karir.

Sedemikian bahayanya RUU KKG ini sampai-sampai generasi dari segi kuantitas maupun kualitasnya semakin bobrok. Menurut Nilam Wahyu (Kadiv Kajian fHATI), wanita yang pada dasarnya membutuhkan kasih sayang, ingin dianggap eksistensinya, ingin dimuliakan dll. hanya butuh peraturan yang sangat mengerti perempuan. Peraturan itu tidak dibuat oleh laki-laki, tidak juga oleh perempuan, karena toh pada faktanya perempuan di barat yang terjun ke pemerintahan pun tidak menjamin kebebasan dan kesejahteraan; di Amerika yang notabene kebebasan sangat diutamakan, angka perkosaan sangat tinggi, hingga hitungan menit perwanita. Peraturan yang dibutuhkan, yang mengerti wanita adalah peraturan yang datang dari yang Maha Mengetahui. Seperti judul diskusi interaktif yang diangkat hati ; bukan sekedar tolak RUU KKG, Khilafah : Solusi Tuntas Hak-hak Perempuan.

Tuesday, May 1, 2012

Diary HATI Edisi 1 2012/2013



BUKAN SEKEDAR TOLAK RUU KKG, Khilafah Islam : Solusi Bagi Hak-hak Perempuan

Baru-baru ini ,  Rancangan Undang- Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender “digodok” di DPR, padahal draft  RUU KKG sudah ada di kementrian PP dan PA sejak tahun 2010. Besar dugaan kondisi ini diciptakan untuk menghindari resisten dari umat beragama khususnya umat  muslim.  Akhirnya, RUU KKG ini pun sukses menuai pro dan kontra dari kalangan masyarakat.
    Meneg PP-PA, Linda Amalia Sari sangat mendukung RUU ini. Menurutnya, Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender sangat dibutuhkan di negara ini. "Jika undang-undang ini telah disahkan maka penanganan masalah pengarusutamaan gender di Indonesia akan lebih mudah dan bisa dikelola oleh seluruh jajaran mulai dari eksekutif, legislatif dan masyarakat.” Sementara itu, Dr Adian Husaini  (Direktur INSISTS) berkomentar,  “Konsep Tuhan yang dipakai dalam RUU KG ini berpijak pada konsep Tuhan versi Iblis, diakui keberadaan-Nya tetapi utusan dan aturan-aturanNya ditolak atau dilawan. RUU KKG orientasinya hanya pada dunia, sedangkan dimensi akhiratnya dibuang. RUU ini juga dapat merusak tatanan kehidupan berkeluarga yang merupakan instrumen terkecil dalam terciptanya masyarakat berperadaban.”
    Sebetulnya, bagaimana pandangan Islam terkait RUU KKG tersebut?  Dan apakah kita sebagai seorang muslim harus menolaknya?

RUU KKG : Konspirasi Barat dan Bertentangan dengan Islam
    RUU KKG pasal 1:2 menyebutkan "Kesetaraan Gender adalah kondisi dan posisi yang menggambarkan kemitraan yang selaras, serasi, dan seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, kontrol dalam proses pembangunan, dan penikmatan manfaat yang sama dan adil di semua bidang kehidupan.
    Dari pasal tersebut terlihat jelas bahwa pengusung  RUU KKG menginginkan suatu keadilan yang “adil” di sini diartikan sebagai  penyamarataan baik itu peran,tanggung jawab, dan hal semisalnya. Satu  hal yang tidak bisa dilogikakan adalah jika  semua laki-laki dan perempuan  harus sama lalu apa maksud keberadaan laki-laki dan perempuan. Pasti kedua makhluk tersebut dibuat berbeda karena memiliki peran yang khas antara keduanya. Laki-laki dan perempuan tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya. Dan jelas, bahwa Sang Penciptalah yang tahu kadar masing-masing dan tentu itulah yang terbaik bagi makhluk ciptaanya. Inilah realita Negara Indonesia, yang mengadopsi sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, petunjuk Tuhan diabaikan.
    Alasan klasik  munculnya RUU KKG ini seperti yang sering didengungkan oleh kaum feminis adalah bahwa wanita sering mengalami diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya saja hak politik, hak ekonomi, hak sosial ataupun  yang lain wanita selalu dipinggirkan. Mereka mengira ketika jumlah kursi yang diduduki diparlemen minim akan wanita, maka diskriminasi gender akan sangat mudah dilakukan. Sampai akhirnya logika mereka bermain,  salah satunya keterlibatan wanita di pemerintahan minimal 30% agar aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak bias gender. Walhasil ketika mereka berhasil menduduki kursi pemerintahan dengan standar yang mereka buat, tingkat depresi  meningkat dua kali lipat selama 40 tahun terakhir karena beban luar biasa akibat kesulitan menyeimbangkan peran mengurus rumah, merawat anak dan karir (College Eropa Neuropsychopharmacology tahun 2011). Sungguh sangat ironis.
    Sedangkan terkait alasan yuridis   yang melatarbelakangi  adanya RUU KKG ini adalah  karena Indonesia telah meratifikasi CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women), Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita. Mau tidak mau Indonesia harus menurunkannya dalam bentuk Undang-Undang. Sebagai buktinya pada sesi ke -39 Sidang Komite CEDAW PBB pada tanggal 23 Juli- 10 Agustus 2007, meminta pemerintah menuangkan konvensi itu dalam hukum nasional. Sehingga disusunlah RUU KKG itu dengan rujukan dokumen CEDAW, Beijing Platform For Action (BPFA) dan Millenium Developtments Goals (MDGs). Isi bahkan kalimatnya pun tidak jauh dari dokumen-dokumen itu.
    Arah RUU KKG dan perjuangan feminisme secara umum adalah untuk menjadikan keluarnya wanita dari ranah domestik -yang dirasa  ranah tsb sangat rentan penyiksaan- ke ranah publik. Mereka menganggap dengan keluarnya mereka dari peran utama mereka yang  sesungguhnya (peran istri sekaligus ibu -red) dan berlomba-lomba mengejar karir setinggi-tingginya merupakan pandangann yang akan mengangkat derajat wanita. Sebagai konsekuensinya mereka akan meninggalkan tugas utama mereka sebagai sebagai seorang istri maupun ibu yaitu pencetak generasi unggul. Jelas saja akan terjadi ketidaktaatan terhadap aturan Sang Kholik karena terabaikannya ranah yang menjadi tanggungjawabnya yaitu keluarga. Dan jelas sekali ini berhubungan erat dengan ide sekulerisme, yaitu ide yang akan memisahkan adanya peran Tuhan dalam kehidupan.  Dari sini dapat diketahui,  feminisme merupakan senjata yang sangat efektif bagi Barat untuk menjajah negeri-negeri muslim dengan meliberalkan kaum perempuannya. Sehingga kita tahu bahwa ketika RUU KKG telah di”goal”kan maka kehancuran tidak hanya terjadi pada tatanan keluarga saja tetapi rusaknya generasi yang merupakan kerusakan yang sangat global.

Khilafah Islam: Solusi Tuntas Hak-hak Perempuan
    Kita akan melihat betapa Islam sangat memuliakan wanita. Islam mengatur secara proporsional peran perempuan di ranah domestik dan di ranah publik. Di ranah domestik, dia mendapatkan tugas mulia sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Di ranah publik dia bisa berkontribusi tanpa meninggalkan tugasnya di keluarga.
    Ketika  wanita menginginkan hak pendidikan Islam telah memberikan jawabannya melalui hadits berikut:
رَوَاهُ ابْنُ عَبْدُالْبَر طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
    Artinya :
    Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)
    Dari hadits ini kita tahu bahwa menuntut ilmu dalam Islam bukanlah sekedar hak akan tetapi merupakan suatu kewajiban yang jika tidak dilaksanakan akan mendapatkan dosa, dan ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Negara memberikan fasilitas luar biasa untuk dipenuhinya hak dan kewajiban ini. Kemudian dalam bidang politik, Islam juga telah mengatur bagaimana antara wanita dan lelaki mempunyai hak yang sama, sebagaimana dalam QS. At-Taubah:71.  Begitu pula dalam ekonomi, kesejahteraan merupakan hak laki-laki juga perempuan. Dari sana kita tahu bahwa Islam benar-benar agama yang adil baik bagi wanita ataupun bagi pria. Semua telah ditentukan kadarnya secara adil oleh Allah SWT. ketika banyak orang awam yang mengatakan bahwa Islam  adalah agama maskulin maka Allah menghibur kaum wanita dengan QS An-Nisa, [4]: 32
    “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bermohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
    Sebagai seorang muslim, ketika kita tahu bahwa RUU KKG sangat bertentangan dengan Islam maka secara akidah kita pasti akan menolaknya secara tegas. Akan tetapi apakah penolakan terhadap RUU KKG itu sudah cukup? Padahal kita tahu bahwa permasalahan RUU KKG ini bukanlah permasalahan individu. Dan pasti tidak bisa hanya diselesaikan secara individu saja. Yang akan melegalkan RUU ini menjadi UU adalah negara, sehingga kita tahu disini peranan negara sangatlah penting.
    Kemudian di sisi yang lain kita tahu bahwa hanya dengan Islam lah wanita akan mendapatkan keadilan yang hakiki, maka satu-satunya solusi yang harus kita tawarkan adalah Islam yang berisi seperangkat aturan yang lengkap untuk sluruh aspek kehidupan. Semua aturan ini sangat tidak mungkin diterapkan dalam bingkai demokrasi seperti yang diadopsi negara ini. Sistem Islam hanya bisa ditegakkan secara komprehensif dalam bingkai Khilafah Islamiyah.  Ketika syariat islam ditegakkan, tidak hanya kaum hawa saja yang merasa dimuliakan tetapi juga kaum adam.  Dengan demikian, tidak ada cara yang bisa kita lakuakan saat ini kecuali berusaha menegakkan daulah khilafah islamiyah sesuai metode nabi SAW.

Wallahu a'lam bishshowab

Monday, April 9, 2012

Bahan Kajian April ~FemaleHATI~


RUU KKG dan Ancaman Kelangsungan Generasi


Pro Kontra RUU KKG, Sebuah Pengantar

"Kita berharap 2012 RUU sudah disahkan," ujar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP-PA) Linda Amalia Sari kepada pers belum lama ini menyampaikan harapannya mengenai RUU KKG (Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender). Menurutnya , Undang-undang keadilan dan Kesetraraan Gender sangat dibutuhkan di negara ini. "Jika undang-undang ini telah disahkan maka penanganan masalah pengarusutamaan gender di Indonesia akan lebih muda dan bisa dikelola oleh seluruh jajaran mulai dari eksekutif, legislatif dan masyarakat," katanya.

Saat ini, memang, setelah proses yang begitu lama, upaya legislasi konsep kesetaraan gender sudah sampai pembahasan terbuka mengenai RUU KKG di DPR. Tanggal 15 Maret lalu, telah ada pembahasan mengenai isu ini. Komisi VIII DPR mengundang berbagai kelompok umat Islam untuk membahas RUU ini. Kelompok tersebut di antaranya MUI, MHTI, Aisyiyah, dan Muslimat NU. Sayangnya hanya MHTI yang menolak secara tegas mengenai RUU ini, menolak tanpa syarat.

Musdah Mulia (Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah) menekankan perlunya UU yang lebih holistic dalam mengatur dan memastikan kesetaraan gender diseluruh aspek pembangunan dan salah satunya dengan kembali mengevaluasi UU yang sudah ada sebelumnya, “Bukan berarti saya tidak setuju ada UU ini, saya berharap bahwa UU ini mempertimbangkan apa yang digagas sebelumnya,” katanya singkat.

Komnas Perempuan menyatakan bahwa yang perlu diperjuangkan adalah bagaimana UU ini dapat memastikan semua warga negara agar tidak mengalami diskriminasi atas dasar aspek gendernya, dan memiliki akses yang sama, mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi yang sama, serta kesempatan untuk mengontrol dan menikmati semua hasil pembangunan yang sama.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Salimah, sebuah organisasi kewanitaan Muslimah dalam pernyataan sikapnya, menolak RUU Kesetaraan Gender (KG). Hal itu ditegaskan Ketua Umum PP Salimah Nurul Hidayati S.S, MBA usai Diskusi Tematik berjudul Telaah Kritis atas Konsep Kesetaraan Gender, di Kompleks DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan, pada Rabu (08/02/2012).PP Salimah sepakat bahwa paham Kesetaraan Gender sangat merusak karena bisa menghancurkan tatanan keluarga Muslim yang sudah terbangun dengan konsep Islam. Selain itu, paham ini juga berefek besar pada perempuan-perempuan muslim karena bisa membuat mereka tidak bangga lagi akan posisinya sebagai seorang Ibu dan Istri.

Dr Adian Husaini, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), menganggap RUU KG sangat berbahaya.“Konsep Tuhan yang dipakai dalam RUU KG ini berpijak pada konsep Tuhan versi Iblis, diakui keberadaan-Nya tetapi utusan dan aturan-aturanNya ditolak atau dilawan,” kata Adian. Kemudian, tambah Adian, RUU KG orientasinya hanya pada dunia, sedangkan dimensi akhiratnya dibuang. RUU ini juga dapat merusak tatanan kehidupan berkeluarga yang merupakan instrumen terkecil dalam terciptanya masyarakat berperadaban.

“RUU-KKG yang ada dapat merombak struktur kemasyarakatan di Indonesia, baik secara kemasyarakatan adat Indonesia maupun secara , karena proses ajaran KKG wajib dilakukan oleh setiap warga negara kepada anak-anak sejak usia dini dalam keluarga.” Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh Neng Djubaedah dari FH UI dalam diskusi INSIST, Sabu 17 Maret 2012.

Adapun MHTI melihat RUU ini dijiwai semangat menjalankan konvensi-konvensi Internasional, mulai dari DUHAM, CEDAW,BPFA dan MDGs. Meski konvensi-konvensi tersebut terbukti banyak mengarahkan pada kebebasan dari ketaatan pada hukum Allah, tapi masih juga ditempatkan seolah kitab suci yang mutlak harus diwujudkan. Apalagi kampanye KKG menyatakan hambatan terbesar terwujudnya kesetaraan adalah budaya/agama.

Urgensitas UU KKG : Logika Feminis Sekuler

Upaya pengarusutamaan gender telah mengalami proses yang sangat panjang. Untuk mengatasi ketidakadilan gender di berbagai bidang pembangunan, pemerintah telah meratifikasi konvensi ILO No. III dengan UU No. 80 tahun 57 tentang pengupahan yang sama terhadap laki-laki dan perempuan dalam jenis pekerjaan yang sama nilainya, Konvensi ILO No. III tahun 1985 dengan UU No. 21 Th. 1999 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan, Konvensi Hak Politik Perempuan dan Konvensi tentang Penghapusdan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dengan UU. No. 7 tahun 84. Di samping itu, sejak dua dasa warsa lebih pemerintah telah melaksanakan berbagai program pembangunan yang dimulai dari program Women in Divelopment (WID), Women and Divelopment ( WAD), Gender and Divelopment (GAD). Untuk mempercepat terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender, pada tahun 2000 pemerintah Indonesia mengambil satu strategi melalui Inpres No. 9/2000, yakni Pengarusutamaan Gender (PUG) Gender Mainsteaming (GM). Kemudian ditetapkan Keppres RI Nomor 87/ Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) penghapusan ekploitasi seksual komersial anak; Keppres RI Nomor 88/ Tahun 2002 tentang RAN perdagangan perempuan dan anak UU Nomor 23/Tahun 2004 tentang PKDRT; lalu ada Revisi UU Kewarganegaraan menjadi UU Nomor 12/Tahun 2006, yang memungkinkan seorang perempuan Indonesia dapat di rujuk sebagai sumber kewarganegaraan anaknya, maupun mensponsori perpindahan kewarganegaraan suaminya; UU Nomor 21/Tahun 2007 tentang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO); dan Inpres no 03 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang berkeadilan

Kini, upaya PUG sudah sampai pada upaya mensahkan RUU KKG.Kembali mengutip perkataan Linda Gumelar, "Jika undang-undang ini telah disahkan maka penanganan masalah pengarusutamaan gender di Indonesia akan lebih muda dan bisa dikelola oleh seluruh jajaran mulai dari eksekutif, legislatif dan masyarakat," katanya.

Bisa dikatakan, “perjuangan” kaum feminis untuk pengarusutamaan gender tinggal satu langkah lagi untuk sampai pada tahap yang paling penting dalam perjuangan pengarusutamaan gender, yaitu legalisasi RUU KKG menjadi UU KKG. Ketika sudah menjadi UU, maka konsep ini akan memiliki kekauatan yang mengikat terhadap seluruh rakyat Indonesia. Apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang atau persepsi awal para feminis-sekuler dalam upaya “perjuangan” pengarusutamaan gender?

Dalam lampiran Instruksi Prsiden no. 9 tahun 2000 disebutkan bahwa Pengarusutamaan Gender adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional.Sementara yang menjadi tujuannya adalah terselenggaranya perencanaan, penyusunan, pelaksanaan , pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembagunan nasional yang berperspektif gender dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurut Shorwalter, wacana Gender mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan isu Gender (gender discourse). Dimana sebelumnya istilah sex dan gender digunakan secara rancu.

Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Kalau gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Latar belakang penegasan terhadap masalah gender ini karena banyaknya perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin (terutama perempuan).

Menurut Dra. Sri Sundari Sasongko dari BKKBN, terdapat lima jenis bentuk diskriminasi yang sering terjadi yaitu :

a.Stereotip/Citra Baku, yaitu pelabelan terhadap salah satu jenis kelamin yang seringkali bersifat negatif dan pada umumnya menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Misalnya, karena perempuan dianggap ramah, lembut, rapi, maka lebih pantas bekerja sebagai sekretaris, guru Taman Kanak-kanak; kaum perempuan ramah dianggap genit; kaum laki-laki ramah dianggap perayu.

b.Subordinasi/Penomorduaan, yaitu adanya anggapan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih rendah atau dinomorduakan posisinya dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. Contoh: Sejak dulu, perempuan mengurus pekerjaan domestik sehingga perempuan dianggap sebagai “orang rumah” atau “teman yang ada di belakang”.

c. Marginalisasi/Peminggiran, adalah kondisi atau proses peminggiran terhadap salah satu jenis kelamin dari arus/pekerjaan utama yang berakibat kemiskinan. Misalnya, perkembangan teknologi menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang pada umumnya dikerjakan oleh laki laki.

d. Beban Ganda/Double Burden, adalah adanya perlakuan terhadap salah satu jenis kelamin dimana yang bersangkutan bekerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya.

e. Kekerasan/Violence, yaitu suatu serangan terhadap fisik maupun psikologis seseorang, sehingga kekerasan tersebut tidak hanya menyangkut fisik (perkosaan, pemukulan), tetapi juga nonfisik (pelecehan seksual, ancaman, paksaan, yang bisa terjadi di rumah tangga, tempat kerja, tempat-tempat umum.

Jadi inti dari strategi pengarusutamaan gender dan penetapan undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender nantinya bertujuan untuk menimalisir terjadinya kelima bentuk diskriminasi tersebut. Selain itu tujuan dari pemahaman tentang gender ini yaitu agar kita diharapkan tidak lagi mencampuradukkan pengertian kodrat (ciptaan Tuhan) dan non-kodrati (buatan masyarakat yang bisa berubah sepanjang jaman).

Di Indonesia, dianggap masih ada ketidakadilan gender yang menonjol, baik dalam bidang pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, dan keterlibatan dalam politik. Rena Herdiyani, salah seorang aktivis feminis pengusung RUU KG mengungkapkan lahirnya RUU ini dilatarbelakangi persoalan masih banyaknya diskriminasi gender. “Kedudukan dan posisi perempuan masih dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki oleh masyarakat di berbagai bidang kehidupan,” ungkap Rena kepada situshidayatullah.com ini.

Kata Rena, hal ini terjadi karena masih kuatnya nilai-nilai, praktek budaya, sistem sosial dan bentuk lainnya yang patriarkis alias mengutamakan kaum Adam daripada kaum Hawa. Nilai-nilai ini terinternalisasi dalam pikiran dan praktik hidup masyarakat. Rena mencontohkan pembagian hak waris antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, masyarakat seringkali salah menafsirkan mengenai hak waris dalam Islam. Salah penafsiran ini menyebabkan perempuan mendapat perlakuan tidak adil. “Seharusnya, ada pertimbangan-pertimbangan khusus sehingga perempuan juga mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, apalagi misalnya perempuan tersebut adalah kepala keluarga,” jelasnya.

Dalam konsep kesetaraan gender terdapat jargon “my body is my right”. Menurut Rena, my body is my right merupakan hak perempuan atas integritas dan kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Karena, jelas Rena, selama ini kontrol terhadap perempuan ditentukan oleh pasangan, suami, keluarga, masyarakat, bahkan negara. “Perempuan berhak miliki hak otonomi untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan tubuhnya sendiri, misalnya cara berpakaian, hak untuk hamil, melahirkan dan menyusui, penentuan jumlah dan jarak kelahiran anak, memilih alat kontrasepsi, hak seksual dan seksualitas, dan lain-lain,” jelasnya. Selain itu perempuan juga berhak untuk melakukan aborsi tanpa izin dari siapapun, meski perbuatan itu dilakukan akibat dari seks bebas dan berhak untuk tidak mengurus anak.

Kritik terhadap RUU KG

RUU ini memang sepi dari pemberitaan. Padahal, menurut sumber hidayatullah.com, draf RUU KG sudah ada di Kementerian PP dan PA sejak tahun 2010. Besar dugaan kondisi ini sengaja diciptakan agar tidak timbul resistensi umat Islam terhadap draf RUU ini. Apa yang dianggap sebagai ketidakadilan gender di tengah masyarakat Indonesia di mana kemudian perempuan menjadi direndahkan sesungguhnya masih membutuhkan pembuktian, lebih kuat bahwa itu hanyalah sebuah asumsi. Yang jelas, ketidakadilan yang terjadi di Indonesia sesungguhnya bukan hanya terjadi pada kalangan perempuan, namun juga laki-laki. Kemudian, yang juga menjadi hal yang jelas, RUU KKG ini sangat berbahaya bagi kelangsungan generasi bangsa ini, khususnya umat Islam Indonesia dilihat dari berbagai sisi.

Pertama, RUU KKG ini , sebagaimana juga dianalisis oleh Adian Husaini, adalah sebuah proyek liberalisasi. Bagaimana tidak, RUU ini sesungguhnya lahir dari rahim sekulerisme dunia Barat yang dijajakan ke negeri muslim ini, sebagaimana ide yang serupa dipasarkan ke negeri-negeri muslim lainnya. Draf RUU KG dibuat sebagai upaya meratifikasi CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination against Women atau Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita) yang tidak lahir dari masalah bangsa Indonesia, apalagi dalam kehidupan yang diterapkan syariah Islam. Cara pandang Barat sangat kuat dalam RUU KKG ini. Ini adalah bentuk keberhasilan perjuangan feminisme barat. Asal-usulnya semangat perjuangan feminisme adalah dari Barat, bukan dari tradisi Islam. Dipicu oleh pandangan buruk (misogynic) orang Barat terhadap wanita. Buku John Mary Ellmann, Thingking About Women, yang terbit pada tahun 1968 di New York mengungkap pelecehan-pelecehan orang Barat sejak zaman dahulu terhadap wanita. Gereja menuding perempuan sebagai makhluk pembawa sial dan malapetaka (Syamsuddin Arif, Menyikapi Feminisme dan Isu ender). Korban inkuisisi (lembaga yang mengeksekusi para pembangkang Gereja) ternyata banyak dari kalangan wanita. Sejak lama, Barat membenci wanita.

Definisi "gender" dalam RUU ini sudah bertentangan dengan konsep Islam tentang peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. Dalam RUU ini, "Gender" didefinisikan sebagai: "nilai-nilai sosial budaya yang
dianut oleh masyarakat setempat mengenai tugas, peran, tanggung jawab, sikap dan sifat yang dianggap patut bagi perempuan dan laki-laki, yang dapat berubah dari waktu ke waktu. (RUU Kesetaraan Gender, pasal 1:1)

Definisi gender seperti itu adalah sangat keliru. Sebab, menurut konsep Islam, tugas, peran, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki baik dalam keluarga (ruang domestik) maupun di masyarakat (ruang publik)
didasarkan pada wahyu Allah, dan tidak semuanya merupakan produk budaya.Tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah keluarga adalah berdasarkan wahyu (al-Quran dan Sunnah Rasul). Sepanjang sejarah Islam, di belahan dunia mana saja, tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga sudah dipahami, merupakan perkara yang lazim dalam agama Islam (ma'lumun minad din bid-dharurah). Bahwa yang menjadi wali dan saksi dalam pernikahan adalah laki-laki dan bukan perempuan.

"Kesetaraan Gender adalah kondisi dan posisi yang menggambarkan kemitraan yang selaras, serasi, dan seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam akses, partisipasi, kontrol dalam proses pembangunan, dan penikmatan manfaat yang sama dan adil di semua bidang kehidupan. (RUU Kesetaraan Gender, pasal 1:2)." Betapa individualistiknya konsep ini . Laki-laki dan perempuan harus disamakan dalam semua bidang kehidupan. Didefinsikan pula bahwa” diskriminasi berbasis gender adalah segala bentuk diskriminasi yang didasarkan atas jenis kelamin yang dapat mengakibatkan kerugian terutama bagi perempuan.” (RUU Kesetaraan Gender, pasal 1:3)

Hal ini tentu akan tambah menghalangi umat Islam untuk terikat dengan syariat Islam. Sebagai contoh adalah penerapan hukum waris. Islam membagi waris dengan pola 2:1. Jika ada yang terikat dengan syariat dalam hal waris ini, maka akan dikenai hukuman. Begitu pula dalam masalah perwalian, aqiqah, hak pengasuhan, dll. Umat akan semakin jatuh pada sekulerisme. Laki-laki shalat di barisan depan sementara perempuan di bagian belakang akan dianggap sebagai sebuah ketidakadilan. Tidak bolehnya seorang istri untuk keluar rumah tanpa izin suaminya akan dianggap sebagai sebuah pengekangan, bukan lagi ibadah sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah.

Kedua, RUU KKG ini akan semakin mempercepat bangsa ini menuju kehancuran generasi. Setelah sistem pendidikan yang pragmatis mulai dari level dasar hingga pendidikan tinggi, dan sistem media yang tidak –cukup- punya filter, dan kontrol masyarakat yang rendah, kelangsungan generasi semakin terancam dengan hancurnya tatanan keluarga melalui disahkannya RUU ini. Bagaimana tidak, RUU ini mengabaikan peran dan tanggung jawab seorang istri dan ibu di dalam kehidupan rumah tangga.

Ledia bersama fraksi PKS sudah membahas RUU KG. Menurut Ledia, isi RUU tersebut terlalu detil mengatur kehidupan kaum perempuan saja, sama sekali tidak mengaitkan perempuan dengan anak. Sehingga, diasumsikan ada pengabaian terhadap keluarga dan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) misalnya, sudah memberi masukan agar RUU KG ada klausul yang melindungi anak. “Kita ingin mendorong seorang perempuan, tapi anak dan keluarga juga harus terlindungi. Artinya tidak boleh ada pengabaian terhadap pihak lain. Jadi, saya pikir tidak mesti ada undang-undang yang kemudian mengatur perempuan secara khusus,” jelas Ledia.

Seorang wanita yang dengan tekun dan serius menjalankan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga , mendidik anak-anaknya dengan baik, hal ini tidak dikategorikan ke dalam “berpartisipasi dalam pembangunan”.

Sudah bisa ditebak, jika pemerintah bersikukuh dengan penbuatan UU ini, akibatnya akan seperi yang terjadi di dunia Barat, anak-anak akan semakin terlantar, kurang kasih-sayang, perceraian meningkat, tingkat kelahiran rendah, dan beragam disharmonisasi lainnya dalam keluarga. Sebagai satu contoh nyata, di Jerman,
tahun 2004, sebuah survei menunjukkan, pertumbuhan penduduknya minus
1,9. Jadi, bayi yang lahir lebih sedikit dari pada jumlah yang mati. Padahal Rasulullah sangat bangga dengan umatnya yang memiliki keturunan yang banyak.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat. Dalam riwayat yang lain: dengan para nabi di hari kiamat.“ [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa'i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Islam Melindungi Perempuan, Islam Melindungi Generasi

Dalam sejarah kehidupan Islam, di mana diterapkan Islam di tengah masyarakat, tidak pernah ditemukan satu fenomena di mana perempuan menjadi pihak yang disudutkan, begitu pula laki-laki. Justru Islam datang kemudian memuliakan perempuan setelah sebelumnya di masa jahiliyah perempuan menjadi warga kelas sekian. Islam datang untuk memecahkan permasalahn manusia, sejak dulu hingga sekarang. Denagan berbagai perangkat sistemnya, Islam datang untuk menjamin kelangsungan hidup generasi dalam sebuah peradaban.

Islam menggariskan bahwa perempuan –sebagaimana laki-laki- berhak untuk mendapatkan pendidikan. Islam menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap orang. Sehingga Negara berkewajiban menyediakan segala hal yang dibutuhkan agar setiap muslim memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Pada masa kekhilafahan Abbasyiyah di Baghdad, negara menyediakan hadiah bagi siapa saja yang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Sehingga di masa itu, ilmu pengetahuan mengalami puncak perkembangan yang gemilang. Khalifah Munthashir, mendirikan sekolah Al-Munthashiriyyah gratis. Siswa mendapatkan beasiswa pendidikan, kehidupannya dijamin, serta di fasilitasi dengan perpustakaan yang lengkap dengan fasilitas kertas-kertas dan tinta gratis, pemandian dan RS bagi siswa yang sakit. Bahkan pada masa Khalifah Harun Al Rasyid beliau mengambil kebijakan barangsiapa menghafal Qu’an dan gemar menuntut Ilmu, maka ia berhak mendapatkan 1000 Dinar. Lihatlah pula bagaimana para sahabat belajar hadits kepada seorang perempuan mulia, Aisyah.Islam juga menggariskan hak bersuara pada perempuan, mengkoreksi kebijakan penguasa. Masih ingat tentu apa yang dilakukan oleh seorang perempuan ketika mengkritisi kebijakan Khalifah Umar ketika beliau membatasi mahar. Kisah yang mhsyur juga menunjukkan bahwa Khalifah al-Mu’tashim membela kehormatan seorang perempuan dengan mengerahkan pasukan perang! Islam juga menempatkan posisi sebagai seorang istri dan ibu begitu mulia. Dari rahim mereka juga dari sistem pendidikan serta kontrol sosial masyarakatnya lahir pribadi-pribadi mulia yang melahirkan tingginya peradaban.

Itulah sedikit gambaran mengenai bagaimana Islam datang memuliakan perempuan, juga seluruh manusia. Ketika pun ada perbedaan kewajiban antara seorang laki-laki dan perempuan, atau perbedaan kewajiban yang Allah tetapkan berdasarkan jenis kelamin, sungguh itu adalah hanya pembagian tugas, pembagian tugas dari Sang Pencpta yang Maha Mengetahui bahwa masyarakat untuk bisa hidup maka membutuhkan interaksi di anatara komponen yang ada di dalamnya, termasuk komponen laki-laki dan perempuan. Hanya Allah yang Mengetahui bagaimana membangun interaksi itu agar tejadi kehidupan yang harmonis, dengan aturan apa, laki-laki memikul tanggung jawab apa, demikian pula perempuan.

Dengan demikian, jika kita menginginkan kehidupan yang penuh keberkahan yang tidak hanya bisa kita dapatkan di dunia namun jga di akhirat, maka kembalilah pada syariat Islam secara keseluruhan. Jika kita pun ingin menyelamatkan generasi, maka adopsilah Islam sebagai sistem dalam kehidupan. Lebih dari itu, ini adalah sebuah kewajiban hamba kepada Tuhannya.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” ( Thaaha :123-124)

Wallahu a’lam bishshowab.

Sunday, November 27, 2011

Materi LiKa cHapter 10

Mengenal Sifat Dakwah Rasulullah SAW dan Para Sahabat

Adakalanya terbersit didalam benak, bahwa mereka—yaitu para pemikir yang secara individu tumbuh di tengah-tengah umat—yang membangkitkan. Mereka pula yang mewujudkan negara dan masyarakat. Dalam perkara ini, kadang-kadang para Nabi dan kaum reformis dijadikan sebagai argumentasi, bahwa mereka adalah individu yang berhasil membangkitkan umat. Di sini terjadi salah kaprah hingga tergelincir. Sebab, individu—siapapun—dengan karakter individualnya bukanlah institusi, sementara umat secara keseluruhan merupakan institusi, sama halnya dengan negara yang merupakan institusi. Yang dapat mempengaruhi masing-masing institusi itu adalah institusi yang lebih kuat dari keduanya, dengan catatan sama-sama memiliki karakter sebagai sebuah institusi, yang tersusun dari berbagai faktor yang dijalin oleh ikatan yang memang bisa membentuk institusi. Jadi, individu berapapun tingkat kemampuannya, tetap tidak mungkin mampu mempengaruhi sebuah institusi, sekalipun institusi itu sangat lemah. Sebab, yang mampu mempengaruhi institusi hanyalah institusi lagi.

(Taqiyuddin An-nabhani dalam kitabnya Dukhul Mujtama’)

Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kita risalah yang begitu sempurna, yaitu ideologi Islam. Namun sayang, kesempurnaan Islam ini tidak bisa dirasakan saat ini, akibatnya sebutan umat Islam sebagai umat terbaik pun tidak nampak dalam realita. Semua ini diakibatkan oleh jauhnya umat Islam dari penerapan Islam secara komprehensif dalam kehidupan umat Islam. Begitu pula, Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia pun tidak bisa dirasakan saat ini sebagaimana dirasakan dahulu, lagi-lagi ini dikarenakan Islam secara komprehensif tidak diterapkan secara praktis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ya, semua ini diakibakan karena umat Islam tidak menjalankan kewajiban yang sudah dibebankan oleh Allah Sang Pencipta Alam, Manusia, dan Kehidupan. Tidak ada jalan lain untuk kembali menjadi umat terbaik di mata manusia dan di mata Allah tentunya kecuali dengan kembalinya kehidupan Islam yang merupakan rahmat di tengah-tengah manusia. Harus ada persepsi yang sama di tengah masyarakat tentang hal ini, dan dakwah menjadi satu-satunya jalan untuk mengembalikan kehidupan Islam. Namun, dakwah seperti apakah yang bisa mengantarkan umat kembali pada posisinya sebagai umat terbaik? Sifat-sifat dakwah seperti apa yang harus muncul dalam dakwah melanjutkan kehidupan Islam ini?

Kelompok Dakwah Rasulullah SAW dan Para Sahabat

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab: 21)

Sesungguhnya apa yang dihadapi umat Islam saat ini hampir sama dengan apa yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat pada masa awal Islam turun. Dahulu, sebelum Islam turun, peradaban di Makkah dikenal sebagai peradaban jahiliyah yang diliputi oleh kebodohan. Pada masa itu, manusia kebanyakan adalah penyembah berhala, lahirnya anak perempuan adalah sebuah aib sehingga terjadilah penguburan bayi perempuan hidup-hidup, meminum minuman keras adalah kebiasaan, bertransaksi dengan riba adalah biasa, seks bebas juga merupakan hal biasa bahkan seorang perempuan bisa berhubungan suami istri dengan laki-laki manapun dan ketika hamil maka akan diundi siapa yang menjadi ayahnya. Melihat kekacauan yang ada di tengah masyarakat, Rasul kemudian senang untuk menyendiri di Gua Hira sampai akhirnya beliau bertemu dengan pembawa wahyu, malaikat Jibril. Sejak itu, Rasul pun kemudian terus mendapatkan wahyu dari Allah melalui Jibril sampai kemudian Allah sempurnakan menjelang wafatnya Rasululullah SAW.

Pada awal masa dakwahnya, Rasulullah berkeliling mendatangi rumah-rumah di Makkah, sambil mengatakan, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.” Beliau mengajak masyarakat memeluk Islam secara terang-terangan , semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah:

Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan.” (Al-Mudatstsir : 1-2)

Rasul mengajak orang-orang yang tertarik dan siap menerima dakwahnya tanpa melihat usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dan asalnya. Ajakan kepada Islam dilakukan tanpa pilih kasih. Beliau sangat bersemangat membina setiap orang yang memeluk Islam, dengan mengajarkan hukum-hukum agama dan mengajarkan mereka untuk menghafal alQuran. Akhirnya Rasul dan orang-orang yang masuk Islam tersebut membentuk sebuah kelompok dakwah yang siap mengemban dakwah. Jumlah mereka sejak Rasul diutus hingga ada perintah untuk menampakkan dakwah secara terang-terangan adalah 40 orang. Rasulullah mengirim para sahabat yang sudah lebih dahulu masuk Islam dan paham tentang agama Islam, untuk mengajarkan al-Quran kepada orang-orang yang baru memeluk Islam. Beliau mengutus Khabab bin al-‘Arat untuk mengajarkan alQuran kepada Zainab bin al-Khaththab dan Sa’id, suaminya. Dari halaqoh inilah Umar bin Khaththab kemudian masuk Islam.

Masyarakat Makkah merasakan bahwa Muhammad mengajak manusia pada sebuah agama baru. Mereka mengetahui bahwa banyak orang yang masuk Islam. Mereka pun mengetahui bahwa Muhammad membentuk kelompok dakwah bersama para sahabat walau mereka tidak mengetahui dimana orang-orang mukmin ini berkumpul dan siapa saja mereka.

Tidak lama setelah kelompok dakwah Rasul semakin matang dan mendapatkan dukungan kuat dalam dakwahnya yaitu dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muththollib dan Umar bin Khaththab, turunlah kepada Rasul firman Allah :

“Maka sampaikanlah olehmu apa yang telah diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. al-Hijr: 94)

Setelah turun ayat ini, Rasul segera meyerukan perintah Allah ini dengan menampakkan keberadaan kelompok dakwah ini kepada seluruh masyarakat secara terang-terangan. Cara yang dipilih Rasul adalah dengan keluarnya Rasul bersama para sahabat dalam dua kelompok. Masing-masing dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muththollib dan Umar bin Khaththab. Mereka pergi menuju Ka’bah dalam barisan rapi kemudian mengitari Ka’bah. Hal ini adalah sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal oleh bangsa Arab.

Ini berarti Rasulullah dan para sahabat memasuki fase dakwah secara terang-terangan, beralih dari fase sebelumnya yaitu dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sejak saat itu mulai terjadi benturan antara keimanan dan kekufuran di tengah masyarakat. Begitu pula terjadi gesekan antara pemikiran-pemikiran Islam dan pemikiran-pemikiran Kufur. Masa ini dikenal dengan masa interaksi dan perjuangan.

Masa ini adalah masa yang sangat berat karena perlawanan terhadap dakwah semakin terasa karena para petinggi Quraisy mulai merasakan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad dan para sahabat adalah sesuatu yang akan mengancam kekuasaan mereka, sesuatu yang akan mengganti pola hidup masyarakat yang ada dalam kekuasaan mereka. Sebelum kelompok dakwah Rasul memasuki fase interaksi dan perjuangan, sewaktu Muhammad lewat di majelis orang-orang Quraisy, mereka hanya mengatakan, “Inilah Putra ‘Abd al-Muththollib yang mengatakan suatu perkataan dari langit. Hal ini terus berlangsung hingga mereka mulai merasakan bahaya dakwah yang mengancam kedudukan mereka di tengah masyarakat. Mereka berkumpul untuk menentang, memusuhi, dan memerangi Muhammad dengan berbagai tekanan dan mendustakan kenabiannya. Mereka mengatakan, “Sungguh apa yang dilakukan Muhammad itu tidak masuk akal,” “Mengapa Jibril yang panjang lebar berbicara tentang Muhammad tidak menampakkan diri pada umatnya? Mengapa pula Muhammad tidak mampu menghidupkan orang mati dan tidak bisa menjalankan gunung-gunung sehingga Makkah tidak terus-menerus terpenjara di sekelilingnya?”

Mereka telah melakukan penyerangan kepada dakwah Rasul dan para Sahabat. Tiga cara yang paling penting adalah : penganiayaan, propaganda negatif terhadap dakwah Rasul dan para sahabat, dan pemboikotan. Namun, Rasul dan para sahabat tetap gigih dalam dakwahnya, hingga Allah memberikan pertolongan atas keistiqamahan Rasul dan para sahabat yaitu dengan masuk Islamnya sejumlah orang dari suku Khazraj pada musim haji setelah mereka berdialog dengan Rasulullah. Mereka pun kembali ke Madinah menceritakan keislaman mereka kepada kaumnya. Dan berkat utusan dakwah Rasul ke Madinah, yaitu Mushab bin Umair dan As’ad, tersebarlah Islam di Madinah hingga tidak satu rumah pun di perkampungan Bani Aus dan Khazraj kecuali menyebut-nyebut Muhammad di dalamnya. Kemudian penduduk Madinah pun siap untuk menerapkan Islam. Akhirnya berangkatlah sejumlah orang dari Madinah untuk menemui Rasulullah untuk menyatakan kesiapan mereka diatur oleh sistem Islam. Momen yang sangat penting ini disebut sebagai bai’at Aqabah kedua. Setelah Rasul merasa bahwa Madinah memang siap untuk diterapkan islam, akhirnya Rasul memerintahkan kaum muslimin di Makkah untuk hijrah ke Madinah. Kemudian dimulailah kehidupan Islam di Madinah.

Belajar dari Kelompok Dakwah Rasulullah

Demikianlah, apa yang dilakukan oleh Rasul sejak pertama kali beliau diutus bukanlah sekedar menyampaikan Islam sebagai agama ritual, melainkan Rasul menyampaikan Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Rasul mencela sistem kehidupan jahiliyah masa dulu. Begitu pula, dakwah yang Rasul lakukan adalah dakwah berjamaah, dakwah secara berkelompok bersama para sahabat. Dakwah yang Rasul lakukan sudah seharusnya menjadi teladan bagi kita. Sungguh apa yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah hal yang sama dengan apa yang dihadapi oleh Rasullullah dan para sahabat yakni kehidupan jahiliyah di mana masyarakat hidup dengan aturan yang berasal dari manusia yang menyebabkan kesengsaraan manusia. Manusia harus dikeluarkan dari kegelapan ini menuju cahaya Islam.

Apa yang diperlukan saat ini adalah adanya kelompok dakwah seperti kelompok dakwah Rasulullah, yakni kelompok dakwah yang menyerukan kehidupan Islam, kehidupan yang diatur oleh aturan Sang Pencipta alam, manusia, dan kehidupan.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Imron: 104).

Keberadaan kelompok dakwah ini adalah fardhu kifayah bagi umat Islam, dan bergabung di dalamnya pun menjadi fardhu kifayah. Artinya, sepanjang tugas yang dibebankan dalam kewajiban kifayah ini sudah terlaksana, maka gugur bagi yang lain, namun jika belum sempurna pelaksanaan yang dituntut dari fardhu kifayah ini, maka masih menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam. Saat ini, aktivitas amar makruf dan nahi munkar yang paling utama adalah dalam perkara penerapan syari’at Islam secara menyeluruh dalam bentuk Negara Khilafah Islamiyah. Selama kehidupan yang penuh amar makruf nahi munkar ini belum sempurna terealisasi maka adanya kelompok dakwah yang memperjuangkannya menjadi wajib diwujudkan. Pada akhirnya berimplikasi pada hukum bergabung dengan sebuah kelompok dakwah juga menjadi wajib selama tujuan penerapan Islam secara menyeluruh belum tercapai.

Kelompok dakwah ini pun tentu haruslah merujuk kepada perjalanan dakwah Rasul dalam melakukan aktrivitas dakwahnya. Mereka haruslah melakukan aktivitas pembinaan Islam di tengah umat, dan berjuang bersama umat untuk memperoleh kekuasaan untuk menerapkan Islam secara komprehensif dan praktis dalam kehidupan.

Kelompok dakwah ini pun harus mencontoh kegigihan kelompok dakwah Rasul dalam menghadapi setiap bentuk penyerangan terhadap dakwah kelompok mereka. Propaganda negatif yang saat ini gencar dilakukan oleh orang-orang yang membenci Islam, penganiayaan yang juga saat ini terjadi terhadap orang-orang yang memperjuangkan Islam dalam naungan pemerintahan Khilafah Islam, bahkan mungkin pemboikotan terhadap kelompok dakwah harus dihadapi dengan sabar dan tidak memalingkan mereka dari dakwah. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan oleh para pengemban dakwah saat ini bahwa dalam menjalani aktivitas dakwah dan menghadapi kesulitan-kesulitan dakwah, mereka harus fokus dalam aspek menyeru penerapan Islam dan tidak melakukan kekerasan. Orang-orang dalam kelompok dakwah ini harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah untuk dimenangkan dalam dakwah. Allah memiliki kewajiban untuk menolong orang-orang yang menolong agamaNya. Kemenangan atas orang-orang shaleh yang memperjuangkan Islam pun adalah janji Allah. Sungguh Allah Maha Memenuhi Janji.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.(QS. an-Nur : 55)

Apa yang harus dilakukan?

Sungguh, saat ini banyak sekali gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam. Maka kita harus memohon kepada Allah untuk bisa mengetahui mana yang merupakan kelompok yang memperjuangkan Islam, dan mana yang tidak. Jangan pernah takut untuk mencari kelompok Islam dan mempelajari pemikirannya untuk kemudian menentukan dimana akan ditunaikan kewajiban bergabung dalam sebuah jamaah untuk kemudian dibina dan memperjuangkan Islam dengannya. Berikut ini beberapa gerakan yang kemudian bisa dipelajari pemikirannya dan dilihat perjuangannhya : Ikwanul Muslimin, jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir, Hizbullah, Muhammmadiyah, Nahdatul Ulama, Persis, dan lain-lain.

Semoga Allah memberi kita petunjuk untuk menunaikan kewajiban kita dalam memperjuangkan Islam sehingga bisa tegak dalam naungan Khilafah. Semoga Allah berkenan menjadikan kita sebagai bagian yang merealisasikan janji Allah tegaknya Khilafah.

“Di tengah-tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” Setelah itu Beliau diam. (HR Ahmad).